Tampilkan postingan dengan label Fiksimini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksimini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Oktober 2019

Cerita Sedih Kala Hujan

"Bila bagimu hujan adalah obat, maka bagiku hujan adalah racun."

Aku pernah menikmati rintik dalam sunyi ditemani lagu-lagu Sheila On 7 yang setahun belakangan beralih ke jalur indie. Mengukir kata demi kata di otakku, menjadi sebuah puisi renungan yang lenyap seketika saat hendak kutuliskan. Seharusnya tadi ketika di luar, aku membawa pensil dan kertas, ujar benakku. Sebuah penyesalan yang sia-sia.

Belakangan, aku merasa hujan itu mimpi buruk. Lebih tepatnya setelah kepergianmu. Hujan yang dulu mengisi kesendirianku, kunikmati dengan syahdu, menjadi berwarna saat kamu di sisiku. Dan ketika kamu pergi, semua warna seolah itu turut kamu bawa lari. Arkais, ketika hujan menyapa rerumputan, dan gemericiknya bersenandung, aku lebih memilih berlindung di dalam selimut, daripada sakit hati mengingatmu.

Arin membaca tulisan di unggahan blog Marwan itu dengan hati yang tidak kalah sakit. Sebenarnya, tidak sampai hati dia harus mengatakan kalimat perpisahan itu. Apalagi di tengah taman, saat hujan. Kalau saja dia tidak berharap hujan akan menyamarkan air matanya. Sebab dia harus terlihat serius dan tegar.

"Kak, sudah waktunya minum obat."

Arin tergagap dan segera menghapus air matanya yang melelah ke pipi tanpa dia sadari.

"Ah, iya. Makasih, Suster."

Andai saja yang memergoki air mata itu ibunya, pasti dia akan dicecar pertanyaan. Di sisa umurnya kini, sebagaimana yang dia minta ke orang tuanya, dia enggan jika harus dirawat di rumah sakit. Dia ingin tinggal di desa yang asri, tenang dan damai. Sehingga dia masih merasa seperti orang pada umumnya. Bukan seperti orang yang tengah menanti ajal karena penyakit leukimia yang dideritanya.

...

Marwan tampil menawan di atas panggung. Puisi patah hatinya yang viral, ia bawakan dengan penuh penghayatan. Banyak yang menebak itu karena pengalaman pribadinya, tapi tidak pernah sekali pun marwan memberi klarifikasi atau semacamnya.

Turun dari panggung, dia dipanggil Toni untuk segera ke mobil.

"Ada apa?"

"Sudah ikut saja, darurat."

"Halah, paling-paling minta traktir lagi kan? Berapa orang?"

"Sudah ikut saja, dan jangan banyak tanya."

Toni berlagak setenang mungkin agar Marwan tidak curiga. Dilajukan Ayla Putihnya menyusuri jalanan yang terik walau mendung sudah mulai berarak. Marwan mengambil satu novel dari tasnya dan mulai sibuk membaca. Toni merasa bersyukur dengan hobi karibnya itu. Kalau saja dia terus mencecarnya dengan pertanyaan, entah bagaimana dia akan menjawab.

Sedari tadi membaca buku, Marwan tak sadar jika sudah hampir sejam di perjalanan.

"Kita mau ke mana ini?"

"Sudah, lanjut saja baca bukumu. Sebentar lagi sampai. Teman-teman juga sudah menunggu."

Marwan mengangkat alis dan bahunya sebelum melanjutkan membaca buku.

...

"Kita sudah sampai."

Marwan melihat rumah lama bercat putih, gaya Belanda. Ada kerumunan orang di bawah tenda yang dipasang di depan pintu masuk. Bendera palang merah tapi berwarna hijau berkibar menempel di sisi pintu gerbang.

"Rumah siapa ini, Ton? Siapa yang meninggal?"

"Ayo masuk! Nanti kamu tahu sendiri."

Di depan pintu menyambut sosok yang begitu dikenalnya. Bapak dan ibuk Arin.

Deg!

