Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Minggu, 03 Juli 2016
Arti Sebuah Kelulusan
Sebab itu, kurang lebih tiga hari menjelang masuk bulan Ramadhan aku menyusun target-target. Apa pentingnya? Ibarat sebuah game yang punya misi, maka target itu pun sama. Suatu bentuk ikhtiar untuk menempa diri secara terprogram demi memaksimalkan bulan suci, yang belum tentu bisa ditemui lagi tahun depan.
Rabu, 08 April 2015
Keajaiban Pikiran
Senin, 06 April 2015
Pentingnya Target dalam Menulis
Kamis, 02 April 2015
Menggurat Rindu
Judul ini lahir dari kebuntuan. Mulai kemarin, 1 April 2015, aku mewajibkan diri untuk latihan menulis. Waktu yang kualokasikan hanya sejam, dari 05.30 sampai dengan 06.30. Namun hari ini, hingga pukul 06.00 tadi aku belum juga menemukan bahan yang bisa dikembangkan dengan bebas. Kebuntuan pun menjalar.
Ah, kebuntuan ini tak bisa disepelekan, batinku. Lantas, jemari ini pun mulai bergerilya. Membuka obrolan di grup BBM hingga ber-chit-chat dengan kawan-kawan. Dari sana, akhirnya lahir sebuah judul di atas setelah sebelumnya aku melempar tema televisi di grup.
06.10. Waktu untuk merangkai kataku tinggal 20 Menit. Sembari menulis, otakku berlarian menggeledah arsip ingatan. Demi memadukan rindu dan televisi. Apakah akan berupa fiksi, artikel, celoteh atau puisi? Baiknya, kupejamkan saja, agar mata hati berkesempatan untuk melihat lebih dalam.
Setelah mengambil napas panjang, mulailah jariku menggurat rindu.
Rindu ...
Rinduku tak seperti menghidupkan televisi
Yang cukup sekali pencet lalu bisa menyala dan berceloteh ria
Rindu ...
Rinduku tak seperti tayangan televisi
Yang apabila bosan, bisa dengan mudah berganti channel hati
Rindu ...
Rinduku tak seperti berita pagi
Yang bisa dikabarkan dengan gamblang tanpa perih
Rindu ...
Rinduku tak seperti program televisi
Yang dijeda ribuan iklan penarik hati
Ah, Rindu ...
Aku hanya mengguratmu sekehendak hati
Janganlah dimarahi atau dimaki
Karena aku khawatir, rinduku kian merintih.
06.24, tanpa kata penutup, tulisan ini kuakhiri. Semoga rindumu kian menjadi. Hingga terbawa mimpi. Hei, Kawan! Ini sudah pagi. Mari berlari untuk kehidupan, yang lebih baik lagi.
AM. Hafs
Singosari, 02/04/2015
Rabu, 01 April 2015
Masih Terlalu Pagi!
Masih terlalu pagi untuk merintih. Meski negeri ini kian lepas kendali. Karena sesungguhnya, masih banyak langkah-langkah kecil yang bisa membuat setidaknya diri sendiri menjadi lebih baik. Bukankah perubahan diawali dari hal kecil?
Masih terlalu pagi untuk mengeluh. Sedang matahari masih saja datang dengan ceria, menyingkap kabut yang membuat berdiri rambut-rambut halus di kulit tangan dan kaki. Juga menggigilkan rindu di hati. Kenapa tak dicoba untuk bersyukur? Mensyukuri nikmatnya bersujud, subuh tadi.
Masih terlalu pagi untuk membiarkan amarah menari. Membuat gerah pikiran juga hati. Kenapa tak tersenyum saja? Menikmati tiap hiruk pikuknya yang hampir selalu sama.
Masih terlalu pagi, untuk memikirkan apakah hari ini akan menyenangkan. Kenapa tak mengangkat tangan saja, dan berdoa agar hari ini diberi kekuatan.
Namun ...
Tak ada kata terlalu pagi untuk menulis, bermuhasabah, dan berdoa. Melalui tulisan, mencoba menangkap hal-hal kecil yang biasanya terabaikan. Mengambil pelajaran dari apa-apa yang kemarin terlakukan dan terlewatkan. Bermuhasabah dan menjalani dengan penuh sabar sebagai ikhtiar. Lalu berdoa sebagai bentuk tawakkal terhadap takdir-Nya yang tak mungkin kita ketahui.
