Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2016

Belajar Memahami 'Life Sign'

Ada banyak buku yang telah kubaca. Tapi hanya sedikit yang meninggalkan kesan begitu dalam. Selain Api Tauhidnya Habiburrahman, ada juga buku non fiksi karya Andre Raditya yang berjudul "Life Signs".

Kali ini, secara khusus aku ingin mengulas bagaimana buku tersebut memengaruhi proses berpikirku. Buku yang kupinjam dari seorang teman itu secara garis besar mengajak kita untuk lebih awas terhadap kehidupan. Yang inti dari buku itu apabila digambarkan dalam satu kalimat, kurang lebih seperti ini, "Di dunia ini tak ada yang kebetulan."

Kepekaan seseorang terhadap alur kehidupannya berbeda-beda. Ada yang hanya dengan satu 'clue' ia mampu memahami ada yang harus mengalami berbagai kejadian dulu, baru memahami.

Apa yang dimaksud memahami? Akan kuceritakan sedikit pengalamanku.

Bulan kemarin, ketika aku merasa penjualan desain kaligrafi menurun, hati ini tergerak untuk berdoa dan mengharap agar dilancarkan lagi.

Tak lama setelah itu, dalam sebuah obrolan, seorang teman tiba-tiba bertanya, di antara waktu sempit pagi hari sebelum berangkat kerja, apa sudah masuk dhuha?

Awalnya aku hanya menanggapi biasa, tak berpikir apa-apa. Aku lantas melihat jadwal sholat, setengah 7 untuk daerah Malang, itu sudah masuk dhuha. Jadilah, di tengah sempitnya waktu yang dia punya, masih dia sempatkan untuk mendirikan sholat dhuha.

Aku baru menyadari sesuatu, ketika akhirnya aku dihadapkan pada 'sign' kedua. Beberapa kali ketika hendak sarapan, aku seolah diperlihatkan kepada kakak perempuanku yang sedang sholat dhuha. Dari dua clue tadi, tiba-tiba saja aku teringat ada banyak perkataan ulama tentang manfaat dhuha untuk kelancaran rezeki.

Setelah kupelajari lebih dalam, ternyata lancarnya rejeki hanyalah efek samping. Dalam sebuah hadits, Rasulullah menerangkan bahwasanya indera kita ini butuh disedekahi sebagai ungkapan rasa syukur. Lantas beliau memberi tahu jika dua rokaat dhuha di pagi hari, mencukupi itu semua. Maka, jika ditarik lebih dalam terhadap firman Allah yang menjelaskan bahwasanya sesiapa saja yang bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah.

'Lain syakartum la azidannakum'

Dari hal itulah kemudian ulama memberi kesimpulan gamblang, siapa yang ingin rejekinya ditambah, maka silakan sholat dhuha istiqomah.

Begitulah, harus menemui dua 'signs' dulu, agar aku memahami jawaban terhadap doaku yang bisa juga berupa teguran, sebab tak istiqomah dhuha padahal waktu yang kupunya jauh lebih luang dari temanku yang bertanya.

Jika ada yang berkata, "Masa sholat/ibadah untuk mengharap rejeki?" Abaikanlah. Sesungguhnya semua itu proses. Ketika kita telah mampu istiqomah dan siap untuk naik kelas, maka akan sangat mudah bagi Allah untuk membuat kita beribadah dengan ikhlas hanya mengharap ridho-Nya.

AM. Hafs
Singosari, Penghujung Agustus 2016

Rabu, 08 April 2015

Keajaiban Pikiran

Aksara demi aksara yang kulepas. Terkadang saling rangkai-merangkai ketika proses menulis berlangsung. Tak jarang berasal dari tema yang dilempar oleh teman-teman penulis. Di situ aku merasa bersyukur memiliki mereka.

Dorongan atau motivasi adalah hal terpenting untuk menjadi pelapis sebuah kemauan. Terutama dalam menulis. Setelah berkemauan untuk menulis, aku harus memotivasi diri dengan sebuah visi. Apa sebab aku memaksakan diri menulis tiap hari? Agar aku bisa terus mengasah kemampuan yang super duper pemula ini.

Seorang sahabat bertanya, "Apakah target itu tak membuatku merasa tersiksa?" 

