Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Jumat, 14 Agustus 2020
Aku Sedang Tercenung
Jumat, 07 Agustus 2020
Sejujurnya, Saya Ini Brengsek
Sebuah tulisan yang membuatku menyadari bahwa saya memang tidak kritis dan pengecut.
Kamis, 16 Januari 2020
Aku Ingin Menulis Lagi dengan Riang Gembira
Dulu, aku bisa menulis apa saja dalam bentuk apa saja sesuka hatiku. Tapi beberapa waktu belakangan, semakin banyak aku membaca, semakin aku merasa tak punya apa-apa untuk ditulis. Mau menulis tentang Islam, sudah banyak yang lebih ahli bermunculan.
Beberapa waktu belakangan, aku juga mulai menjauhi dunia politik. Menjauhi hal-hal viral. Dan mencoba tak memikirkannya sama sekali. Namun, lingkungan seolah menarikku untuk membaca dan menghiraukan mereka.
Penulis di era digital harus selalu update isu terbaru. Berebut pembaca melalui kecepatan unggahan. Membuat tulisan-tulisan yang menarik. Sedangkan aku ... saat ini merasa lelah untuk itu.
Lalu benang takdir membawaku ke dalam pengasuhan seorang Tasaro GK. Melalui Klub Juru Cerita yang dibuatnya, aku dicekoki ilmu baru. Dasar jurnalistik. Aku mengenal hardnews, softnews, belajar lagi tentang 5W+1H. Lalu mengenal yang namanya news feature dan feature.
Ilmu baru itu membawaku pada sudut pandang kepenulisan yang baru. Membawaku pada metode penulisan yang baru. Aku menyebutnya sebuah metode tentang cara menulis suatu kejadian dengan pendekatan humanisme.
Walau begitu, lagi-lagi tanpa praktik, ilmu itu hanya akan menjadi pisau berkarat nan tumpul. Karenanya, aku berniat mengasah lagi dan lagi. Terlebih, aku iri ketika melihat teman-teman yang karir menulisnya seangkatan denganku telah berorbit ke lintasan berbagai media massa.
Yah, semua tahu bahwa masing-masing orang punya lini masanya sendiri. Namun, iri dalam hal kebaikan adalah hal yang dianjurkan. Apalagi di bawah pengasuhan seorang Tasaro aku mendapat secercah sudut pandang. Bahwa menulis tidak harus bertujuan untuk mengubah sudut pandang orang lain, namun kita bisa menulis untuk mewakili mereka yang sepemikiran tapi belum mampu mengungkapkan.
Menulis, sebuah jalan panjang yang terjal. Tanpa tekad dan niat, ia hanya akan menjadi imajinasi yang tak pernah mewujud. Pada titik ini, aku ingat bahwa aku punya mimpi untuk membumikan Al Qur`an. Mengubah kandungan satu ayatnya menjadi satu kisah hikmah. Maka, tak pernah ada kata terlambat untuk sebuah kebajikan. Yang ada hanya sesekali kita butuh mengatur napas, sedikit langkah mundur, untuk sebuah ancang-ancang dan melompat dengan gemilang.
AM. Hafs
Malang, 16 Januari 2020
Senin, 02 Desember 2019
Allah, Maaf Aku Hanya Ingat Engkau saat Susah
Allah, aku sedang tertawa. Menertawai nasib. Dan aku yakin Engkau tahu walau tanpa ku bercerita.
Allah, para alim berkata bahwa di surat At Tin Engkau berfirman bahwa Engkau menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Tapi aku malah sedang merasa menjadi satu produk gagal. Apa barangkali aku ini sebaik-baik produk gagal?
Allah, aku percaya dengan firman-Mu bahwa setiap orang diuji sesuai dengan kemampuannya. Tapi saat ini aku merasa sudah sangat lelah. Meski begitu, aku belum ingin pulang. Karenanya Ya Allah, berilah hamba kekuatan dan jalan keluar terbaik di setiap ujian yang Engkau berikan.
Allah ...
Jumat, 25 Oktober 2019
Menulis, Menunda Kematian
Kadang kala, aku memikirkan bagaimana rasanya mati. Lalu apa yang akan terjadi padaku saat sudah di alam baka nanti? Apakah seperti tengah bermimpi atau malah lebih terasa hidup daripada rasanya hidup di dunia?