Mulailah menulis. Luangkan sedikit saja waktu barang sejam. Tuliskan, paling tidak 5 hal yang ingin dicapai untuk hari ini. Agar waktu yang senantiasa berlari, tak membuat napas terembus tanpa arti.
Mari ... menulis!
AM. Hafs
Singosari, 1 April 2015
Tamales Ngalu Nuhat Malangku. #101
Senin, 02 Maret 2015
Apa Kriteria Jodohmu? (Cerpen)
Sahabatku bercerita. Suatu waktu, di kantin pada jam istirahat ia bertanya pada kawan perempuannya, "Apa kriteria jodohmu?"
Perempuan yang ia temui beberapa bulan ini. Teman yang dipertemukan di tempat tes kerja, hingga akhirnya diterima di bagian yang sama. Keakraban yang timbul, membuat sahabatku jatuh hati. Sayang, ia tak pernah benar merasa siap untuk mengatakannya.
"Eh, kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Perempuan berjilbab itu menjadi kikuk.
"Enggak, cuma mau tahu aja." Sahabatku terkekeh. Berusaha mencairkan kegugupan yang ia ciptakan dan berharap perempuan itu tidak berpikir macam-macam. Mengingat karakter yang ia tunjukkan selama ini "slenge'an".
"Emmm, aku sih mimpinya punya suami hafidz."
Uhuk! Sahabatku meletakkan kembali segelas teh jeruk di genggaman ke atas meja. Mengambil sapu tangan dan mengelap lelehan di bibirnya.
"Eh? Kamu kenapa?"
"Enggak, gak papa lanjutin!" Sahabatku kembali terkekeh dan menggaruk hidung.
"Emm apa ya? Kayaknya yang penting satu itu. Lainnya menyesuaikan." Kini, Pipi perempuan seperempat abad memerah.
"Kalau misal ada yang melamar, tapi gak hafidz gimana?"
"Hemmm, ya boleh aja, asal agamanya lumayan dan lagi bacaan Al-Qurannya harus fasih. Biar bisa jadi pentashih hafalanku."
Uhuk! Kali ini sahabatku tersedak angin.
"Hafidzah to?"
Dia tersenyum, "Alhamdulillah."
Ia sosok yang terbuka dan ramah tapi tetap memegang batas. Risih bila disentuh pria dan juga tak pernah mau dibonceng lawan jenis. Sebab itu, sahabatku nyaman berteman dengannya.
"Pantesan."
"Eh, aku kok kayak lagi diprospek ya?"
Sahabatku tertawa, "Emang iya."
"Maksudnya?" Wajah polosnya penuh tanda tanya.
"Boleh gak kalau bulan depan aku melamarmu?"
Uhuk! Gantian, perempuan itu yang tersedak.
"Serius? Kok tiba-tiba?"
"Tiba-tiba gimana? Kita kan udah kenal selama ...." Sahabatku menghitung dengan jari, "lima bulan." Sahabatku terkekeh.
"Gimana ya?" Pertanyaan mengambang. Membuat jantung sahabatku berdegup kencang. "Boleh deh. Tapi keputusannya ada di Abi sama Kakak laki-lakiku dan satu lagi, siap-siap dites bacaan qurannya." Perempuan itu tersenyum penuh makna. Dia pun sebenarnya menyimpan kagum. Sebab pernah tanpa sengaja mendapati lantunan ayat suci mengalir dari bibir sahabatku di musala kantor.
"Siap!" Sahabatku bersemangat.
Mereka pun berpisah ke ruang kerja masing-masing sembari menikmati hentakan jantung yang tak wajar.
Entah apa yang terjadi. Seminggu setelah kejadian itu, perempuan yang akhirnya oleh sahabatku disebut Nara, menjauhinya. Bila bertemu, hanya ada senyum disertai rasa canggung.
Ketika kusarankan untuk menelponnya, sahabatku menolak. "Biarkan dulu, mungkin dia ingin menenangkan pikirannya," tulisnya.
Namun ketika keadaan itu bertahan hingga tiga minggu, sahabatku akhirnya tak mampu menahan rindu. Mulailah jemarinya mencari kontak Nara.