Kamis, 02 April 2015

Memandang Jendela Kehidupan

Keriuhan anak sekolah menjadi musik pengiring kehidupan kerjaku. Tak ada kata bising, ketika telah mampu menikmatinya. Begitu pula dengan masalah yang hadir. Tak ada kata berat jika bisa menyikapinya. Seperti judul lagu Jason Mras, "The World As I See It."

Aku bersyukur ditakdirkan menggeluti dunia kepenulisan. Melalui aksara-aksara yang tercoret, aku membebaskan pikiran dalam pantauan tanggung jawab, menerapi jiwa, dan meluaskan pikiran.

Pernah kubaca sebuah tulisan yang melarang untuk menulis ketika marah. Alasannya emosi dalam tulisan jadi tidak terkontrol. Tapi menurutku sebaliknya. Tuliskan! Tulis sampai emosi mereda. Tapi jangan dipublikasikan. Setelah tulisan itu rampung, biarkan mengendap bersama emosi yang ada.

Di lain waktu atau lain hari, bacalah kembali tulisan tadi. Maka dari sana, hati akan menemukan hal-hal salah yang sebelumnya teranggap benar.

Ahad kemarin, aku pulang ke rumah. Alhamdulillah, kakak sepupu tengah berkunjung. Dari luar terdengar sebuah obrolan yang nampak seru.
Setelah uluk salam, aku mulai duduk, mengikuti diskusi dan mencermati.

Kakakku yang seorang single parent bercerita. Suatu hari ketika kakakku yang bekerja sambilan sebagai penjual jamu tengah melayani pembeli, seorang ustadzah tiba-tiba mendatanginya dan berkata, "Ra, kamu itu haram berjualan reng usuk. -bambu yang telah dipotong menjadi seukuran tongkat panjang. Biasa digunakan untuk alas genting rumah- Soalnya, yang beli bukan muhri. Lalu, pas ngangkat dari tempat rendaman, baju kamu basah dan lekuk tubuhmu tercetak."

Karena posisinya di hadapan orang banyak, Kakakku bukannya sadar, malah merasa dipermalukan. Tak ayal, ia pun membalas dengan frontal dengan mengatakan kalau dia gak kerja apa si ustadzah yang mau membiayai kehidupannya. Lagian yang namanya mengangkat bambu dari tempat yang basah ya pasti basah. Toh niatnya gak buat ditampangkan. Pakaiannya juga berlengan panjang dan berhijab. Si Ustadzah langsung meninggalkan tempat tanpa bisa menjawab.

Ketika hendak menanggapi, aku terlebih dahulu memisahkannya sebagai dua masalah yang harus disikapi berbeda.

Setelah mengambil napas panjang. Aku mulai menanggapi, "Mbak, di sini ada dua masalah yang perlu dipisah. Yang pertama mengenai ketidak bolehan berinteraksi dengan bukan muhrim itu kalau interaksinya berbuat yang maksiat. Tapi kalau ada keperluan yang dibenarkan syariat, ya gak papa."

Yang kedua, apa yang disampaikan ustadzah tentang keharaman tubuh yang tercetak, itu benar. Tapi, cara penyampaian yang dilakukan di depan banyak orang, itu salah. Seharusnya ustadzah tadi bertandang ke rumah, Mbak dan berbicara empat mata."

"Lha yang namanya masuk ke air, baju apapun ya pasti tetep tercetak! Emang punya caranya biar gak tercetak, gimana?" potongnya dengan sedikit emosi.

"Sebentar, begini. Aku belum punya solusi. Tapi sementara ini hanya saran. Mbak Mira jangan menganggap hal tersebut benar, dan harus diikuti usaha untuk menemukan solusi. Sembari ikhtiar, di tiap selesai salat Mbak memohon ampun kepada Allah. Kata-katanya kira-kira seperti ini, Ya Allah, ampunilah hamba atas kenampakan tubuh tersebut. Engkau tahu hal tersebut tidak hamba lakukan dengan sengaja. Dan hamba memohon, berikanlah jalan terbaik untuk mengatasinya. Dengan begitu, harapannya kekhilafan Mbak bisa dimaafkan oleh Allah SWT."

Dia tampak manggut-manggut. Bersamaan dengan itu, Pakdhe mengetuk pintu. Menjemput Mbak Mira untuk pulang. Tak lupa sebelum berpisah, kami saling bermaafan dan berterima kasih.

AM. Hafs
Malang, 30 Mar 2015

Senin, 02 Maret 2015

Apa Kriteria Jodohmu? (Cerpen)

Apa Kriteria Jodohmu?