Kematian, menurut al-Ghazali adalah suatu hal yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini. Bahkan jarak antara hidup dan mati barangkali hanya hitungan detik. Tergantung seberapa cepat Izrail mencabut nyawa ini.
Namun memang sudah menjadi keumuman, yang dekat seringnya malah terabaikan. Yang jauh malah terngiang tanpa henti. Ah, generalisasi.
Kadangkala, membayangkan kematian dengan gambaran yang pernah kudengar, ketika ruh dicabut seperti dicabutnya kain dari belukar berduri, membuatku begidik ngeri.
Namun, ketika aku ingat bahwa Allah Maha Pengampun, dan Rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa-dosaku, aku seolah siap dipanggil kapan saja.
Kematian, juga disebut sebagai nasihat terbaik. Hanya ... umumnya orang bukanlah pendengar nasihat yang baik. Seringnya butuh momen tertentu sampai seseorang itu bisa menerima sebuah nasihat dengan hati.
Apa pun, kematian sesungguhnya adalah saat dirimu tak lagi diingat oleh orang lain. Bisa karena semasa hidup, lakumu kurang bermanfaat bagi orang lain atau bisa juga karena namamu terlalu buruk untuk dikenang. Maka, menulis kebaikan, ilmu, atau hikmah selain untuk tabungan amal kebajikan, juga agar nama kita tetap bergaung saat jasad telah tiada. Minimal anak keturunan masih bisa membaca 'kita'.
AM. Hafs
Malang, 26 Oktober 2019
#Akukeluargacangkirpena
#nulismawanitisharikeempat
Rabu, 23 Oktober 2019
Cerita Sedih Kala Hujan
"Bila bagimu hujan adalah obat, maka bagiku hujan adalah racun."
Aku pernah menikmati rintik dalam sunyi ditemani lagu-lagu Sheila On 7 yang setahun belakangan beralih ke jalur indie. Mengukir kata demi kata di otakku, menjadi sebuah puisi renungan yang lenyap seketika saat hendak kutuliskan. Seharusnya tadi ketika di luar, aku membawa pensil dan kertas, ujar benakku. Sebuah penyesalan yang sia-sia.
Belakangan, aku merasa hujan itu mimpi buruk. Lebih tepatnya setelah kepergianmu. Hujan yang dulu mengisi kesendirianku, kunikmati dengan syahdu, menjadi berwarna saat kamu di sisiku. Dan ketika kamu pergi, semua warna seolah itu turut kamu bawa lari. Arkais, ketika hujan menyapa rerumputan, dan gemericiknya bersenandung, aku lebih memilih berlindung di dalam selimut, daripada sakit hati mengingatmu.
Arin membaca tulisan di unggahan blog Marwan itu dengan hati yang tidak kalah sakit. Sebenarnya, tidak sampai hati dia harus mengatakan kalimat perpisahan itu. Apalagi di tengah taman, saat hujan. Kalau saja dia tidak berharap hujan akan menyamarkan air matanya. Sebab dia harus terlihat serius dan tegar.
"Kak, sudah waktunya minum obat."
Arin tergagap dan segera menghapus air matanya yang melelah ke pipi tanpa dia sadari.
"Ah, iya. Makasih, Suster."
Andai saja yang memergoki air mata itu ibunya, pasti dia akan dicecar pertanyaan. Di sisa umurnya kini, sebagaimana yang dia minta ke orang tuanya, dia enggan jika harus dirawat di rumah sakit. Dia ingin tinggal di desa yang asri, tenang dan damai. Sehingga dia masih merasa seperti orang pada umumnya. Bukan seperti orang yang tengah menanti ajal karena penyakit leukimia yang dideritanya.
...
Marwan tampil menawan di atas panggung. Puisi patah hatinya yang viral, ia bawakan dengan penuh penghayatan. Banyak yang menebak itu karena pengalaman pribadinya, tapi tidak pernah sekali pun marwan memberi klarifikasi atau semacamnya.
Turun dari panggung, dia dipanggil Toni untuk segera ke mobil.
"Ada apa?"
"Sudah ikut saja, darurat."
"Halah, paling-paling minta traktir lagi kan? Berapa orang?"
"Sudah ikut saja, dan jangan banyak tanya."