Marwan berlari ke dalam rumah. Ada sesosok jenazah berkafan di ruang tengah. Di sampingnya, terduduk sosok lain yang tidak asing. Arin, memakai jilbab dan gamis hitam.

"Arin? Siapa yang meninggal?" Sejenak Marwan tampak lega, yang terbujur di sana bukan seseorang yang walau pernah menyakiti, tapi masih dia cintai.

"Maaf, Kak. Aku Rina. Saudara kembar Kak Arin," katanya sembari memendam isak tangis.

Ditengoknya wajah jenazah yang terbujur itu. Dan memang ... Arin. Seketika Marwan terduduk lemas, kebingungan, dan tak tahu bagaimana menyebut perasaan yang bergolak tak keruan di hatinya.
...

AM. Hafs
Malang, 23 Oktober 2019

#Sayakeluargacangkirpena
#nulismawanitisharikedua

Rabu, 07 Oktober 2015

Duo Kampret Lagi Debat

"Gun." Di tengah keheningan beranda kos, Raka memecah keheningan.
 
"Apa?" Gunadi menjawab singkat. Tatapannya jauh ke langit yang mulai memerah.
 
"Ngomong-ngomong soal undangan ini ...."

"Napa?" Lelaki berwajah tirus itu menghela napas.
Raka membetulkan kacamatanya, "Tulisan ini." Dia tunjukkan kalimat salam dalam huruf alfabet yang tercetak Assalamu'alaikum Wr. Wb. "Yang disingkat bacanya gimana?"

Minggu, 20 September 2015

Kisah Cinta Playboy Kompleks

Aku merasa, apabila dirupakan drama korea, sinetron, atau telenovela, cerita hidupku sekarang akan membuat banyak penonton geregetan. Bagaimana tidak. Aku yang pemalas ini bisa punya banyak kekasih. Tak pernah telat makan. Walau pekerjaanku hanya keluyuran.

Tapi semenjak kejadian salah satu kekasihku hamil. hati ini rasanya enggan kembali menjalin cinta. Ada rasa berdosa dan bersalah. Walau untungnya, kekasihku itu pergi jauh bersama anak-anak. Meninggalkanku sendiri. Pun kutinggalkan semua kekasihku.

Setahun sudah berlalu. Aku masih sering merenung sendiri. Diam di rumah dan lebih sibuk bermalas-malasan. Hingga suatu hari salah seorang sahabat datang ke rumah.

Di hadapan sepiring makanan lezat dan semangkok susu, ia bercerita bahwa aku kini tengah menjadi buah bibir banyak wanita pendatang. Mereka bilang aku ini alim dan baik. Hanya karena tak lagi sering berkeliaran. Temanku bercerita sambil tertawa miris dan mungkin juga pedih. Miris karena ia tahu semua baik burukku dan pedih sebab ia bujang lapuk yang belum pernah memiliki kekasih.

Satu-dua minggu belakangan, aku mulai kembali berkeliaran. Sekadar melepas penat. Nongkrong pinggir jalan dengan kawan-kawan. Dan kembali iseng menggodai beberapa perempuan baru di komplek.

Hingga suatu malam minggu, ada gadis manis yang membuatku jatuh hati. Senyum dan kerling matanya ketika kami bersitatap, benar-benar membuat tubuhku bergetar. Hatiku? Jangan tanya. Seperti berlompatan. Dari beberapa kawan aku mengetahui, ia gadis pendatang. Ada di komplek sudah sebulan yang lalu. Tapi jarang menampakkan diri.

Semenjak kejadian itu, aku mengordinir kawan-kawan untuk nongkrong di depan rumah gadis itu. Hampir tiap malam aku bernyanyi di depan rumahnya. Sampai beberapa kali aku diguyur air comberan. Apa suaraku sebegitu falsnya? Aku tak ambil pusing dan tetap gigih bernyanyi untuknya. Lalu tepat di malam ke tujuh belas, di bawah purnama, ia keluar. Membalas nyanyianku.