Sahabatku bercerita. Suatu waktu, di kantin pada jam istirahat ia bertanya pada kawan perempuannya, "Apa kriteria jodohmu?"

Perempuan yang ia temui beberapa bulan ini. Teman yang dipertemukan di tempat tes kerja, hingga akhirnya diterima di bagian yang sama. Keakraban yang timbul, membuat sahabatku jatuh hati. Sayang, ia tak pernah benar merasa siap untuk mengatakannya.

"Eh, kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Perempuan berjilbab itu menjadi kikuk.

"Enggak, cuma mau tahu aja." Sahabatku terkekeh. Berusaha mencairkan kegugupan yang ia ciptakan dan berharap perempuan itu tidak berpikir macam-macam. Mengingat karakter yang ia tunjukkan selama ini "slenge'an".

"Emmm, aku sih mimpinya punya suami hafidz."

Uhuk! Sahabatku meletakkan kembali segelas teh jeruk di genggaman ke atas meja. Mengambil sapu tangan dan mengelap lelehan di bibirnya.

"Eh? Kamu kenapa?"

"Enggak, gak papa lanjutin!" Sahabatku kembali terkekeh dan menggaruk hidung.

"Emm apa ya? Kayaknya yang penting satu itu. Lainnya menyesuaikan." Kini, Pipi perempuan seperempat abad memerah.

 "Kalau misal ada yang melamar, tapi  gak hafidz gimana?"

"Hemmm, ya boleh aja, asal agamanya lumayan dan lagi bacaan Al-Qurannya harus fasih. Biar bisa jadi pentashih hafalanku."

Uhuk! Kali ini sahabatku tersedak angin.

"Hafidzah to?"

Dia tersenyum, "Alhamdulillah."

Ia sosok yang terbuka dan ramah tapi tetap memegang batas. Risih bila disentuh pria dan juga tak pernah mau dibonceng lawan jenis. Sebab itu, sahabatku nyaman berteman dengannya.

"Pantesan."

"Eh, aku kok kayak lagi diprospek ya?"

Sahabatku tertawa, "Emang iya."

"Maksudnya?" Wajah polosnya penuh tanda tanya.

"Boleh gak kalau bulan depan aku melamarmu?"

Uhuk! Gantian, perempuan itu yang tersedak.

"Serius? Kok tiba-tiba?"

"Tiba-tiba gimana? Kita kan udah kenal selama ...." Sahabatku menghitung dengan jari, "lima bulan." Sahabatku terkekeh.

"Gimana ya?" Pertanyaan mengambang. Membuat jantung sahabatku berdegup kencang. "Boleh deh. Tapi keputusannya ada di Abi sama  Kakak laki-lakiku dan satu lagi, siap-siap dites bacaan qurannya." Perempuan itu tersenyum penuh makna. Dia pun sebenarnya menyimpan kagum. Sebab pernah tanpa sengaja mendapati lantunan ayat suci mengalir dari bibir sahabatku di musala kantor.

"Siap!" Sahabatku bersemangat.

Mereka pun berpisah ke ruang kerja masing-masing sembari menikmati hentakan jantung yang tak wajar.

Entah apa yang terjadi. Seminggu setelah kejadian itu, perempuan yang akhirnya oleh sahabatku disebut Nara, menjauhinya. Bila bertemu, hanya ada senyum disertai rasa canggung.

Ketika kusarankan untuk menelponnya, sahabatku menolak. "Biarkan dulu, mungkin dia ingin menenangkan pikirannya," tulisnya.

Namun ketika keadaan itu bertahan hingga tiga minggu, sahabatku akhirnya tak mampu menahan rindu.  Mulailah jemarinya mencari kontak Nara.

"Assalaa ...."

"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Cobalah beberapa saat lagi." Suara dari seberang setelah bunyi tut terakhir.

Sahabatku mencoba lagi.

"Assalaamu'alaikum, ada apa, Mas?" Suara lembut meluruhkan hati sahabatku.

Dengan hati-hati sahabatku menjelaskan kegundahan dan isi pikirannya.

"Maaf, Mas. Nara hanya ingin menjaga hati. Agar tak terlalu berharap. Karna Nara tak tahu apa yang akan terjadi minggu depan. Nara harap, Mas mengerti."