Toni berlagak setenang mungkin agar Marwan tidak curiga. Dilajukan Ayla Putihnya menyusuri jalanan yang terik walau mendung sudah mulai berarak. Marwan mengambil satu novel dari tasnya dan mulai sibuk membaca. Toni merasa bersyukur dengan hobi karibnya itu. Kalau saja dia terus mencecarnya dengan pertanyaan, entah bagaimana dia akan menjawab.
Sedari tadi membaca buku, Marwan tak sadar jika sudah hampir sejam di perjalanan.
"Kita mau ke mana ini?"
"Sudah, lanjut saja baca bukumu. Sebentar lagi sampai. Teman-teman juga sudah menunggu."
Marwan mengangkat alis dan bahunya sebelum melanjutkan membaca buku.
...
"Kita sudah sampai."
Marwan melihat rumah lama bercat putih, gaya Belanda. Ada kerumunan orang di bawah tenda yang dipasang di depan pintu masuk. Bendera palang merah tapi berwarna hijau berkibar menempel di sisi pintu gerbang.
"Rumah siapa ini, Ton? Siapa yang meninggal?"
"Ayo masuk! Nanti kamu tahu sendiri."
Di depan pintu menyambut sosok yang begitu dikenalnya. Bapak dan ibuk Arin.
Deg!
Marwan berlari ke dalam rumah. Ada sesosok jenazah berkafan di ruang tengah. Di sampingnya, terduduk sosok lain yang tidak asing. Arin, memakai jilbab dan gamis hitam.
"Arin? Siapa yang meninggal?" Sejenak Marwan tampak lega, yang terbujur di sana bukan seseorang yang walau pernah menyakiti, tapi masih dia cintai.
"Maaf, Kak. Aku Rina. Saudara kembar Kak Arin," katanya sembari memendam isak tangis.
Ditengoknya wajah jenazah yang terbujur itu. Dan memang ... Arin. Seketika Marwan terduduk lemas, kebingungan, dan tak tahu bagaimana menyebut perasaan yang bergolak tak keruan di hatinya.
...
AM. Hafs
Malang, 23 Oktober 2019
#Sayakeluargacangkirpena
#nulismawanitisharikedua
Selasa, 22 Oktober 2019
Mahkota untuk Ibu
Rabu, 07 Agustus 2019
Dendam di Bengkel Tua
AM. Hafs
Malang, 7 Agustus 2019
Selasa, 16 Juli 2019
Ketika Aku Terjatuh dalam Bayangan Hitam
"Pernahkah kamu merasa hidupmu hanya menjadi beban bagi orang lain? Segala hal yang kamu lakukan berakhir sebagai sebuah kesalahan. Dan segala yang kamu usahakan berakhir sebagai kesia-siaan. Aku sering."
Pada titik tertentu, aku merasa keberadaanku sendiri adalah sebuah kesalahan. Terutama bagi orang-orang di sekelilingku. Terlebih ketika kesalahan-kesalahan itu menyakiti orang-orang yang kusayangi dan membekas bagai hantu yang terus membayangi imajiku. Dalam keadaan seperti itu, suara-suara kematian menggema di alam pikiranku. Tawa bahagia orang-orang di sekeliling jasadku membayang seolah-olah mati adalah hal yang bisa kulakukan agar mereka bahagia.
Barangkali tidak ada yang tahu jika kegiatan berpikir untuk bunuh diri adalah rutinitasku, bahkan keluarga dan teman dekatku. Di depan mereka, aku sering bertingkah dan berlagak kuat. Bahkan kegiatan menangis, sebisa mungkin kulakukan saat sendirian.
Jika ada yang bertanya kenapa ada pikiran bunuh diri? Karena ketika aku berbuat satu kesalahan, bayangan kesalahan di masa lalu yang seolah tak pernah bisa kuperbaiki ikut muncul, mencerca pikiranku. Maka, ingatanku pun dipenuhi dengan kenangan kesalahan-kesalahan yang seolah berulang dan tak pernah bisa kuperbaiki.
Sampai saat ini pun, aku kerap melakukan hal yang sama. Lalu, kenapa aku masih bisa bertahan? Jawabnya karena iman.
Aku patut bersyukur, imanku yang tidak seberapa ini tidak pernah berhenti berteriak bahwa kematian bukanlah jalan keluar.
