Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2015

Catatan Kecil


Rinduku tergerus senyummu. Rasaku rapuh, antara ada dan tiada. Sebab resah tunggangi harap. -AM. Hafs

Setelah semua tawa, lalu timbul ragu, getir dan resah di antara rasa; dua hati. Sedang bagiku semua itu inspirasi. - AM. Hafs

Cinta itu lucu. Ada yang tengah saling merindu; menanti pesan. Namun yang tercipta malah kesunyian. -AM. Hafs

Sebagai pembelajar, aku lebih suka dengan kemampuan menulisku yang sekarang. Tapi sebagai pembaca, aku lebih suka 'aku' yang dulu. Enggak terganggu typo, atau teknis tulisan apapun. Yang kutahu, hanya ada dua macam tulisan. Ceritanya jelek atau bagus. -AM. Hafs

Setiap nafas lain yang ditemui adalah hikmah dan inspirasi. Berusaha untuk tak merasa lebih baik dari orang lain. Lalu hidup seperti air. Di gelas ia mampu memenuhi rongga gelas, tapi tidak menjadi gelas. Dan sedang menginginkan untuk jadi cahaya agar mampu memberi sinar wawasan bagi sekitar. Meski sekarang masih bukan apa-apa dan banyak kekurangan. Teringat dawuh guruku kemarin, "Tak perlu ilmu yang banyak. Sedikit yang penting diamalkan. Bisanya alif ya ajarin alif. Soalnya kalau kalian mesti belajar imrithi, jurumiyyah, alfiyah sudah bukan kelasnya. (Maklum, ngaji kampung-santri kalong pula) Dan sedikit itu harus dilaksanakan penuh tanggung jawab juga istiqomah." -AM. Hafs

Duhai para penulis atau calon penulis. Perhatikanlah! Dunia tak cukup luas untuk menyembunyikan identitas tulisan copas. -AM. Hafs

Selamat Pagi, Pujangga pengunyah rindu. Sudahkah luruh, atau masih kau coba buatnya patuh? Ah, Rindu. Dibuang sayang, ditelan susah. -AM. Hafs

Penantian akan bermuaranya cinta, hanyalah sebuah drama yang berjudul Rindu. -AM. Hafs ‪#‎PelukisRindu‬

Sebuah senyum sebelum perpisahan hanyalah nama lain dari kerinduan. Kenapa tak tinggal saja, Cinta? -AM. Hafs

Syukurlah aku dulu mencintainya. Jadi sekarang bisa mengerti betapa sakit ketika cinta tak ditempatkan di tempat yang tepat. AM. Hafs

Tak seperti cinta yang terlalu sering berkisah. Rindu lebih memilih diam di sudut relung terdalam. Menunggu pertemuan di salah satu sudut alam. -AM. Hafs

Tak ada kata terlalu pagi tuk merindu. Karena embun enggan menunggu. Padahal ia penyejuk sendu. -AM. Hafs

Memang, Rindu mudah dimengerti. Namun waktu-waktu yang ia dampingi tahu, betapa sepi yang ia sesap terlalu pedih diresapi. -AM. Hafs

Cinta lebih membutuhkan kepastian daripada kesabaran. Karena cinta tak bisa dinanti tanpa kepastian. Meski rindu meraung di tepi harap. ♥♥ -AM. Hafs

Pagi ini, Rindu duduk bersama embun di jaring laba-laba. Mencoba menangkapi rasa yang mungkin tersesat. Atau tak punya muara. -AM. Hafs

Tidak cukup dikatakan. Harus dirasakan dan diwujudkan dalam perbuatan. Tidak untuk dinanti karena tak pernah tahu di mana kan bermuara : CINTA. -AM. Hafs

SUKUR

"Tong, Nggih, Kyai. Oleh Suket pirang sak iki mau?"

"Namung setunggal, Kyai. Suket e katah ingkang pun garing."

"Tong ...."

"Nggih, Kyai."

"Ojo muni, "namung" isih sukur oleh sa' sak. Sak cilik opo ae nikmat, kudu mbok syukuri. Tanpo pilih-pilih."

"Inggih, Kyai. Insya Allah."