Setelah sahabatku mengucap maaf dan beruluk salam, percakapan pun diakhiri. "Hah, seminggu lagi. Bismillah."

***

Hari yang ditunggu pun tiba ...

Sahabatku hadir bersama kedua orang tuanya. Ketika dikabari mengenai rencana lamaran, orang orang tuanya sangat bergembira. Mengingat umur sahabatku yang menginjak angka dua puluh tujuh. Lebih sehari.

Jum'at yang cerah untuk sebuah niat suci. Agaknya mentari turut semringah tapi tidak dengan Nara atau pun sahabatku. Keduanya was-was dan berhujan keringat. Padahal, embun saja masih menggantung di ujung daun.

Bapak dan Ibu Nara tak menyangka, kedatangan keluarga sahabatku begitu pagi. Untung saja, semua jamuan telah siap sebelum subuh. Karena Nara dan ibunya mempersiapkan semua sejak pukul 3 pagi.

Dengan sedikit gugup, sahabatku menengok jam tangan hitamnya. 07.15 seharusnya gigil di tubuhnya mulai hilang. Tapi yang ada malah sebaliknya. Melihat gelagat putranya, Ayah sahabatku pun memberi pesan, "Jangan gugup! Baca sholawat yang banyak. Nanti kalau sudah di dalam, tekuk kedua jempol kakimu."

Apa hubungannya gugup sama jempol kaki? Tapi sahabatku tak ambil pusing. Dituruti saja pesan ayahnya. Begitu menginjak kaki di halaman. Nampak kedua orang tua Nara dan kakak lelakinya tengah menunggu di beranda. Setelah saling beruluk salam dan berjabat tangan, rombongan sahabatku dipersilahkan masuk.

Baru saja sahabatku merebahkan punggung di kursi dan menenangkan hati, tak lupa juga menekuk jempol kaki, ibunya sudah memberi shock terapi, "Ayo, Le, sampaikan maksudmu ke Abinya Nara."

"Lho lha kok?"

"Ehem," ayah sahabatku berdehem.

Itu artinya tak ada jawaban lain selain harus meng'iya'kan perintah ibu.
Bukannya ... seharusnya Ayah yang ngomong? Batinnya. Terlihat Ayah, Ibu dan Kakak Nara tersenyum.

Nara yang mengamati dari balik kelambu turut berdebar-debar. Dari mulutnya terus menerus menggumamkan Al-Insyirah, berharap semuanya dimudahkan.

"Emm ..." Sahabatku membenarkan posisi duduknya yang tidak salah, "begini ... kedatangan saya dan orang tua kami kemari ..."

Belum sempat kalimatnya terselesaikan, abinya Nara memotong.
"Iya, kami sudah diberitahu Nara. Begini saja, kasihan Nak Mas terlihat gugup. Mending langsung ke Tesnya saja."

Kakaknya Nara menyodorkan sebuah mushaf al-Quran bersampul warna perak.

"Coba baca An-Nisa ayat 4."

Diterimanya mushaf tersebut dan mendekapnya. Setelah membaca syahadat, ta'awudz. dan basmalah, sahabatku memejamkan mata. Lalu dari bibirnya terlantun surat yang dimaksud dengan merdu.

Melihat hal tersebut, Nara hanya menganga. Menaruh telapak tangan kanannya di depan bibir. Tak menyangka jika ternyata sahabatku seorang hafidz. Sedang kedua orang tua nampak tersenyum puas. Tapi tidak dengan kakaknya, setelah bacaan sahabatku selesai, ia kembali memerintah, "At-taubah ayat 71"

Selesai dengan lancar dan disambut dengan perintah ketiga, "Surat An-Nuur!"

Nara tak bisa menyembunyikan kerisauannya. Sedang sahabatku mengambil nafas dalam. Namun ketika akan melantunkan surat, ia menundanya, "Maaf, ada air putih?"

Seketika tawa memecah ketegangan. Saking khusyuknya sampai tuan rumah lupa menyajikan minuman. Nara hadir ke tengah pasang keluarga. Ia tampak anggun dengan busana biru dan kerudung biru laut bermotif bung. Ayah sahabatku berujar, "Oh ini to yang namanya Nara, pantesan putraku ngebet minta dilamarkan."

Kembali tawa menggema.

"Monggo diminum." Ayah Nara mempersilakan.