Lalu perlahan, ayat-ayat Al Quran kembali menjadi wirid. Terutama ayat-ayat penguat hati, seperti Al Insyirah, akhir surat Al Baqarah. Lalu aku mulai berdiri lagi, mencoba menjalani, mencoba berubah secepat yang aku bisa.
Apa tidak ada orang yang bisa membantuku? Ada, banyak. Tapi aku takut, ketika melibatkan orang lain, yang terjadi malah aku menyakiti lebih banyak orang.
Ingin mati, ketika iman berada pada puncak ma'rifat, ketika kecintaan dan kerinduan kepada Allah tidak lagi tertahan, barangkali memang sebuah kenikmatan. Namun, mati karena lari, tidak akan pernah menjadi hal yang baik. Hanya saja, aku sering berdoa, ketika aku mati, semoga orang-orang di sekitarku lebih bahagia. Minimal, kebodohanku tidak lagi menyakiti mereka.
AM. Hafs
16-Juli-2019
Selasa, 12 Februari 2019
Kekuasaan, Buku, dan Perang Ideologi
Dua pekan lalu, mataku tertuju pada sebuah giveaway buku yang diadakan oleh @dialektikabook, sebuah toko buku yang ada di kota Makassar. Pada gelaran giveaway yang disebarkan melalui story akun toko buku itu tercantum redaksi kurang lebih seperti ini, “Sebelum dirazia, kami mau bagi-bagi buku.” Aku belum paham pada awalnya, tapi setelah membaca beberapa postingan pegiat literasi yang kuikuti di akun Instagram, barulah aku mengerti. Penyebabnya berasal dari wacana kontroversial Jaksa Agung Muhammad Prasetyo yang hendak merazia buku-buku yang dianggap berisi gagasan komunisme.
Keterkejutanku bertambah tatkala melihat razia tersebut benar terjadi di Kediri dan Padang pada hari Selasa (8/1) seperti diberitakan detik.com. Buku-buku yang dirampas di antaranya berjudul Kronik 65, Anak-anak Revolusi, Jas Merah serta Mengincar Bung Besar.
Perasaan geramku bangkit dan menuntunku pada diskusi panjang lewat daring dengan seorang sahabat yang merupakan pegiat literasi sekaligus anggota TNI AD yang bertugas di Sulawesi. Aku menanyakan pendapatnya tentang razia tersebut. Dia pun mengemukakan, “Razia itu lucu. Apa salahnya buku? Bahkan ada buku tentang presiden yang dianggap berbahaya. Si pemberi perintah itu terkesan berlebihan mencari sensasi dan sepertinya dia butuh banyak baca buku lagi. Ini sudah zaman reformasi, otak dituntut beradaptasi. Maklum saja, masih banyak TNI yang masih kaku dan belum beranjak dari masa orde baru. Di perpustakaan yang baru kubentuk di sini malah aku memajang buku-buku yang katanya berhaluan kiri termasuk pemikiran-pemikiran Karl Marx. Intinya, aku sangat tidak setuju dengan razia itu,” paparnya dengan berapi-api. Dia seolah ingin menegaskan bahwa tidak semua anggota TNI setuju terhadap razia itu. Aku pun sepakat dengan pendapatnya. Meskipun awam hukum, razia yang miskin landasan ini membuatku berpikir bahwa kebebasan berekspresi di negara ini mulai dipertanyakan.
Alih-alih merazia buku, pemerintah seharusnya perlu membuat program pembangunan literasi. Bukan hanya soal mengangkat minat baca, tapi juga berkaitan dengan bagaimana proses kreatif menulis, penerbitan buku, pembangunan ruang-ruang baca, dan peningkatan minat baca masyarakat.
Urgensi pengadaan program pembangunan literasi adalah agar masyarakat punya benteng untuk menghadapi ideologi dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan Pancasila. Sebab kegiatan membaca adalah budaya menelaah, mencari tahu, yang membuat seseorang bisa berlaku kritis dan ilmiah. Terutama dalam menentukan status sebuah informasi. Masyarakat juga akan mempunyai daya untuk melawan sebuah ideologi melalui media yang sama, buku.