Diri ini tertegun ketika ia berjalan ke arahku. Dunia tiba-tiba terasa menjadi begitu lambat dan hening. Aku melangkah maju, menyambutnya. Suitan kawan-kawanku tak lagi kuhiraukan.

Kami berdua lantas masuk ke dalam rumah dan bermesra di taman miliknya. Seolah kami sudah mengenal lama, begitu alami dan intim. Percakapan romantis mengalir, sampai-sampai, karena terbawa nafsu tanpa sadar aku telah memeluk erat tubuhnya dan hendak merengkuh bibirnya. Andai saja tak kudengar suara perempuan berdehem. Aku terkejut dan menoleh.

"Ka-kamu ...?"

"Iya, kenapa? Kukira kau akan lupa." Sorot matanya tajam. Gadisku beringsut dari pelukan. Wajahnya memerah. Ia berjalan ke arah perempuan itu. Meninggalkanku dengan keringat yang serasa keluar dari seluruh tubuh. "Apa tak cukup kau lakukan perbuatan bejatmu padaku? Sampai-sampai kau pun hendak menggagahi putrimu sendiri?"

"Pu-putriku sendiri?" Aku menatap gadis itu. Ia menunduk. Tampaknya semua ini telah direncanakannya. Lututku dan gigiku bergetar tanpa terkendali. Seluruh birahiku menciut.
"Tidaaak! Tidak! Tidaak!" Aku berteriak tanpa sadar. Memori kelam di masa lalu tiba-tiba hadir menghunjamku bertubi-tubi dan ...,

"Byur!"

Sekaleng air comberan kembali mengguyurku. Aku terkejut dan mengeluarkan suara-suara tak jelas, "Mreoong! Mreoung."

Berkonyong-konyong kembali ke rumah dengan tubuh menggigil. Menemui majikanku yang kubayangkan telah siap dengan sehelai handuk hangat, sepiring makanan lezat, dan semangkok susu pembentuk tulang kuat.

AM. Hafs
Singosari, 20-9-2015

AM. Hafs

Jumat, 18 September 2015

Jidat Penjual Sunnah

Entah kenapa, Hasbi melihat dahi-dahi mereka dengan tatapan lurus tanpa kedip. Bahkan mengikuti gerak mereka hingga menghilang dari balik pintu.
.
"Hasbi?" Aku mencoba mengalihkan perhatiannya, yang terpaku ke arah pintu keluar.
.
Hanya isyarat telapak tangan yang kuterima darinya. Aku lantas melanjutkan makan siang, begitu juga lelaki paruh baya itu.
.
Seusai makan siang, sewaktu berjalan kembali ke pasar, aku bertanya, "Kenapa tatapanmu tadi?"
.
"Entah ...."
.
"Maksudmu entah?" Dahiku berkerut, "memang apa yang kali ini kau lihat?" kejarku.
.
"Penjual Sunnah."
.
"Di dahi mereka?"
.
"Iya ...." Dia lalu mengangkat bahunya dan berujar, "Tak perlu diseriusi."
.
Aku hanya menggaruk kepala. Bagaimana tak kutanggapi serius, sedang aku tahu siapa yang ia tatap. Salah seorang tetanggaku yang kerap kali menulis hadits-hadits di skun facebooknya.  Hadits tanpa matan, tanpa perawi. Hanya ada tulisan berawal sabda Rasulullah dan diakhiri bagikanlah agar mendapat pahala. Yang lebih parah lagi, tetangga itu tiap malam minggu bermain kartu denganku di pos ronda. Tak jarang sampai hilang subuh.
.
Mengingat semua itu, keringatku menderas. Dengan sedikit ragu aku bertanya, "Rin?"
.
"Iya?"
.
"Apa yang kau lihat dijidatku?"
.
"Sama sepertiku."
.
"Ahli surga?" Senyumku melebar. Mengingat ia adalah seorang lulusan pesantren yang terkenal sholeh. Tak pernah absen mengimami sholat lima waktu di masjid. Kecuali jika ada udzur syar'i.
.
"Bukan," jawabnya ringan.
.
"Eh? Lalu?"
.
"Ahli Neraka."
.
Tiba-tiba pandangku berkunang-kunang dan ... gelap. Sebelum kemudian terbangun dengan kondisi tergeletak di serambi masjid.
.
(Dikembangkan dari sebuah kisah sufi di masa lalu.)
AM. Hafs
Sgs, 18915