Setelah meneguk teh hangat, suasana tegang menyelimuti. Sahabatku bersiap melantunkan kembali ayat suci. Kembali dibuka dengan syahadat, ta'awudz, dan kemudian basmalah.

"Suurotun an(g)zalnaahaa wa farodhnaahaa ... (sampai akhir ayat.) Shodaqallaahul'adziim."

"Subhanallaah."

Ibunya Nara terlihat berbisik. Sedang kakaknya pamit ke dalam.

"Ehem ... saya kagum dengan Nak Mas ini. Bacaan indah, Nara banyak cerita tentang akhlak Nak Mas. Tapi tak pernah cerita kalau Nak Mas ternyata seorang Hafidz. Tapi sebelumnya, kami memohon maaf." Ayah Nara mengambil nafas. Tampak sengaja memberi jeda, "Kami tidak bisa menerima lamaran Nak Mas."

Nara, Sahabatku dan kedua orangnya tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Tapi ...." Semua nampak menyimak dengan perasaan yang tak menentu.

"Kami akan dengan senang hati, seandainya Nak Mas mau melakukan akad sekarang juga."

Nara terkejut, begitu pula dengan Sahabatku dan kedua orang tuanya.

"lho lha itu anu." Sahabatku gelagapan, "Pak? Bawa uang buat mahar?" lanjutnya.

"Cuma bawa dua ratus ribu," bisiknya.

"Tenang, mahar bisa nyusul. Nomer sekian itu, yang penting Nak Mas bersedia atau tidak?"

Sahabatku mengusap-usap telinga, "Be-bersedia, Pak."

Kakaknya datang dengan beberapa tetangga sekitar sebagai saksi. Dan turut hadir pula Penghulu desa. Agaknya rencana ini telah dipersiapkan tanpa sepengetahuan Nara.

"Saya terima nikahnya Sabrina Raudhotul Jannah binti Haji Mas'ud Abdillah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar dua juta rupiah hutang."

"Sah?"

"Sah!" Serempak para saksi berteriak.

Sahabatku pun memulai kisahnya yang baru di buku yang baru. Karena tubuhku telah penuh oleh kisah semasa lajangnya. Tertanda : Buku Diary

Sekian. Sila baca tulisanku yang lain di www.Lovrinz.com atau www.shohibulgubug.blogspot.com makasih ^^

Malang, 02 Maret 2015
AM. Hafs

Jumat, 20 Februari 2015

Pesan Seribu Makna

Sampai detik ini, aku masih berusaha memahami pesan dari seseorang, yang telah kuanggap seperti kakak juga guru. Tulisnya dalam sebuah komentar, "Semakin ke atas, jangan kau angkat kepalamu tinggi-tinggi. Sebab hal indah terpampang buanyak banget di bawah. Lihatlah ... Bawalah keindahan itu ke atas juga. Bila kau angkat kepalamu tinggi-tinggi, kau akan sendiri.

Percayalah ...
Bila kau tak percaya yang kukatakan, coba tanya yang di samping sana ... yang tak pernah mau melihat ke bawah. Sekarang dia hanya bisa menyesali, sebab lehernya pegel karena mendangak terus ke atas."

Awalnya aku memahaminya sebagai peringatan agar menjaga hati dari kesombongan. Tapi, pemahaman itu tak serta merta memuaskan kalbu. Hari ke hari, berusaha mencari. Aku merasa ada sesuatu yang lain. Renungan demi renungan berlarian di pikir juga hati. Hingga pagi ini aku mendapati jawaban baru.

Rabu, 18 Februari 2015

Apa Perlunya Menghindari Tiga Perkataan Ini?

Dalam memanage diri, terutama untuk menjadi insan dengan tingkat ketaqwaan yang lebih baik, seyogya kita menghindari tiga perkataan berikut. Apa saja? Check it out!

1. Sekali ini aja!
 
    Ketika sedang berjalan di gang sempit kampungnya, Andi melihat temannya tengah asyik menenggak minuman keras. Seketika itu pula Andi terperanjat, "Astaghfirullah! Den! Gila, Lu? Sejak kapan Lu jadi kayak gini?"

"Halah, sekali ini aja, cuma pengen tahu rasanya."

Smart Girl, The Dream Girl

There was a youngman. He is Arabian, handsome, shalih, and very smart. He wanted to marry with a smart and shalihah woman like him. So, He did a journey from a nomadic tribe to other nomadic tribe to found the dream girl.