"Assalaa ...."
"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Cobalah beberapa saat lagi." Suara dari seberang setelah bunyi tut terakhir.
Sahabatku mencoba lagi.
"Assalaamu'alaikum, ada apa, Mas?" Suara lembut meluruhkan hati sahabatku.
Dengan hati-hati sahabatku menjelaskan kegundahan dan isi pikirannya.
"Maaf, Mas. Nara hanya ingin menjaga hati. Agar tak terlalu berharap. Karna Nara tak tahu apa yang akan terjadi minggu depan. Nara harap, Mas mengerti."
Setelah sahabatku mengucap maaf dan beruluk salam, percakapan pun diakhiri. "Hah, seminggu lagi. Bismillah."
***
Hari yang ditunggu pun tiba ...
Sahabatku hadir bersama kedua orang tuanya. Ketika dikabari mengenai rencana lamaran, orang orang tuanya sangat bergembira. Mengingat umur sahabatku yang menginjak angka dua puluh tujuh. Lebih sehari.
Jum'at yang cerah untuk sebuah niat suci. Agaknya mentari turut semringah tapi tidak dengan Nara atau pun sahabatku. Keduanya was-was dan berhujan keringat. Padahal, embun saja masih menggantung di ujung daun.
Bapak dan Ibu Nara tak menyangka, kedatangan keluarga sahabatku begitu pagi. Untung saja, semua jamuan telah siap sebelum subuh. Karena Nara dan ibunya mempersiapkan semua sejak pukul 3 pagi.
Dengan sedikit gugup, sahabatku menengok jam tangan hitamnya. 07.15 seharusnya gigil di tubuhnya mulai hilang. Tapi yang ada malah sebaliknya. Melihat gelagat putranya, Ayah sahabatku pun memberi pesan, "Jangan gugup! Baca sholawat yang banyak. Nanti kalau sudah di dalam, tekuk kedua jempol kakimu."
Apa hubungannya gugup sama jempol kaki? Tapi sahabatku tak ambil pusing. Dituruti saja pesan ayahnya. Begitu menginjak kaki di halaman. Nampak kedua orang tua Nara dan kakak lelakinya tengah menunggu di beranda. Setelah saling beruluk salam dan berjabat tangan, rombongan sahabatku dipersilahkan masuk.
Baru saja sahabatku merebahkan punggung di kursi dan menenangkan hati, tak lupa juga menekuk jempol kaki, ibunya sudah memberi shock terapi, "Ayo, Le, sampaikan maksudmu ke Abinya Nara."
"Lho lha kok?"
"Ehem," ayah sahabatku berdehem.
Itu artinya tak ada jawaban lain selain harus meng'iya'kan perintah ibu.
Bukannya ... seharusnya Ayah yang ngomong? Batinnya. Terlihat Ayah, Ibu dan Kakak Nara tersenyum.
Nara yang mengamati dari balik kelambu turut berdebar-debar. Dari mulutnya terus menerus menggumamkan Al-Insyirah, berharap semuanya dimudahkan.
"Emm ..." Sahabatku membenarkan posisi duduknya yang tidak salah, "begini ... kedatangan saya dan orang tua kami kemari ..."
Belum sempat kalimatnya terselesaikan, abinya Nara memotong.
"Iya, kami sudah diberitahu Nara. Begini saja, kasihan Nak Mas terlihat gugup. Mending langsung ke Tesnya saja."
Kakaknya Nara menyodorkan sebuah mushaf al-Quran bersampul warna perak.
"Coba baca An-Nisa ayat 4."
Diterimanya mushaf tersebut dan mendekapnya. Setelah membaca syahadat, ta'awudz. dan basmalah, sahabatku memejamkan mata. Lalu dari bibirnya terlantun surat yang dimaksud dengan merdu.
Melihat hal tersebut, Nara hanya menganga. Menaruh telapak tangan kanannya di depan bibir. Tak menyangka jika ternyata sahabatku seorang hafidz. Sedang kedua orang tua nampak tersenyum puas. Tapi tidak dengan kakaknya, setelah bacaan sahabatku selesai, ia kembali memerintah, "At-taubah ayat 71"
Selesai dengan lancar dan disambut dengan perintah ketiga, "Surat An-Nuur!"