Rabu, 25 Februari 2015

Kumpulan Fiksimini

Tak Ada Salju

Bocah-bocah menyerbu sawah yang baru dibajak. Muka Pak Tani terhantam sebuah bola lumpur. Dia tersenyum penuh kemenangan.

---

Salah Buku

“Sini Mama bacakan cerita pengantar tidur.”
Dani dan Doni berebut pangkuan. Setengah jam berlalu. Ketiganya terpingkal ketika Ayah pulang.

---

Kembar

"Mau mancing di mana enaknya, No?"

"Di kali sebelah?"

"Okelah kita kemon!"

Mereka berdua masih terlelap.

---

Horeee

Andi bersorak-soraii sambil mengangkat Piala. Sementara sang kakak masih membetulkan kaki buatannya. Begitu juga peserta lain.

---

Bingung

Taufik masih memandangi Pialanya dari balik lubang kunci. Kemudian melangkah pergi dengan segenggam piagam dari sekolah.

---

PENGUMUMAN

"Pintu tobat akan ditutup setahun lagi." Matahari mulai melakukan pengereman.

---

Janji Palsu

"Kau bilang akan menemuiku di surga."

"Maaf, aku terlena ujian dunia."

---

Patah Hati

Budi masih termangu melihat kelincinya berwajah sayu.
"Sudahlah, Ci. Ikhlasin aja. Mungkin dia bukan jodohmu."

---
Banyak Teman

"Horeee. Mari kita bersulang, Sob!" Setan bersuka cita merayakan kematian lampu di Taman Kota.

---
Terharu

Semua penonton bermata sembab. Sekumpulan bocah tuna rungu masih berpantomim di atas tumpukan mobil bekas.
---

AM. Hafs

Malang, 25/02/2015

Rabu, 18 Februari 2015

Apa Perlunya Menghindari Tiga Perkataan Ini?

Dalam memanage diri, terutama untuk menjadi insan dengan tingkat ketaqwaan yang lebih baik, seyogya kita menghindari tiga perkataan berikut. Apa saja? Check it out!

1. Sekali ini aja!
 
    Ketika sedang berjalan di gang sempit kampungnya, Andi melihat temannya tengah asyik menenggak minuman keras. Seketika itu pula Andi terperanjat, "Astaghfirullah! Den! Gila, Lu? Sejak kapan Lu jadi kayak gini?"

"Halah, sekali ini aja, cuma pengen tahu rasanya."

Selasa, 10 Februari 2015

Hal-hal Sederhana yang Membahagiakan Hati (1)

Banyak yang menjelaskan bahwa bahagia itu sederhana, tapi banyak pula yang belum memahami. beberapa hal di bawah ini, mungkin mampu membawa anda kepada hikmah kebahagiaan.

1. Nikmatnya beristirahat

Sepulang sekolah, tubuhmu yang lelah sudah tak sabar untuk merebah di kamar. Tak kamu sangka, ternyata sprei yang membalut tempat tidurmu baru saja selesai dicuci. Kamu pun merebah dengan menghirup aroma terapi yang menyelimuti. Hingga akhirnya kamu terlelap dengan senyum yang mengembang.

2. Tak Jadi Sial

Hujan deras yang mengguyur semalam, membuat daratan di linkunganmu tergenangi air. Kamu yang terburu-buru mengejar Bus Sekolah, tak sempat memerhatikan sisi jalan yang becek. Kamu terkejut, hingga jantungmu berdetak lebih cepat karena kakimu terpeleset. Untung saja, tubuhmu masih seimbang. Sehingga tetap berdiri tegak. dan lumpur tersebut hanya membuat sepatu sedikit kotor. Kamu pun kembali berlari dengan senyum syukur.