Meanwhile he went to nomadic tribe inYaman. On the way, He met a man.

The Youngman greeted,”Hi, Sir! Could you bring me and I bring you?”

Selasa, 10 Februari 2015

Hal-hal Sederhana yang Membahagiakan Hati (1)

Banyak yang menjelaskan bahwa bahagia itu sederhana, tapi banyak pula yang belum memahami. beberapa hal di bawah ini, mungkin mampu membawa anda kepada hikmah kebahagiaan.

1. Nikmatnya beristirahat

Sepulang sekolah, tubuhmu yang lelah sudah tak sabar untuk merebah di kamar. Tak kamu sangka, ternyata sprei yang membalut tempat tidurmu baru saja selesai dicuci. Kamu pun merebah dengan menghirup aroma terapi yang menyelimuti. Hingga akhirnya kamu terlelap dengan senyum yang mengembang.

2. Tak Jadi Sial

Hujan deras yang mengguyur semalam, membuat daratan di linkunganmu tergenangi air. Kamu yang terburu-buru mengejar Bus Sekolah, tak sempat memerhatikan sisi jalan yang becek. Kamu terkejut, hingga jantungmu berdetak lebih cepat karena kakimu terpeleset. Untung saja, tubuhmu masih seimbang. Sehingga tetap berdiri tegak. dan lumpur tersebut hanya membuat sepatu sedikit kotor. Kamu pun kembali berlari dengan senyum syukur.

Sabtu, 07 Februari 2015

Mengambil Fatwa dari Internet, Bolehkah?

"Lagi apa, Bung. Serius amat kelihatannya?" kantor ketika tengah rehat di kantin.

"Ini lagi searching hukumnya orang yang jimak di siang hari bulan Ramadhan."

Aku tertawa, "mentang-mentang pengantin baru."

Dia terkekeh. "Aku penasaran sama olok-olokannya teman-teman. Katanya kalau Ramadhan, "itu"-nya juga harus puasa. Jujur, sih baru denger. Maklum, aku sama istri basisnya dari TK sampai kuliah di umum. Ngaji cuma sampai SD doank."

Aku mengernyitkan dahi. Kemudian mengambil kursi di depannya dengan menaruh sandaran kursi di posisi depan dan mendudukinya. Kami kenal sudah sekitar 3 tahunan. Berawal dari rekrutan angkatan yang sama, membuat kami akrab. Kami sering berbagi mengenai masalah-masalah kantor. Tapi untuk masalah pribadi, sepertinya baru kali ini.

"Joinan ya?" kataku yang dijawab dengan anggukan. Tanganku meraih kopi susu yang terhidang. Setelah meneguknya sedikit aku pun mulai berceloteh.

"Boleh tanya-tanya?"

Sabtu, 31 Januari 2015

SUNGGUH, MAUT ITU DEKAT

Pada hari Kamis kemarin, ada acara khotmil quran di Gubuk Ngaji. Beberapa teman guruku yang hafidz turut hadir. Salah seorang di antaranya bernama Imron. Aku biasa menyebut beliau Cak Im.
Di acara itu, aku kebagian tugas sebagai seksi konsumsi. Waktu tengah menata suguhan, Cak Im tengah membaca Juz 4, 'bil ghoib'. Tak lama setelah selesai membaca, Cak Im berkumpul dengan beberapa teman guruku yang hadir di tempat jamuan.
Setelah agak siang, beberapa dari mereka meninggalkan tempat. Khotmil quran pun dilanjutkan oleh teman-teman sesama santri yang sudah lancar.
Sorenya, ada kabar duka. Cak Im mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang. Dan lebih mengejutkan semalam beliau dikabarkan telah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Jadi ingat sebuah pesan, "Kita akan diambil sesuai dengan kebiasaan." Semoga saja, aku bisa Husnul khotimah. Aamiin
AM. Hafs
31012015

Bangun, Cantik

Dia masih terlelap dengan cantik. Sepertinya masih kelelahan. Karena biasanya, ia sudah bangun sebelum azan subuh berkumandang.

Lamat-lamat kupandangi kecantikannya dengan kagum. Sungguh beruntung memilikinya. Semoga saja dia juga merasa beruntung memilikiku yang penuh kekurangan ini. Dengan lembut jemariku menyentuh pipinya. Lalu menepuk pelan untuk membangkitkan ia dari lelapnya.