Jika melawan buku yang mengandung sebuah ideologi hanya dengan merazia, itu tak ubahnya seperti memotong saluran air yang bocor. Bukan malah kebocoran itu tertutup, namun malah membiarkannya mengalir deras. Bagaimana tidak, semua kegiatan razia yang menimbulkan sensasi itu akan membuka kran penasaran masyarakat. Mereka yang sebelumnya tak tahu judul buku-buku kiri jadi tahu, ditambah dengan mudahnya akses internet, tak menutup kemungkinan jika buku kiri dalam bentuk elektronik sudah tersebar luas di situs-situs tertentu.
Di saat yang sama, ketika masyarakat yang penasaran tadi mulai membaca buku kiri, pemerintah belum banyak memiliki buku-buku yang bisa mematahkan ideologi buku-buku kiri. Bukankah ini sama saja dengan melakukan 'gol bonuh diri'?
Jika tindakan razia itu dianggap benar dan efektif, apakah nanti ketika masyarakat mulai beralih ke ranah buku elektronik, lalu pemerintah menutup akses internet? Tidak mungkin bukan?
Buku selayaknya dibalas dengan buku. Tapi kembali lagi, lebih mendesak pula untuk membangun budaya literasi, dari hulu ke hilir. Dari penulis ke penerbit, dari penerbit ke penjual, dan termasuk bagaimana menyediakan wadah-wadah yang memudahkan akses masyarakat ke buku. Di samping untuk melawan buku-buku yang dianggap terlarang, juga tak kalah mendesak untuk membentuk masyarakat yang anti hoax melalui program pembangunan literasi tersebut. Mirisnya, bukannya memikirkan program perbaikan minat baca dan peningkatan budaya literasi, pemerintah malah membebani para pegiat literasi dengan menaikkan pajak buku. Kebijakan tersebut membuat program kirim buku gratis ke Taman Baca di tanggal tertentu tiap bulannya jadi terlihat sia-sia.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa penting sekali membangun wadah untuk pegiat literasi dan membangun budaya baca melalui media buku. Bukan malah menarik banyak buku yang dianggap berpaham ajaran kiri. Lebih konyol lagi, bila penarikan sebuah buku hanya berdasar pada sampulnya saja. Bukan karena membaca secara utuh. Mengherankan, ketika sebuah buku yang di dalamnya terdapat sebuah sejarah harus ditarik hanya karena diduga memuat ajaran kiri yang belum tentu benar.
Masyarakat Indonesia juga perlu meningkatkan minat baca sebagai bentuk perlawanan terhadap berita 'hoax' yang kian menjamur dan sukar dikenali. Di lain pihak, pemerintah haruslah beranjak dari zaman Orde Baru. Mengingat sekarang bangsa Indonesia berada di zaman Reformasi yang memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk berpendapat.
Perlu juga digaris bawahi, tahun 2016 melalui daftar 'World Most Literate Nations' yang dibuat oleh Central Connecticut State University mengatakan bahwa Indonesia menempati urutan 60 dari 61 negara. Indonesia hanya berdiri di atas Botswana, negara miskin dan kecil di Afrika. Nantinya, bukan hal yang mustahil jika budaya literasi bangsa Indonesia akan semakin mengalami kemunduran bila razia dan pemberangusan buku tetap dibiarkan.
Semoga saja, razia di Kediri dan Padang menjadi yang terakhir di negeri ini, sebab -sekali lagi- literasi negeri ini butuh perbaikan, bukan pemberangusan. Di samping itu, sebagai masyarakat, rasanya tak cukup bila kita hanya mengkritisi pemerintah dan berharap adanya program yang lebih baik untuk dunia literasi negeri ini. Kita yang sadar literasi, melek informasi dan teknologi, serta mempunyai minat baca tinggi, juga harus mulai bergerak. Seperti mendirikan taman baca, melakukan penyuluhan, dan mulai mengenalkan nikmat dan pentingnya membaca pada generasi muda sekaligus memupuk mereka menjadi garda literasi yang mampu memperbaiki negeri ini. Akhirnya, mengutip pendapat Heinrich Heine [sastrawan terkemuka dari Jerman]: 'bila orang membakar buku, akhirnya mereka juga membakar manusia.'