Iklan Menyentuh Thailand

Seorang pemuda paruh baya terguyur air buangan dari atap rumah, ketika tengah berjalan menuju tempat kerja. Bukannya marah atau kesal, dia malah tersenyum. Diletakkannya sebuah pot berisi tanaman yang hampi mati kekeringan, di tempat jatuhnya air tersebut.

Sampai di penyeberangan, dia membantu seorang nenek tua yang tengah mendorong gerobak untuk berjualan. Ketika tengah makan siang, dia dihampiri oleh seekor anjing liar. Dengan senyum yang khas, tanggannya mengulurkan sepotong paha ayam bakar untuk anjing tersebut. Si penjual pun hanya menggelengkan kepala melihat hal tersebut.

Di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang ibu dan anak. Mereka pengemis, di tangan anak perempuan itu, terdapat gelas plastik bertuliskan for education. Dengan cekatan jemarinya mengambil dompet, dan memberikan dua lembar uang kepada si anak. Uang dua lembar yang Tanpa berpikir, apakah tulisan itu hanya sekadar modus belaka agar memperoleh pendapatan lebih tinggi. Kejadian tersebut dilihat oleh seorang kakek tua penjual pemilik toko jam. Dia juga menatap dengan menggelengkan kepala.

Sabtu, 31 Januari 2015

Bangun, Cantik

Dia masih terlelap dengan cantik. Sepertinya masih kelelahan. Karena biasanya, ia sudah bangun sebelum azan subuh berkumandang.

Lamat-lamat kupandangi kecantikannya dengan kagum. Sungguh beruntung memilikinya. Semoga saja dia juga merasa beruntung memilikiku yang penuh kekurangan ini. Dengan lembut jemariku menyentuh pipinya. Lalu menepuk pelan untuk membangkitkan ia dari lelapnya.

"Dek, bangun. Sudah subuh."

Ia hanya menggeliat, imut sekali.

"Dek, bangun, Sudah subuh. Ntar kesiangan lo. Katanya semalem pengen jamaah."

Kamis, 22 Januari 2015

Hujan Kenangan (Fiksimini)

Pada hujan yang bersinergi dengan kenang. Ingatkah, waktu setahun yang lalu kau buat aku dan dia berteduh di payung yang sama? Selama langkah menerkam jarak dari mini market ke rumah, aku hanya tertunduk malu. Sesekali melirik wajahnya dengan senyum merah jambu.Saat itu adalah hari halal keduaku dengannya, Bidadari Bumi. 

Aneh rasanya ketika di antara aku dan dia masih terselip jarak. Padahal andai kugenggam erat jemarinya, takkan ada dosa. Mungkin waktu itu ia pikir aku malu. Bukan, sebenarnya aku tengah membawa Al-Quran di saku baju.

Selasa, 13 Januari 2015

Sholeh dan Cita-Cita Santrinya

“Siapa yang sudah niat dari rumah? Tunjuk tangan!” tanya Ustadz Sholeh pada santri-santrinya setelah membaca doa pembuka.

Hanya dua orang yang menunjuk tangan, dari sepuluh anak yang hadir.

“Kalian ini gimana? Udah berkali-kali diingatkan, masih saja sering lupa. Sekarang hari Jumat, kalian ingat waktunya apa?”

Hening, “Hafalan juz ‘amma, Mas.” Hanya Firman yang menyahut.

“Oke, waktunya hafalan. Siapa yang tadi sore belajar?”

Selasa, 06 Januari 2015

Ular (Fiksimini)

Gerah, penumpang berjubel di dalam angkutan umum. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana pun hening. Hanya deru mesin yang mengiring.

Tiba-tiba kakiku terasa seperti dipatuk sesuatu. Reflek, aku berteriak sembari mengangkat kaki, "Ulaaar!"