AM. Hafs

Suatu ketika, guruku berpesan, "Perhatikan terus bagaimana kualitas ibadahmu. Jika suatu ketika kamu merasakan begitu nikmatnya ibadah, pada saat itu ... mohonlah sebanyak-banyaknya agar nikmat itu dilanggengkan ke dalam hatimu." ~AM. Hafs

Gemerintik rintik. Mengalun bak tuts piano ditekan cantik, ciamik. Mengapa bosan? Sedang hujan saja tak bosan menyirami angan. Angan tentang renjana di malam sendu. Aku ... masih membingkai wajahmu, Rindu. Di kalbu, utuh dengan selengkung senyummu. -AM. Hafs

Kecewa itu pasti. Tapi jauh lebih baik untuk menata hati. Satu pelajaran yang bisa kuambil. Jangan menuntut penghargaan dari sebuah kebaikan. Namun, jangan sampai lupa memberi panghargaan untuk sebuah kebaikan. -AM. Hafs

PENDEKAR

"Gung, coba tengok hidupmu. Berapa banyak mereka yang masih ban putih suka berkelahi dan ban hitam malah lebih banyak diam," ujarku pada Agung yang masih memegangi pipinya yang lebam. ~AM. Hafs comot dengan perubahan dari tweet @iwan_madari

Dunia ini, adalah bagaimana cara memandangnya. ^^ Yang pasti semua rasa jangan sampai berlebihan. Berimbanglah. smile emotikon ~AM. Hafs

Quote pagi ini, "Kita adalah masing-masing. Tak perlu menjadi satu sama lain hanya untuk berjalan beriringan. " ~AM. Hafs ^^

Ketika diri sendiri mengatakan, "Sepertinya akan gagal." Itu artinya sudah gagal. Gagal membangun kepercayaan diri. ~AM. Hafs

Selamat malam diriku, sang pecandu perhatian! Sudah sekeras apa kamu menarik perhatian Tuhanmu hari ini?

Selamat malam diriku yang tengah risau sebab hilangnya sebuah nama. Apakah di sana terselip risau atas sedikitnya nama Tuhanmu yang kausebut?

Selamat malam diriku. Apakah masih merisaukan mimpi atau bekal mati yang tak mencukupi? -AM. Hafs

Semua dicuri kunang-kunang malam tadi. Di gigil kembar senja kini, yang tertinggal hanya puing-puing kenang. Berserak di antara renung akan sebuah masa, Di mana takdir terasa begitu bengis. Membiarkan tubuh yang ku-aku limbung di antara hujan tangis.

-AM. Hafs



Sekali lagi kuulangi, jangan pernah berhenti belajar menjadi orang baik. Meski dunia memusuhimu karena kebaikan tersebut. Karena pada saatnya nanti, kamu akan dipertemukan dengan banyak orang baik yang membuatmu kuat, berharga dan terharu. Seperti yang kualami hari ini. Berbuat baik agar memperoleh kepercayaan dan imbalan itu tidak sama dengan berbuat baik karena merasa sebagai muslim yang meneledani sosok uswatun chasanah. smile emotikon

Terima kasih kepada orang-orang baik yang kutemui hari ini. Semoga keberkahan hidup senantiasa menyelimuti.


AM. Hafs

Selasa, 10 Februari 2015

Genggam Erat Jemariku

Ketika matamu telah berselimut malam
Cobalah terlelap dan mulai mengembangkan bunga-bunga mimpi
yang di bangunmu terasa menghimpit nadi

Ketika mentari tersenyum
Sambutlah dengan keyakinan hati
Biarkan doa dan langkahmu memangkas jarak terperi

Bila ragu masih saja mengganggu
Cobalah berceloteh padaku
Agar semua sesak itu, mampu menemukan alur alir sendu
Sekali lagi, tutuplah matamu
Dan bayangkan, tanganku menggengam jemarimu erat
Melewati tiap-tiap rintang yang menyekat.

Kamis, 22 Januari 2015

Lagu untukmu, Kekasih

Mata ini sudah akan terpejam ketika bayangmu muncul di langit-langit kamar. Terutama senyum yang setia menghiasi binar di wajahmu. Hingga membuatku bangkit dan menyerah dari lelap. Kuambil gitar dan mulai mengalunkan musik renyah dari band favoritku, Sheila On 7, Percayakan Padaku. Pada lirik yang kunyanyikan, ada harap di mana suatu hari aku akan halal menjadi sandaran mimpimu. Menjadi seseorang yang kamu percayai 'tuk mengiringimu meraih mimpi.

Rabu, 19 November 2014

November, I'll Be A Winner! Coz I am Dreamer!

Wahai lonceng-lonceng pagi. Kuharap esok kau berdentang lebih gigih. Karena malam ini, mimpiku hadir kala terjaga.

