Menulis seperti berkata. Menulis bisa membuat hidup kita lebih bermakna. Menulis bisa menjadikan nama kita abadi. Tapi, semua itu tergantung apa yang ditulis. Jika berupa kebaikan, ia akan menjadi umpan untuk kebaikan-kebaikan yang lain dan sebaliknya.
Menulis seperti berkata. Sudah seyogyanya, sebelum melempar tulisan ke publik, perlu dipikirkan manfaat dan mudharatnya. Agar tulisan tersebut tidak menjadi senjata makan tuan. Ini lah lima hal yang membuat penulis 'bunuh diri'?
Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Tampilkan postingan dengan label Artikel Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Mini. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Februari 2015
Selasa, 10 Februari 2015
Iklan Menyentuh Thailand
Seorang pemuda paruh baya terguyur air buangan dari atap rumah,
ketika tengah berjalan menuju tempat kerja. Bukannya marah atau kesal,
dia malah tersenyum. Diletakkannya sebuah pot berisi tanaman yang hampi
mati kekeringan, di tempat jatuhnya air tersebut.
Sampai di penyeberangan, dia membantu seorang nenek tua yang tengah mendorong gerobak untuk berjualan. Ketika tengah makan siang, dia dihampiri oleh seekor anjing liar. Dengan senyum yang khas, tanggannya mengulurkan sepotong paha ayam bakar untuk anjing tersebut. Si penjual pun hanya menggelengkan kepala melihat hal tersebut.
Di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang ibu dan anak. Mereka pengemis, di tangan anak perempuan itu, terdapat gelas plastik bertuliskan for education. Dengan cekatan jemarinya mengambil dompet, dan memberikan dua lembar uang kepada si anak. Uang dua lembar yang Tanpa berpikir, apakah tulisan itu hanya sekadar modus belaka agar memperoleh pendapatan lebih tinggi. Kejadian tersebut dilihat oleh seorang kakek tua penjual pemilik toko jam. Dia juga menatap dengan menggelengkan kepala.
Sampai di penyeberangan, dia membantu seorang nenek tua yang tengah mendorong gerobak untuk berjualan. Ketika tengah makan siang, dia dihampiri oleh seekor anjing liar. Dengan senyum yang khas, tanggannya mengulurkan sepotong paha ayam bakar untuk anjing tersebut. Si penjual pun hanya menggelengkan kepala melihat hal tersebut.
Di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang ibu dan anak. Mereka pengemis, di tangan anak perempuan itu, terdapat gelas plastik bertuliskan for education. Dengan cekatan jemarinya mengambil dompet, dan memberikan dua lembar uang kepada si anak. Uang dua lembar yang Tanpa berpikir, apakah tulisan itu hanya sekadar modus belaka agar memperoleh pendapatan lebih tinggi. Kejadian tersebut dilihat oleh seorang kakek tua penjual pemilik toko jam. Dia juga menatap dengan menggelengkan kepala.
Kamis, 05 Februari 2015
5 Tips Menulis Cerita Anak
Menulis cerita anak dalam rentan usia 7 hingga 12 tahun, agaknya
gampang-gampang susah. Terutama apabila yang dijadikan POV-nya adalah si
anak. Selain butuh pendalaman karakter, bahasa yang digunakan pun harus
mudah dipahami. Untuk menyiasati hal tersebut, ada baiknya
memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Sering membaca cerita anak. Terutama yang ada di buku-buku paket pelajaran Bahasa Indonesia atau majalah anak, seperti Bobo, Anak Saleh, Kejora, dan lain-lain. Hl ini berguna untuk mempelajari tata bahasa yang umum diberikan kepada mereka.
2. Berinteraksi dengan anak. Dengan sering berinteraksi, kita akan mampu mengenali karakter anak. Sehingga pendalaman karakter bisa lebih maksimal. Karena dunia anak, berbeda dengan dunia dewasa ataupun remaja. Pendalaman karakter tidak hanya soal bahasa, tapi dalam menuliskan cara berpikir pun perlu diperhatikan. Jangan sampai kita menulis karakter seorang anak SD tapi gaya berpikirnya terlalu dewasa.
3. Menyiasati POV. Jika kedua hal di atas telah dilakukan, tapi masih kesulitan untuk menghidupkan karakter. Kita bisa memakai alternatif dengan menggunakan POV 3, yang tidak terlalu menuntut penokohan pada karakter utama. Bisa juga dengan menggunakan POV 1 dari sisi orang tua. Untuk POV tersebut, kita hanya perlu mendalami karakter sebagai orang tua. Tentunya lebih mudah, bukan?
4. Pesan dalam cerita. Berbeda dengan menulis cerpen untuk media, yang terkadang bisa menggunakan ending menggantung. Kalau cerita anak, kita diharuskan menyajikan dengan resolusi yang jelas. Kenapa harus? Karena anak-anak akan lebih mudah mencernanya. Selain itu, sangat tidak dianjurkan membuat kisah dengan tema percintaan. Karena hanya akan meracuni moral. Seyogyanya, cerita mengandung tema persahabatan, menuntut ilmu, akhlak, atau tentang mengejar cita-cita.
5. Diselingi humor. Humor, jika dalam penyajian makanan berfungsi sebagai bumbu pelengkap atau kerupuk. Yang membuat tulisan lebih sedap atau renyah. Dengan kadar yang pas dan humor cerdas. Anak akan menyukai tulisan kita. Sehingga terhindar dari rasa jenuh dan bosan. Untuk itu, penulis cerita anak sebaiknya sering membaca buku Nasruddin, Abu Nawas, atau buku cerita humor jenaka lainnya.
Itulah, 5 tips menulis cerita anak yang bisa kubagikan. Tips kususun berdasarkan pengalaman mendongeng tiap hari Rabu bersama guru-guru kecil. Semoga bemanfaat.