Nara tak bisa menyembunyikan kerisauannya. Sedang sahabatku mengambil nafas dalam. Namun ketika akan melantunkan surat, ia menundanya, "Maaf, ada air putih?"
Seketika tawa memecah ketegangan. Saking khusyuknya sampai tuan rumah lupa menyajikan minuman. Nara hadir ke tengah pasang keluarga. Ia tampak anggun dengan busana biru dan kerudung biru laut bermotif bung. Ayah sahabatku berujar, "Oh ini to yang namanya Nara, pantesan putraku ngebet minta dilamarkan."
Kembali tawa menggema.
"Monggo diminum." Ayah Nara mempersilakan.
Setelah meneguk teh hangat, suasana tegang menyelimuti. Sahabatku bersiap melantunkan kembali ayat suci. Kembali dibuka dengan syahadat, ta'awudz, dan kemudian basmalah.
"Suurotun an(g)zalnaahaa wa farodhnaahaa ... (sampai akhir ayat.) Shodaqallaahul'adziim."
"Subhanallaah."
Ibunya Nara terlihat berbisik. Sedang kakaknya pamit ke dalam.
"Ehem ... saya kagum dengan Nak Mas ini. Bacaan indah, Nara banyak cerita tentang akhlak Nak Mas. Tapi tak pernah cerita kalau Nak Mas ternyata seorang Hafidz. Tapi sebelumnya, kami memohon maaf." Ayah Nara mengambil nafas. Tampak sengaja memberi jeda, "Kami tidak bisa menerima lamaran Nak Mas."
Nara, Sahabatku dan kedua orangnya tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Tapi ...." Semua nampak menyimak dengan perasaan yang tak menentu.
"Kami akan dengan senang hati, seandainya Nak Mas mau melakukan akad sekarang juga."
Nara terkejut, begitu pula dengan Sahabatku dan kedua orang tuanya.
"lho lha itu anu." Sahabatku gelagapan, "Pak? Bawa uang buat mahar?" lanjutnya.
"Cuma bawa dua ratus ribu," bisiknya.
"Tenang, mahar bisa nyusul. Nomer sekian itu, yang penting Nak Mas bersedia atau tidak?"
Sahabatku mengusap-usap telinga, "Be-bersedia, Pak."
Kakaknya datang dengan beberapa tetangga sekitar sebagai saksi. Dan turut hadir pula Penghulu desa. Agaknya rencana ini telah dipersiapkan tanpa sepengetahuan Nara.
"Saya terima nikahnya Sabrina Raudhotul Jannah binti Haji Mas'ud Abdillah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar dua juta rupiah hutang."
"Sah?"
"Sah!" Serempak para saksi berteriak.
Sahabatku pun memulai kisahnya yang baru di buku yang baru. Karena tubuhku telah penuh oleh kisah semasa lajangnya. Tertanda : Buku Diary
Sekian. Sila baca tulisanku yang lain di www.Lovrinz.com atau www.shohibulgubug.blogspot.com makasih ^^
Malang, 02 Maret 2015
AM. Hafs
Jumat, 27 Februari 2015
Sensasi Menulis Hal yang Kontroversial
Ada beberapa tema yang kerap kali mengundang kontroversi. Mulai dari hal sepele semacam kehidupan artis, club bola, hingga seserius ajaran agama. Biasanya tema itu juga diawali dari judul yang juga kontroversial.
Tulisan kontroversial kerap kali memacing perdebatan. Bagi pembaca yang sering mengunjungi arena debat, pastinya tahu, bagaimana topik "test the water" bisa menjadi jendela untuk melihat, mana pembaca yang cerdas, ingin terlihat cerdas, dan mana yang kurang cerdas.
Beberapa hari ini, aku pun penasaran 'sisi lain' dari menulis kontroversi. Akhirnya kucoba melemparkan umpan.
Jumat, 20 Februari 2015
Pesan Seribu Makna
Percayalah ...
Bila kau tak percaya yang kukatakan, coba tanya yang di samping sana ... yang tak pernah mau melihat ke bawah. Sekarang dia hanya bisa menyesali, sebab lehernya pegel karena mendangak terus ke atas."