Wahai perih-perih masa lalu. Apa yang hendak kutabur? Selain senyum di fajar yang mengabur, nanti. Kau tahu? Tanpamu aku akan tetap menjadi seonggok tubuh yang mudah layu.

Kini kusadari, benarlah cerita bintang-bintang. Mendung hadir agar kita dipertemukan dengan selimut. Sebuah alur yang indah, bagi mereka yang mampu belajar. Karena memang, apa yang kita dapati pada detik ini adalah yang terbaik. Masa lalu cukup dikenang, dan pedihnya cukup menjadi pelajaran. Bahkan sangat boleh ditertawakan, karena memang ada beberapa kebodohan yang kita lakukan pada masa itu.

Sama seperti berlalunya mendung, langit baru dan celoteh bintang riang pasti kan menyambut.
Aku percaya, akan selalu ada alasan untuk tersenyum dan bersyukur, bagi mereka yang mengerti. Dan akan selalu ada alasan untuk mengeluh bagi mereka yang dibudak nafsu. Karena tak ada kepuasan di hatinya.

Sebab itu, di sunyinya pekat malam ini, kulantunkan puja-puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala hikmah dan nikmat yang dianugerahkan. November, lets be a winner! We are fighting dreamer!

AM. Hafs
Malang, 19 Nov 2014

Minggu, 28 September 2014

Kumpulan Status Facebook Tentang Rindu

Apa buruknya rindu? Sedang di tiap sakitnya mampu membuatku kecapkan hamdalah. ~AM. Hafs

Jangan kau tanya tentang cinta, Dinda. Yang kugenggam kini hanya rindu ... dan sebait lirik lagu Letto, "Walau tak kupunya, tapi kupercaya cinta itu indah." ~AM. Hafs

Pujangga itu pembohong ulung. Sajaknya bisa jadi tentang rindu. Tapi apa tahu? Rindu milik siapa? Bisa jadi itu rindu milik kawannya yang menginspirasi atau tetangga, adik? Ah siapapun. Bahkan kerinduan tokek yang tengah menanti pasangannya pun mampu dilukisnya. Seolah dialah yang tengah merindu. Tapi tidak denganku, Dinda. Rindu ini hanya untukmu, bidadari duniaku yang entah kapan kita kan dipertemukan. ~AM. Hafs

Senin, 08 September 2014

Sajak Tentang Senyawa Kimia


Oleh : AM. Hafs

Senyawa Alkil Alkana Alkena
Kemudahan ganda
Setelah hadirnya kesulitan
Air, (H20)
Mendua dengan adilnya, tak seperti lelaki
Ozon, (O3) tiga sekawan
Sehati, saling melindungi
Natrium Clorida (NaCL) Garam,
Satu cinta, Setia
Menyebar keseluruh samudera
Asam Clorida (HCl)
Satu hati satu cinta
Jangan coba dekati, berbahaya
Menyengat para pengkhianat.
Oksigen (O2)
Berdua, menyebar cinta
Pada nafas kehidupan
Asam Sulfat (H2SO4)
Cinta segi enam
Selalu panas, dibakar cemburu
Glukosa (C6H12O6),
Sederhana, pemanis hidup
Layaknya senyum di wajahmu

Malang, 19/12/2013

*Sebagian senyawa yang
masih kukenang dari
pelajaran SMA. Rindu kalian
semua. Jurusan IPA merapat.

Minggu, 23 Februari 2014

Mengenang Keshalehan Ulama

Teringat sekilas kisah Imam Syafi'i
Tentang keluhuran budi
Suatu hari, hatinya tergerak membuat baju
Dengan penjahit dia bertemu
Utarakan maksud saat bertamu
Tak tunggu lama
Upah terbayar ketika persetujuan diterima
Selang waktu berlalu
Baju pun telah berubah
Dari sehelai kain menjadi penutup raga nan indah
Penjahit berkata,"Ya Syafi'i, cobalah, mungkin saja cacat
temani hasil kerja."
"Tak usah," jawabnya, "aku percaya."
Penjahit memaksa
Syafi'i tak berdaya
Dicobanya kain penghias raga
Siapa sangka, siapa kira
Lengan baju panjang sebelah
Sebagaimana normal tingkah manusia
Seharusnya marah
Namun, apa yang ia kata, "Sudahlah tidak mengapa, justru
dari dulu aku menginginkannya."
Penjahit tersenyum lega tak percaya
Begitulah
Sedikit kisah keluhuran budi Ulama di masa islam
berjaya
Mari bercermin bersama.

AM.
Hafs berkisah

Anda pengunjung ke

Statistikku