Referensi:
1. Mojok
https://www.google.com/amp/s/mojok.co/mod/esai/empat-hal-yang-harus-aparat-razia-selain-buku-pki/amp/
2. Kompasiana https://www.kompasiana.com/1bichara/5c36f3e7c112fe1a8b6719e9/gagal-paham-razia-buku?page=all
3. Detik.com
https://m.detik.com/news/kolom/d-4386594/razia-buku-memenjarakan-nalar-intelektual
4. Tirto
https://tirto.id/razia-buku-penghinaan-terhadap-ilmu-dan-perlunya-aparat-membaca-dcLf
5. Rappler https://www.rappler.com/indonesia/145605-daftar-kasus-pemberangusan-buku-indonesia
Disusun oleh:
Ammy
Dion OS Umar
Maretha
#katahatiproduction #katahatichallengge
Selasa, 05 Februari 2019
Yang Hitam Kelam pun Masih Bisa Memutih
Minggu, 10 Desember 2017
Anomali Dua Hati
Orang yang paling mungkin menyakitimu adalah yang paling dekat dengan hatimu, disebabkan paling besar kau sandarkan harapan padanya.
Maka kau akan paling sering menangis karenanya. Dan di saat yang sama, dia jugalah penawar terbaikmu. Maka jangan pernah berhenti bicara padanya. Dia adalah sahabat terbaikmu. Dia yang menyimpan kunci hatimu.
Rabu, 04 Oktober 2017
Apa Kabarmu Kini?
Apa kabarmu kini?
Duhai pujangga bisu
Satu purnama telah melangkah
Tidakkah kau resah?
Kalamkalam di dadamu
Kian pudar
Tak selayak harap
di lampau
di ujung bibir manismu
Yang menggema merdu
Hidupmu bertumpuk sembilu
Harga dirimu beranjak layu
Tubuh kurusmu lunglai
Sebab hatimu dihantam caci maki
Jiwamu sendiri
Apa kabarmu kini?
Yang meracau dini hari
Lelap, begitu dalam
Meninggalkan fajar
dan keberkahan
Katamu,
Kau hendak berubah
Katamu,
Kau hendak berjuang
Ah,
Semua hanya bualan
Hidupmu
Kian asu, dari hidupnya asu!
AM. Hafs
Malang, 4 Oktober 2017
Senin, 25 September 2017
Untuk Perempuan yang Tengah Dipeluk Hujan
Rintik berdetak
Di atap-atap
Berderak
Di lembar dedaunan
Berkecipak
Di genang-genang
Rinduku turut menggenang
Lalu menggunung
di batas jarak dan waktu
Di tengah dawai hujan
Terbayang ...
Rintik basahi matamu
Membelai hidung dan bibirmu
Gigilkan jemarimu
Aku mendekap harap
Agar lekaslekas
Jarak terpangkas
Waktu terringkas
Hingga tubuhmu dan tubuhku
Meluruhkan rindu
Dalam temu
Tak berjarak
Tak terhalangi waktu
Sebelum hujan mereda
Sebelum dingin tinggal nama
Dan biarkan aku
Menggantikan rintik
yang selimuti ragamu
tadi ...
AM. Hafs
Sawojajar, 25 September 2007
Kamis, 21 September 2017
Rumah Kesedihan
Apa yang kauharapkan dari lorong-lorong putih yang dipenuhi wara-wiri para dokter dan perawat. Wara-wiri para manusia duka. Entah karena anak, ibu, bapak, atau saudaranya, yang menginap di salah satu kamarnya atau karena ia sendiri.
Beberapa wajah, ada yang sembunyikan lelah dan dukanya dalam lelap di bangku-bangku panjang. Ada yang sibuk membaca buku, tapi lebih banyak yang melamun. Entah melamunkan kemungkinan terburuk, biaya, atau kondisi keluarga di rumah.
Sesekali, kebanyakan dari mereka tersenyum. Tak lain karena kedatangan kunjungan saudara. Meski hanya membawa sebungkus roti dan sekecap doa.
Pemandangan lain yang tak kalah asing di sini, adalah wajah-wajah layu dihiasi tangis dan sedikit isak pilu tertahan. Barangkali baru saja mendapat kabar dari dokter, yang seringkali diawali, "Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin."
Rumah sakit, yang bahagia hanya sedikit. Lebih banyak yang mencoba tabah. Lebih banyak yang tak betah, walau fasilitas semua ada.