Mendengar teriakanku, pak sopir menghentikan laju kendaraan. Kebanyakan penumpang turut mengangkat kaki. Suasana menjadi gaduh. Kecuali seorang penumpang di sampingku yang tetap tenang.

"Ada apa, Bu?" tanya Pak Sopir.

Kamis, 25 Desember 2014

Hafalan Surat Si Evi

"Aduh, sulit, Mas." Evi mengeluh menatap ayat panjang yang harus dihafal. Dan setiap kali itu pula, aku harus memotivasinya. Menunjukkan kembali berlembar-lembar ayat yang telah dihafalnya. Lalu membandingkannya dengan ayat yang kini tengah ia hadapi.
"Coba lihat, jumlah ayat yang sudah kamu hafal dengan ayat ini banyakan mana?"
"Banyakan ini, Mas," jawabnya dengan sedikit lesu.
"Nah, masih merasa sulit?"

Selasa, 16 Desember 2014

Sholeh dan Santrinya (Mencium Cewek?)

Seperti biasa, di hari Rabu, setelah magrib aku mengajarkan kaligrafi pada ashhabul gubug junior (sebutan untuk santri Si Sholeh). Setelah itu, kami bersholawat bersama, dengan syi'ir hasil gubahanku. Mau tahu seperti apa sholawatnya? Seperti ini,

Sholaatulloh salaamulloh
'Ala thoha Rosuulillah
Sholaatulloh salaamulloh
'Ala yaasiin habibillah

Anak sholeh rajin mengaji
Tingkah lakunya sopan terpuji
Anak sholeh tak suka menyakiti
Rajin ibadah suka memberi

Selasa, 09 Desember 2014

Rahasia Rejeki

Waktu itu, aku tengah berada di majlis ilmu. Duduk bersama rekan sejawat untuk mengalunkan sholawat, atas Rasulullah Sang Penyampai Rahmat. Menjelang acara dimulai, seekor belalang terbang ke sampingku. Sedang di dinding gubug, yang terbuat dari anyaman bambu, di sebelah kanan, seekor tokek tengan jalan-jalan mencari mangsa.
Dalam keadaan seperti itu, aku berinisiatif melempar belalang tadi ke arah Tokek. Belalang pun terbang terpaksa dan akhirnya hinggap pas di depan hewan loreng itu. Namun malang nasibnya, ketika hendak menerkam, belalang sanggup menghindar. Dan terbang ke dinding seberang. Melihat hal tersebut, aku berujar, "Belum rejekinya."

Jumat, 05 Desember 2014

Pengaruh Orang Tua Terhadap Salat Si Anak

Aku salut pada perkembangan sikap David. Bagaimana balita bisa menjalankan salat lima waktu dengan lengkap. Meski terkadang ada rasa malas yang muncul di dirinya, namun tak butuh dua kali perintah untuk membuatnya mendirikan sholat. Bahkan tak jarang pula, dia yang mendahului dengan bertanya, "Bu, sekarang salatnya berapa kali?" yang maksudnya berapa rakaat.

Semua tak lepas dari didikan orang tua dan lingkungannya. Di rumah ini semua orang terdekatnya mengerjakan sholat. Sehingga, ketika dia tidak mendirikan salat, ada perasaan malu yang muncul.
Hal itu juga menjadi pembuktian, sebuah teladan lebih dahsyat dari kata-kata.

Di sudut rumah yang lain pernah kutemukan, bagaimana sulitnya menyadarkan seorang anak bahwa salat lebih dari kewajiban.

Hari Jumat adalah jadwalku mengisi musala di samping rumah. Ada sekitar 15 anak dan remaja yang tiap sesudah magrib hadir menuntut ilmu.

Hari itu, kuceritakan tentang pengetahuan salat. Terutama bagi mereka yang telah remaja. Pada kesempatan itu, aku bertanya pada seorang anak kelas 7 SMP, "Sehari salat berapa kali?"

Dia tersenyum, cengar-cengir sebelum akhirnya menjawab, "Dua kali, Mas."

"Magrib Isya saja?" Aku mencoba menebak.

"Hehe, iya."