"Dek, bangun. Sudah subuh."

Ia hanya menggeliat, imut sekali.

"Dek, bangun, Sudah subuh. Ntar kesiangan lo. Katanya semalem pengen jamaah."

Rabu, 21 Januari 2015

10 Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kesuksesan Raditya Dika

Gak sengaja pas mampir ke rumah temen tadi, aku nonton Bang Raditya Dika di salah satu acara TV swasta. Di sana dibahas mengenai perjalanan karir Bang Raditya Dika. Dari seorang penulis hingga berbagai profesi di ranah hiburan. Dengan tampang yang bisa dibilang 'biasa' dia mampu memiliki jutaan penggemar. Bisa dilihat dari 'followers'nya yang sampai tulisan ini terbit, sudah ada sembilan jutaan.

Ketika tengah menonton tadi, aku terus berpikir. Apa yang menjadi kunci sukses Bang Radit. Dengan sedikit merenung dan banyak melamun, akhirnya aku menemukan beberapa hal, di antaranya :

1. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya. Sehingga dia mampu mengangkat hal yang sebenarnya sepele dan tak terhiraukan, menjadi terpaksa dipikirkan dan bikin kita terhibur sewaktu memikirkannya. Semisal iklan tori-tori atau rambutnya Andika Kangen Band di awal-awal boomingnya Stand-up Comedy.

2. Dia mampu mengubah kekurangan dan kelemahannya menjadi kelebihan. Coba tengok tweetnya yang sempat tayang di acara tadi, "@radityadika: Kenapa tiap kali gue niruin Syahrini maju mundur cantik jadinya malah maju mundur cebol?" kekurangannya malah terpakai untuk menghibur orang lain. Bahkan kisah sialnya saat mengetahui kalau buku "Kambing Jantan"nya ternyata habis diborong mamanya sendiri pun bisa jadi materi yang menghibur. Walau di sisi lain, kukira itu juga termasuk keberuntunganya. Karena aku menduga, setelah dibagi secara gratis ke beberapa orang, akhirnya banyak orang yang tertarik dengan tulisannya. Proses promosi dari mulut ke mulut pun terjadi. Dugaan itu muncul dari kisah sukses Pocari Sweat, yang dibagikan secara gratis.

3. Dia mampu mengangkat kisah hidupnya menjadi hal yang unik. Seperti kisah seorang lugu yang jatuh cinta, Jika di film-film lain kebanyakan hanya menjadi pelengkap cerita, Bang Raditya malah menjadikannya sentral cerita. Misal di film "Ada Apa Dengan Cinta", salah satu karakter culun hanya menjadi selingan. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak cowok-cowok remaja yang "berkelakuan" culun daripada yang "sok keren". Culun dalam artian, kalau ketemu cewek yang disukai, gugup - gugup gak jelas atau sok jaim. Contohnya aku. Eh.

4. "Just be yourself!" Itulah quote yang pas menurutku bisa kita cuplik dari kehidupan Bang Radit. Gak perlu sok keren yang jatuhnya malah norak. Semisal rambut dicat, tubuh ditatto, pakai tindik, ikut Geng Motor, sok minum-minuman keras, merokok atau hal-hal negatif lain yang biasanya "dianggep" sebagai hal keren oleh remaja, terutama pelajar. Kata Alamarhum Om Bob, "Bergayalah sesuai isi dompet."

5. Menjadi penulis itu keren. Bang Radit bisa munutupi tampangnya yang pas-pasan dengan kreatifitas segunung. Melalui tulisan-tulisannya, dia mampu menyihir berjuta pasang mata untuk mengidolakannya.

Selasa, 09 Desember 2014

Rahasia Rejeki

Waktu itu, aku tengah berada di majlis ilmu. Duduk bersama rekan sejawat untuk mengalunkan sholawat, atas Rasulullah Sang Penyampai Rahmat. Menjelang acara dimulai, seekor belalang terbang ke sampingku. Sedang di dinding gubug, yang terbuat dari anyaman bambu, di sebelah kanan, seekor tokek tengan jalan-jalan mencari mangsa.
Dalam keadaan seperti itu, aku berinisiatif melempar belalang tadi ke arah Tokek. Belalang pun terbang terpaksa dan akhirnya hinggap pas di depan hewan loreng itu. Namun malang nasibnya, ketika hendak menerkam, belalang sanggup menghindar. Dan terbang ke dinding seberang. Melihat hal tersebut, aku berujar, "Belum rejekinya."