AM. Hafs
Malang, 05 Februari 2015
Tulisan ini dipublish juga di Lovrinz.com
1. Sering membaca cerita anak. Terutama yang ada di buku-buku paket pelajaran Bahasa Indonesia atau majalah anak, seperti Bobo, Anak Saleh, Kejora, dan lain-lain. Hl ini berguna untuk mempelajari tata bahasa yang umum diberikan kepada mereka.
2. Berinteraksi dengan anak. Dengan sering berinteraksi, kita akan mampu mengenali karakter anak. Sehingga pendalaman karakter bisa lebih maksimal. Karena dunia anak, berbeda dengan dunia dewasa ataupun remaja. Pendalaman karakter tidak hanya soal bahasa, tapi dalam menuliskan cara berpikir pun perlu diperhatikan. Jangan sampai kita menulis karakter seorang anak SD tapi gaya berpikirnya terlalu dewasa.
3. Menyiasati POV. Jika kedua hal di atas telah dilakukan, tapi masih kesulitan untuk menghidupkan karakter. Kita bisa memakai alternatif dengan menggunakan POV 3, yang tidak terlalu menuntut penokohan pada karakter utama. Bisa juga dengan menggunakan POV 1 dari sisi orang tua. Untuk POV tersebut, kita hanya perlu mendalami karakter sebagai orang tua. Tentunya lebih mudah, bukan?
4. Pesan dalam cerita. Berbeda dengan menulis cerpen untuk media, yang terkadang bisa menggunakan ending menggantung. Kalau cerita anak, kita diharuskan menyajikan dengan resolusi yang jelas. Kenapa harus? Karena anak-anak akan lebih mudah mencernanya. Selain itu, sangat tidak dianjurkan membuat kisah dengan tema percintaan. Karena hanya akan meracuni moral. Seyogyanya, cerita mengandung tema persahabatan, menuntut ilmu, akhlak, atau tentang mengejar cita-cita.
5. Diselingi humor. Humor, jika dalam penyajian makanan berfungsi sebagai bumbu pelengkap atau kerupuk. Yang membuat tulisan lebih sedap atau renyah. Dengan kadar yang pas dan humor cerdas. Anak akan menyukai tulisan kita. Sehingga terhindar dari rasa jenuh dan bosan. Untuk itu, penulis cerita anak sebaiknya sering membaca buku Nasruddin, Abu Nawas, atau buku cerita humor jenaka lainnya.
Itulah, 5 tips menulis cerita anak yang bisa kubagikan. Tips kususun berdasarkan pengalaman mendongeng tiap hari Rabu bersama guru-guru kecil. Semoga bemanfaat.
AM. Hafs
Malang, 05 Februari 2015
Tulisan ini dipublish juga di Lovrinz.com
Rabu, 07 Januari 2015
Bukan Suspensi dalam Cerita
Sekadar berbagi pengalaman. Dulu, ketika karyaku dikritik, "Suspendnya terlalu cepat." Aku bingung, suspend apaan? Kucoba mencari di google. Tetap belum paham. Tapi baru-baru ini, ketika berkunjung ke bookfair, aku menemukan sebuah novel. Ketika kubaca, rasanya terlalu cepat jalan per-katanya. Dan akhirnya aku sadar. Itulah suspensi! Ternyata aku salah. Suspensi adalah kejutan dalam cerita yang membuat pembaca mengingat cerita kita. Mengutip fungsi Suspensi dari AnneAhira.com, Suspensi bisa digunakan sebagai ending. Agar cerita kita meliki twist, atau kejadian yang tak diduga.
Sedang yang kumaksud di sini bisa disebut sebagai tempo. Mungkin untuk lebih jelasnya, coba perhatikan kalimat berikut,
-Aku pergi ke sekolah. Sekolahku masuk siang. Di depan gerbang bertemu teman-teman. Kami berjabat tangan. Reuni pun siap dimulai.
-Aku bersiap melangkah ke sekolah. Sekolah yang sama tapi berbeda dengan kebanyakan. Karena sekolahku beroperasi pada siang hari. Sesampainya di depan gerbang, kudapati wajah-wajah ceria teman-teman. Kami saling berjabat tangan. Kemudian berjalan beriringan memasuki ruang reuni yang telah siap untuk dimulai.
Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.
AM. Hafs
Malang, 07/01/2015
Kamis, 25 September 2014
Sedikit Perbedaan Blogspot dengan Wordpress
Baru-baru saja aku mencoba aktivitas blogging menggunakan wordpress. Setelah beberapa bulan ini membagi tulisan lewat blogspot. Awalnya sedikit kebingungan. Dasbor wordpress sedikit rumit, sebab memiliki dua tampilan. Aku sebut saja tampilan lama dan baru. Perbedaannya hanya pada sisi efektivitas.
Dalam tampilan lama, kotak entri postnya mirip di blogspot, sedang dalam tampilan baru lebih elegan. Namun jangan sekali-kali menyunting postingan melalui tampian baru, karena pengalamanku kemarin, postingan tetap tidak berubah. Wordpress punya kelebihan di kolom entry, yakni fitur "baca selengkapnya", yang apabila digunakan di sembarang tempat, tidak akan memotong kalimat. Berbeda dengan Blogspot, yang fungsinya lebih mirip enter. Jadi kita tidak bisa memasangnya di tengah kata atau kalimat.
Jumat, 29 Agustus 2014
Ketika Jam Dinding Bercerita
Jarum jam pendek tengah antre BBM di POM nomor 2. Jarum panjang semenit lagi sampai ke nomor 12. Sedang jarum merah terus berlari, seperti bumi yang mengelilingi matahari.
Langganan:
Postingan (Atom)