Awalnya aku memahaminya sebagai peringatan agar menjaga hati dari kesombongan. Tapi, pemahaman itu tak serta merta memuaskan kalbu. Hari ke hari, berusaha mencari. Aku merasa ada sesuatu yang lain. Renungan demi renungan berlarian di pikir juga hati. Hingga pagi ini aku mendapati jawaban baru.
Rabu, 18 Februari 2015
Smart Girl, The Dream Girl
Meanwhile he went to nomadic tribe inYaman. On the way, He met a man.
The Youngman greeted,”Hi, Sir! Could you bring me and I bring you?”
Senin, 16 Februari 2015
Sebab Bercanda, Kebahagiaan?
Namun, banyak orang yang masih terus mencari-cari kebahagiaan. Hingga rela menghamburkan uang, waktu, juga pikiran. Tak jarang yang akhirnya terjerumus pada dunia hitam. Hanya karena ingin mendapatkan kebahagiaan dengan instan. Padahal semua tahu, barang yang diperoleh dengan instan, biasanya juga terlepas dengan cara yang instan.
Perlombaan mencari kebahagiaan juga turut disemai oleh para motivator-motivator. Dengan iming-iming kesuksesan finansial, khalayak seolah dibombardir dengan jargon, "Kaya materi itu, bahagia!" Alhasil, semua turut berlomba menumpuk harta. Dengan berbagai cara. Tak lagi peduli apakah itu bersih atau kotor.
Menghadapi persoalan kebahagiaan yang terdoktrin sedemikian. Mari sejenak merenung. Kebahagiaan, hakikatnya merupakan ketenangan hati bukan? Lantas, jika ditempuh dengan cara-cara kotor, apakah ketenangan hati itu akan diperoleh? Katanya, yang haram saja susah, apalagi yang halal? Eits, itu hanya mind set. Coba tengok kisah nyata berikut,
Selasa, 10 Februari 2015
Hal-hal Sederhana yang Membahagiakan Hati (1)
1. Nikmatnya beristirahat
Sepulang sekolah, tubuhmu yang lelah sudah tak sabar untuk merebah di kamar. Tak kamu sangka, ternyata sprei yang membalut tempat tidurmu baru saja selesai dicuci. Kamu pun merebah dengan menghirup aroma terapi yang menyelimuti. Hingga akhirnya kamu terlelap dengan senyum yang mengembang.
2. Tak Jadi Sial
Hujan deras yang mengguyur semalam, membuat daratan di linkunganmu tergenangi air. Kamu yang terburu-buru mengejar Bus Sekolah, tak sempat memerhatikan sisi jalan yang becek. Kamu terkejut, hingga jantungmu berdetak lebih cepat karena kakimu terpeleset. Untung saja, tubuhmu masih seimbang. Sehingga tetap berdiri tegak. dan lumpur tersebut hanya membuat sepatu sedikit kotor. Kamu pun kembali berlari dengan senyum syukur.
Iklan Menyentuh Thailand
Sampai di penyeberangan, dia membantu seorang nenek tua yang tengah mendorong gerobak untuk berjualan. Ketika tengah makan siang, dia dihampiri oleh seekor anjing liar. Dengan senyum yang khas, tanggannya mengulurkan sepotong paha ayam bakar untuk anjing tersebut. Si penjual pun hanya menggelengkan kepala melihat hal tersebut.
Di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang ibu dan anak. Mereka pengemis, di tangan anak perempuan itu, terdapat gelas plastik bertuliskan for education. Dengan cekatan jemarinya mengambil dompet, dan memberikan dua lembar uang kepada si anak. Uang dua lembar yang Tanpa berpikir, apakah tulisan itu hanya sekadar modus belaka agar memperoleh pendapatan lebih tinggi. Kejadian tersebut dilihat oleh seorang kakek tua penjual pemilik toko jam. Dia juga menatap dengan menggelengkan kepala.
Sabtu, 07 Februari 2015
Mengambil Fatwa dari Internet, Bolehkah?
"Ini lagi searching hukumnya orang yang jimak di siang hari bulan Ramadhan."
Aku tertawa, "mentang-mentang pengantin baru."
Dia terkekeh. "Aku penasaran sama olok-olokannya teman-teman. Katanya kalau Ramadhan, "itu"-nya juga harus puasa. Jujur, sih baru denger. Maklum, aku sama istri basisnya dari TK sampai kuliah di umum. Ngaji cuma sampai SD doank."