Minggu, 23 November 2014

Alasan Wudhu Sebelum Tidur

"Man, kalo udah ngantuk tidur aja."

"Bentar nih, Gus, tanggung."

"Mata udah merah masih juga maksa."

Maman hanya diam, fokus tingkat tinggi ke layar laptop. Persiapan presentasi besok pagi, katanya. Aku bangkit dari kamar tidur, menuju kamar mandi. Sekembalinya dari kamar mandi, Maman bertanya, "Abis ngapain?"

Rabu, 19 November 2014

November, I'll Be A Winner! Coz I am Dreamer!

Wahai lonceng-lonceng pagi. Kuharap esok kau berdentang lebih gigih. Karena malam ini, mimpiku hadir kala terjaga.

Wahai perih-perih masa lalu. Apa yang hendak kutabur? Selain senyum di fajar yang mengabur, nanti. Kau tahu? Tanpamu aku akan tetap menjadi seonggok tubuh yang mudah layu.

Kini kusadari, benarlah cerita bintang-bintang. Mendung hadir agar kita dipertemukan dengan selimut. Sebuah alur yang indah, bagi mereka yang mampu belajar. Karena memang, apa yang kita dapati pada detik ini adalah yang terbaik. Masa lalu cukup dikenang, dan pedihnya cukup menjadi pelajaran. Bahkan sangat boleh ditertawakan, karena memang ada beberapa kebodohan yang kita lakukan pada masa itu.

Sama seperti berlalunya mendung, langit baru dan celoteh bintang riang pasti kan menyambut.
Aku percaya, akan selalu ada alasan untuk tersenyum dan bersyukur, bagi mereka yang mengerti. Dan akan selalu ada alasan untuk mengeluh bagi mereka yang dibudak nafsu. Karena tak ada kepuasan di hatinya.

Sebab itu, di sunyinya pekat malam ini, kulantunkan puja-puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala hikmah dan nikmat yang dianugerahkan. November, lets be a winner! We are fighting dreamer!

AM. Hafs
Malang, 19 Nov 2014

Rabu, 22 Oktober 2014

Adakalanya ...

Adakalanya kau hanya didatangi saat butuh. Jangan ragu untuk menolong. Karena Allah juga akan datangkan pertolongan saat kau butuh. Dan balasan Allah tentu jauh lebih tinggi nilainya, daripada pertolongan yang kau berikan pada sesama.

Adakalanya kebaikan dan ketulusanmu tak dihargai. Tapi bukan berarti hal itu menjadi pembenaran untuk menyakiti. Mungkin cukup dengan berhenti peduli padanya, agar tahu arti menghargai. Berhenti peduli tanpa menggenggam benci.

Adakalanya kebaikanmu dimanfaatkan dan membuatmu terlihat bodoh. Saat itu kau hanya perlu yakin, tak ada kebaikan yang sia-sia. Karena kekecewaan hanya akan menjadi penghalang untuk ikhlas.

Adakalanya kepedulian terasa menyakitkan. Tapi sebenarnya, akan lebih sakit saat tak ada lagi yang peduli.

AM.Hafs

Jumat, 10 Oktober 2014

Lima Bentuk Negara Menurut al-Farabi


"Jon, Loe tahu gak tentang ilmuwan muslim yang bernama Al Farabi?"

"Kagak, kenapa?" Joni masih sibuk dengan gitar barunya.

"Ini gue nemuin, buku pelajaran SKI kelas sembilan, ada tentang Al Farabi. Jon, Loe dengerin kagak sih?"

"Hemm ...." Joni ngerebahin diri ke kasur, dan mulai mencoba-coba petikan gitarnya.

"Ada satu pemikiran yang membuatku merenung."

"Tentang apa?"

Kamis, 13 Maret 2014

Ujian Sekolah

Siswa-siswi mulai memasuki ruang ujian dengan tertib dan rapi, tak berapa lama setelah bel berbunyi.
Satu persatu Guru pengawas pun masuk ke ruang ujian, sesuai dengan jadwal yang tertempel di papan pengumuman seminggu yang lalu.
Tidak seperti saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) biasa, tak ada suara riuh, gaduh. Suasana sekolah ketika ujian hampir selalu sunyi.

Anda pengunjung ke

Statistikku