"Duhur enggak?" dia hanya tersenyum, "pulang sekolah jam berapa?"

"Jam 1, Mas."

"Langsung kemana? Maen?"

Dia menunduk dengan senyum malu-malu.

"Salat dulu to, Le. Baru maen. Sudah kelas tujuh lo kamu. Coba mulai besok salat, ya?"

"Hehe, malu, Mas?" Jawabnya sambil menggaruk kepala.

"Lho, kok malu?" Aku heran.

"Orang tuanya gak ada yang salat, Mas." Seorang anak yang masih sepupunya menyahut.

"Eh?" Aku terdiam. "Yawes, kalau malu salat di rumah, coba kalau sekolah bawa sarung. Di sekolahmu ada musala kan? Pulang sekolah mampir dulu ke situ, salat. Jangan lupa juga doakan orang tuamu. Kasihan, Le. Mulai besok sanggup ya? Jumat depan kucek lagi."

Begitulah, yang satu malu ketika tidak mendirikan salat. Satunya lagi sebaliknya. Semoga bisa diambil hikmahnya.

AM. Hafs
Malang, 05 Desember 2014

Minggu, 23 November 2014

Alasan Wudhu Sebelum Tidur

"Man, kalo udah ngantuk tidur aja."

"Bentar nih, Gus, tanggung."

"Mata udah merah masih juga maksa."

Maman hanya diam, fokus tingkat tinggi ke layar laptop. Persiapan presentasi besok pagi, katanya. Aku bangkit dari kamar tidur, menuju kamar mandi. Sekembalinya dari kamar mandi, Maman bertanya, "Abis ngapain?"

Rabu, 22 Oktober 2014

Cinta itu Menggelikan

"Kamu tahu apa itu perdu?"
Pandanganmu terpenjara buku tugas. Kamu sibakkan sehelai rambut yang meluncur ke depan wajah khas oriental itu. Mata lentikmu mengerjap kebingungan. Kamu tempelkan ujung belakang pensil ke bibir mungilmu. Kamu tak tahu, aku pun terpaku, terpaku ekspresi kebingunganmu. Ah, Angin sore ini terasa begitu lambat.
"Saka?"
Tanganmu mengibas di depan wajahku.
"Eh, iya?" Kugaruk kening yang sebenarnya tak gatal, "apaan tadi?"
"Perdu!" jawabmu sembari mengerucutkan bibir. Ah, semakin imut saja rupamu.
"Kamu kenapa, sih?" tanyamu sambil memiringkan kepala, sedikit menyelidik.
Senyumku tersungging. "Sedang mensyukuri ciptaan Tuhan yang diamanahkan padaku."
"Alah, gombal." Kamu mengangkat buku tugas. Menyembunyikan wajahmu dariku. Tercuri olehku pipimu yang bersemu merah jambu.

AM. Hafs

Rabu, 15 Oktober 2014

Tempat Terbaik Untuk Masa Lalu

Selalu ada saat di mana kita perlu menyelami pengampunan diri. Menyelami sesal dan luka. Lalu menatap pagi dengan ceria dan hati yang kembali baru. Selalu ada saat di mana kita harus meninggalkan saga di senja menuju pembaringan fajar di luapan bola semangat dan sebuah mimpi baru.
"Dinda."
"Ya Kanda?"
"Kau tahu rupa kerelaan?"

Jumat, 10 Oktober 2014

Lima Bentuk Negara Menurut al-Farabi


"Jon, Loe tahu gak tentang ilmuwan muslim yang bernama Al Farabi?"

"Kagak, kenapa?" Joni masih sibuk dengan gitar barunya.

"Ini gue nemuin, buku pelajaran SKI kelas sembilan, ada tentang Al Farabi. Jon, Loe dengerin kagak sih?"

"Hemm ...." Joni ngerebahin diri ke kasur, dan mulai mencoba-coba petikan gitarnya.

"Ada satu pemikiran yang membuatku merenung."

"Tentang apa?"

Anda pengunjung ke

Statistikku