Maka, jika kau ingin tahu harganya sehat berkunjunglah ke sini sesekali. Tapi jangan karena sakit. Sebab rumah ini tak mampu menjaminmu keluar dengan selamat.
AM. Hafs
RSU dr Iskak Tulungagung, 21/19/2017
Selasa, 19 September 2017
Bakat Menulis?
Beliau lantas mengikuti makna itu dengan kisah pengalaman nyata tentang banyak hikmah yang seringkali menemani beliau mengarungi kehidupan, semenjak menginjakkan kaki di tanah Al Hikam. Mulai dari perjalanan menulis, karir, sampai dengan jodoh.
Sabtu, 16 September 2017
Angan yang Mewujud
Jumat, 03 Februari 2017
Siapa yang Berhak Diumpat?
Oleh : AM. Hafs
Belum juga usai
amukan hujan semalam
Sungai kehilangan akal sehat
Turut memporandakan
Apa saja
di hadapan
Butuh lebih dari sejam
Hingga keduanya mereda
Pelangi mencoba menghibur
dari balik awan
Berlarian seperti tersibaknya tirai
Malang
Tak ada yang hirau
Tangistangis bersautan
dengan teriakan
Mengiringi langkah-langkah
Kepala kepala resah
Nan kebingungan
"Emak!"
"Bapak!"
Semua sibuk
Mencari kepala sanak keluarga
Yang mungkin masih bernyawa
Sedang di sudut puing lain
Seorang anak meringkuk
Tergugu
Tangisannya begitu pilu
Tengah berandai
"Kenapa aku tak mati bersama kalian."
di hadapan empat bujur
Mayat keluarganya
Hutan gundul di balik desa
Urung tertawa
Tapi juga tak tahu
Hendak mengumpat siapa
Hikmah Dua Puluh Menit
Sudah dua hari ini, Pariono hanya bisa menggeleng kepala di balik meja kerjanya. Sesekali dia mengambil napas panjang. Seakan-akan tak percaya dengan apa yang terjadi.
Kemarin, lelaki tiga puluh tahun itu telat ngantor, tidak banyak, hanya delapan menit. Dia masih bisa tersenyum semringah. Meski juga masih menyimpan keheranan. Sebab tak pernah ia telat sampai begitu lama. Meski kerap tidur seusai subuh. Barangkali karena cuaca yang begitu dingin, membuat tubuhnya menolak untuk keluar dari selimut.
Sedang pagi ini, dia benar-benar tak habis pikir. Melongok ke layar gawainya, sudah pukul 8:42. Segera saja dia melonjak dari kasur tipisnya ke kamar mandi, membasahi tubuh secepat kilat tanpa memakai sabun, berganti pakaian, menuruni tangga, meninggalkan jatah sarapan.
Sampai di gerbang biru tempatnya bekerja, waktu menunjukkan pukul 8:50. Padahal seharusnya kantor travel umroh haji itu buka pukul 8:30. Bersamaan dengan itu, pimpinannya datang memarkir mobil pajero hitam. Keluar dengan berkacak pinggang. Semacam terkena sidak dadakan, bulir-bulir keringat dingin meluncur di dahinya. Prestasinya yang tak pernah telat selama 3 bulan terakhir seolah tak berarti. Hari pertama dari selesainya masa percobaan malah menjadi hari yang paling nahas.
Pariono masih menanti dengan was-was. Menanti keputusan para pimpinan yang sedang berada di ruang meeting. Dua puluh menit jika dibanding dengan tiga bulan kedisiplinannya, harusnya masih bisa menyelamatkan mukanya. Dia kembali mengambil napas panjang dan berharap yang terbaik dengan pasrahnya.
Suara tapak sepatu terdengar menuruni tangga. Beberapa pimpinan menuruni tangga, menuju pintu keluar melewati meja kerja Pariono dengan tatapan dingin. Tamat riwayatku, batinnya.
Tampak orang terakhir yang turun, Pak Nande, pak kepala cabang. Dengan langkah tegap dan tanpa senyum, lelaki paruh baya itu memberikan amplop, gaji bulan ini.
"Tolong tanda tangan di sini, Pak," pintanya.
Dengan gemetar Pariono membubuhkan tanda tangan. Sementara Pak Nande mengambil satu amplop lagi dari tas.
