Rabu, 07 Oktober 2015

Duo Kampret Lagi Debat

"Gun." Di tengah keheningan beranda kos, Raka memecah keheningan.
 
"Apa?" Gunadi menjawab singkat. Tatapannya jauh ke langit yang mulai memerah.
 
"Ngomong-ngomong soal undangan ini ...."

"Napa?" Lelaki berwajah tirus itu menghela napas.
Raka membetulkan kacamatanya, "Tulisan ini." Dia tunjukkan kalimat salam dalam huruf alfabet yang tercetak Assalamu'alaikum Wr. Wb. "Yang disingkat bacanya gimana?"

Senin, 21 September 2015

Satu Cinta, Tiga Hati

Andai saja yang mencintaiku kini hanya satu. Sepertinya hari-hariku akan penuh dengan namanya seorang. Pun dengan isi blog ini, akan penuh pujaan terhadap dirinya. Akan penuh dengan senandung pahit manis cinta. Seperti beberapa tahun lalu, ketika seorang yang kucintai pergi ke penjara suci.

Berlembar-lembar serat rindu kutulis di buku catatan. Tengok saja beberapa penggal kalimat yang menurutku paling romantis.

14/13/07 03:28 PM WIB
Alunan rintik hujan menemani suasana hatiku. Percakapan dan pertemuan denganmu adalah hal yang selalu kunantikan. Sayang, aku senang mendengar kabar baikmu. Terima kasih buat pean yang tak pernah lelah menasehatiku dan mendoakanku. Bulir air mata ini mengiringi rintik hujan yang turun adalah rinduku.

Aku membacanya dengan sedikit tersenyum geli. Cinta benar-benar bisa membuat seseorang menjadi begitu "alay" dan lebay. Syukurlah, masa-masa patah hati itu telah terlewati dengan manis. Pun tak ada niat untuk memusnahkannya. Karena bagaimana juga, itu adalah kisah hidup yang indah.

Datang dan pergi. Cinta dan benci. Pertemuan dan perpisahan. Begitulah dunia ini. Semua diciptakan berpasangan. Karenanya semua hal harus kutakar secukupnya. Seperti pesan Nabiku.

Kembali tentang dua hati yang kini mendiami rasaku. Sebelumnya adalah sebuah kemustahilan. Tapi ketika aku berharap ini mimpi, yang ada hanyalah kepahitan secangkir kopi.

Tak bisa lari. Harus kuhadapi. Berusaha berada di tengah-tengah sebaik yang aku bisa. Walau kadang-kadang aku merutuki diri. Kenapa malah condong ke salah satu? Apa aku mempermainkan? Hah, pertanyaan yang terus menghantui.

Penaku, Pena (t)uhan

Penaku bertalu, bukan tuk kau seduh. Lalu kau beri cap. Lalu kau putuskan untuk tetap mengecap atau pergi dengan senyap.

Penaku menari, bukan tuk buatmu gerakkan kaki. Lalu kau gerutui. Atau kau caci maki. Atau kau rutuki. Atau ... kau tempeli puja-puji.

Penaku berlari. Untuk dunia sepi. Tanpa suara, walau di dalamnya musik mengalun indah. Tanpa gerakan, walau di dalamnya orang berlarian.

Penaku ... untuk terjemahkan isi hati. Membuat dunia dan mendapukku sebagai tuhan di dunia itu.

Sebagai tuhan ber-Tuhan. Adalah harus, untuk tetap menjaga kesadaran. Tentang, di sisi mana duniaku dimintai pertanggungjawaban.

AM. Hafs
Singosari 21/9'15

Anda pengunjung ke

Statistikku