Aku mengernyitkan dahi. Kemudian mengambil kursi di depannya dengan menaruh sandaran kursi di posisi depan dan mendudukinya. Kami kenal sudah sekitar 3 tahunan. Berawal dari rekrutan angkatan yang sama, membuat kami akrab. Kami sering berbagi mengenai masalah-masalah kantor. Tapi untuk masalah pribadi, sepertinya baru kali ini.
"Joinan ya?" kataku yang dijawab dengan anggukan. Tanganku meraih kopi susu yang terhidang. Setelah meneguknya sedikit aku pun mulai berceloteh.
"Boleh tanya-tanya?"
Jumat, 06 Februari 2015
Keterpaksaan Membawa Nikmat
Dalam banyak hal, keterpaksaan sering diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tiga diantaranya yang bisa dijadikan contoh, salat, menuntut ilmu, dan bekerja.
Kamis, 22 Januari 2015
Nikmatnya Kesetiaan
Rabu, 21 Januari 2015
10 Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kesuksesan Raditya Dika
Sabtu, 17 Januari 2015
10 Perbedaan Orang Cerdas (Oce) dan Orang Bodoh (Obo)
1.
Oce, "Aku harus menyelesaikannya sekarang. Karena besok belum tentu bisa."
Obo, "Ah, masih satu jam lagi. Nyantai dulu saja."
2.
Oce, "Ah, semakin kubelajar, semakin banyak yang belum kuketahui."
Obo, "Apa sih yang enggak gue tahu? Sudah di luar kepala semua."
3.
Oce, "Ayo kamu pasti bisa! Kamu pasti kuat! Kamu itu special! Gak ada yang gak mungkin bagi orang yang mau berusaha, percaya, deh!"
Obo, "Gue gak bisa nih! Gue lemah! Semuanya mustahil!"
4.
Oce, "Muhasabah sebelum tidur itu harus kubiasain!"
Obo, "Nih! Gue hebat! Nih piala gue! Banyak bukan?"
5.
Oce, "Semua butuh perhitungan dan evaluasi. seperti kata pepatah, berpikir tiga langkah sebelum mengambil satu langkah maju!"
Obo, "Ah, lama! Udah sikat aja! Untung rugi belakangan"
Selasa, 13 Januari 2015
Sholeh dan Cita-Cita Santrinya
Hanya dua orang yang menunjuk tangan, dari sepuluh anak yang hadir.
“Kalian ini gimana? Udah berkali-kali diingatkan, masih saja sering lupa. Sekarang hari Jumat, kalian ingat waktunya apa?”
Hening, “Hafalan juz ‘amma, Mas.” Hanya Firman yang menyahut.
“Oke, waktunya hafalan. Siapa yang tadi sore belajar?”
Rabu, 19 November 2014
November, I'll Be A Winner! Coz I am Dreamer!
Wahai perih-perih masa lalu. Apa yang hendak kutabur? Selain senyum di fajar yang mengabur, nanti. Kau tahu? Tanpamu aku akan tetap menjadi seonggok tubuh yang mudah layu.
Sama seperti berlalunya mendung, langit baru dan celoteh bintang riang pasti kan menyambut.
Sebab itu, di sunyinya pekat malam ini, kulantunkan puja-puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala hikmah dan nikmat yang dianugerahkan. November, lets be a winner! We are fighting dreamer!
Malang, 19 Nov 2014
Rabu, 22 Oktober 2014
Adakalanya ...
Adakalanya kebaikan dan ketulusanmu tak dihargai. Tapi bukan berarti hal itu menjadi pembenaran untuk menyakiti. Mungkin cukup dengan berhenti peduli padanya, agar tahu arti menghargai. Berhenti peduli tanpa menggenggam benci.
Adakalanya kebaikanmu dimanfaatkan dan membuatmu terlihat bodoh. Saat itu kau hanya perlu yakin, tak ada kebaikan yang sia-sia. Karena kekecewaan hanya akan menjadi penghalang untuk ikhlas.
Adakalanya kepedulian terasa menyakitkan. Tapi sebenarnya, akan lebih sakit saat tak ada lagi yang peduli.
AM.Hafs