"Dan ini, ada tambahan sebanyak setengah gaji bapak. Mulai besok bapak bisa istirahat di rumah."
Deg, rasanya sesak. Andai Pariono bukan lelaki, mungkin ia sudah menangis sesenggukan. "Ba-baik, terima kasih, Pak."
---
Pukul 17:00 akhirnya, hari yang begitu panjang telah berakhir. Dengan agak lunglai dia meninggalkan kantor. Sembari merutuki diri sendiri.
Sampai di rumah, yang tak jauh dari kantornya, ia termenung di depan tv. Memindah channel tv dengan tatapan kosong.
---
Menjelang tidur, Pariono masih belum juga mampu memaafkan diri sendiri. Tinggal di rumah sendirian, membuatnya bingung, tak ada tempat untuk bercerita. Mau bercerita ke tunangannya pun ia ragu.
Tergolek di kasur, dengan menatap layar hape. Pariono membuka lini masa media sosialnya. Sedikit menghibur, tapi ia tak berani menulis apapun. Hingga akhirnya ia membaca status temannya yang berdagang jagung manis.
Dengan segeri ia menuliskan komentar, bertanya harga kiloan jagung manisnya. Ia bangkit, duduk di atas kasur tipis. Meraih tas dan mengeluarkan amplopnya. Menghitung pundi rupiah yang ia terima tadi. Bersyukur masih diberi pesangon walau setengah gaji.
Setelah menghitung ini dan itu, ia mantap, besok lusa akan berjualan jagung manis rebus keliling. Sebab ia ingat, di gudang ada bekas gerobak bakso bapaknya. Besok pagi akan ia rombak sedikit. Jika memungkinkan, akan ia tambah pemanggang, untuk menambah menu jagung bakar.
Malam ini, ia nampak terlelap dengan lega. Karena seharian sibuk mencerca diri sendiri, ia sampai tak sempat bertanya, kenapa langsung dipecat, bukankah seharusnya ada surat peringatan atau teguran. Ah, tak lagi penting, mungkin berjualan sebagaimana profesi bapaknya dulu memang lebih cocok.
AM. Hafs
Singosari, 3-2-2017
Minggu, 30 Oktober 2016
Penghujung Oktober
Hanya ingin mengisi, agar tak kosobg seperti bulan sembilan. Sebab sekali terlewat tak mungkin bisa kembali. Sepatah, dua kata. Aku akan memaksa otakku bercerita. Tentang apa saja, kecuali pilkada DKI. Sebab terlalu riuh sudah.
.
Aku mulai dari lego ninjago KW, dengan harga bervariasi, dari dua ribu, tiga ribu dan lima ribu rupiah. Jauh bila dibandingkan produk asli yang seharga dua puluh ribu rupiah. Namun tentu saja, ada harga ada kualitas.
Lego KW, detailnya kalau jauh bila dibandingkan yang asli. Namun, dengan keluasaan menata kaki dan tangan, lego KW cukup artistik untuk diolah menjadi model foto. Dipadu padankan dengan mode makro dan beberapa tanaman, maka bisa kita hasilkan foto unik yang 'bercerita.'
Tak lupa, aku bersyukur dengan adanya gawai baru yang tak baru, Oppo Neo 5. Dengan bekal kamera belakang yang 8 Mp, bermain fotografi kian menyenangkan. Dibanding gawai android pertamaku advan e1c yang hanya dibekali kamera 1.3 Mp.
Aku dari kecil suka bermain action figur, menata lego menjadi kota. Dan mulai bermain drama. Ketika kini aku mempunyai alat yang canggih, sayang rasanya bila tak dimanfaatkan. Sekalian juga sebagai ajang mengenang masa lalu.
Oktober tanggal 30. Ini artinya, perjuanganku tinggal sebulan lagi. Sangat berharap, bulan depan aku akan sudah menghalalkan dia yang kini mengisi hati. Yang itu artinya, aku sudah harus menyelesaikan studi Quran yang kini tengah kutekuni.
Akhirnya, waktu bermain dan belajar harus proporsional. Lebihlebih dalam bermain media sosial. Dengan mengambil napas panjang, kuucap basmalah dan kulangitkan harap. Semoga semua lancar, manfaat, sesuai rencana, dan diridhoi Allah.
AM. Hafs
Sgs, 30 Oktober 2016