Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 September 2017

Untuk Perempuan yang Tengah Dipeluk Hujan

Rintik berdetak
Di atap-atap
Berderak
Di lembar dedaunan
Berkecipak
Di genang-genang
Rinduku turut menggenang
Lalu menggunung
di batas jarak dan waktu

Di tengah dawai hujan
Terbayang ...
Rintik basahi matamu
Membelai hidung dan bibirmu
Gigilkan jemarimu

Aku mendekap harap
Agar lekaslekas
Jarak terpangkas
Waktu terringkas

Hingga tubuhmu dan tubuhku
Meluruhkan rindu
Dalam temu
Tak berjarak
Tak terhalangi waktu

Sebelum hujan mereda
Sebelum dingin tinggal nama
Dan biarkan aku
Menggantikan rintik
yang selimuti ragamu
tadi ...

AM. Hafs
Sawojajar, 25 September 2007

Jumat, 03 Februari 2017

Siapa yang Berhak Diumpat?

Oleh : AM. Hafs

Belum juga usai
amukan hujan semalam
Sungai kehilangan akal sehat
Turut memporandakan
Apa saja
di hadapan

Butuh lebih dari sejam
Hingga keduanya mereda
Pelangi mencoba menghibur
dari balik awan
Berlarian seperti tersibaknya tirai

Malang
Tak ada yang hirau
Tangistangis bersautan
dengan teriakan
Mengiringi langkah-langkah
Kepala kepala resah
Nan kebingungan

"Emak!"
"Bapak!"
Semua sibuk
Mencari kepala sanak keluarga
Yang mungkin masih bernyawa

Sedang di sudut puing lain
Seorang anak meringkuk
Tergugu
Tangisannya begitu pilu
Tengah berandai
"Kenapa aku tak mati bersama kalian."
di hadapan empat bujur
Mayat keluarganya

Hutan gundul di balik desa
Urung tertawa
Tapi juga tak tahu
Hendak mengumpat siapa

Kamis, 16 Juni 2016

Puisi Kucing, Rindu, Cemburu

Meow meow meow ...
Kucing Abu
Duduk malumalu
di depan pintu
Mengharap kehadiran sosokmu

Meow meow meow
Wajahnya memelas
Mengharap terbukanya pintu
Menyajikan senyum manismu
Dan mungkin
segelas susu
Seperti hari-hari lalu

Meow meow meow
Kenapa hanya sunyi
Sang kucing kian menggerutu
Apa karena pesta malam lalu?
Hingga semua penghuni rumah lelah
Termasuk kamu?

Meow meow meow
Untuk kesekian kali
Kucing abu
mengharap kemunculan sosokmu
wajahnya sendu
Dipenuhi rindu

Kucing abu melangkah maju
berhenti mengeong
memilih ke tumpukan baju
di tempat sepatu
tempat ia biasa membaringkan tubuh

Suara mobil menderu
di depan rumahmu
Si abu bangkit
ia tersenyum
melihat sosokmu
hendak lari menyongsong
sebelum bersitatap denganku
matanya menatapku dengan cemburu
Melihatmu di gendonganku
Dengan gaun pengantin putih
Dan
sesabit lengkung senyum haru.

AM. Hafs
Singosari, 16 Juni 2016

Senin, 21 September 2015

Menanti Kinanti

Berpadu padan detak nadi
Napasku menekuri sunyi
Menyapa halimun di ujung pagi

Kunanti kinanti
Sembuhkan jelaga hati
Biarkannya mengalun lirih

Usap kuusap hati
Jemariku memilah biji rindu
Dari ujung ke ujung pilu

Hari demi hari
Lakuku kian kaku
Terperangkap tempurung tapi

Adakah fajar segera terbit?
Lalu adzan tegakkan tumit
Membuat setan lari terbirit

Hitam kelabu
Bukan pekat seperti hatiku
Nyatanya aku masih menunggu

AM. Hafs
Singosari, 21/09/2015

Rabu, 19 Agustus 2015

Terima Kasih, Allah

Terima kasih, Allah. Telah menjadikan ibu, bapak dan adikku saat ini, sebagai ibu, bapak dan adik di hidupku.

Terima kasih, Allah. Telah menjadikan sahabat-sahabatku saat ini, sebagai sahabat-sahabat di hari-hariku.

Terima kasih, Allah. Telah menjadikan guru-guruku saat ini sebagai guru-guru di perjalananku mencari ilmu-Mu.

Terima kasih, Allah. Atas kasih sayang-Mu yang terus mengalir walau diri ini lebih sering dan lebih lama bercengkerama dengan makhluk-Mu daripada dengan-Mu.

Terima kasih, Allah. Atas kesempatan berladang di dunia hingga hitungan kedua puluh empat ini. Walau kurasakan, masih lebih banyak maksiat daripada taat. Masih sering kufur daripada syukur nikmat. Semoga saja, di kesempatan kali ini, Engkau beri hamba kekuatan untuk sebenar-benar taubat. Aamiiin.

AM. Hafs
Singosari, hari kesatu dari kesempatan ke dua puluh empat.

Rabu, 29 April 2015

Air Mata Langit

Air mata langit bersekutu
Memenjarakan pandanganku pada dedaunan yang menari bersama lambaian angin
Coba pandangi lekat tangkapan retinamu
Bagaimana mereka menyampaikan bisikan-bisikan rindu
Rindu yang kembali merebak bersama napas bumi

Air mata langit saling bertaut
Menenggelamkanku pada awan bergelayut yang bercumbu dengan kabut
Coba tatap bagaimana mereka mendendangkan nyanyian hujan
Bersama balutan genderang dan kilatan petir yang bersautan
Membuat kenang kian berkelindan

Air mata langit mulai pudar
Awan pengangkut butiran es dan kabut berarak pulang
Membiarkanku mengeja memoar
Lalu kuabadikan di catatan seribu mimpi; sebelum hilang
Sebab surya kian terang berpendar

Air mata langit tak lagi berwujud
Wajah langit kembali membiru
Kutundukkan hati dan bersujud
Meresapi tiap makna di lembar baru
Menghamburkan syukur atas terbitnya pelangi sepeninggal kabut

AM. Hafs
Singsari, 29 April 2015



Selasa, 17 Maret 2015

Catatan Kecil


Rinduku tergerus senyummu. Rasaku rapuh, antara ada dan tiada. Sebab resah tunggangi harap. -AM. Hafs

Setelah semua tawa, lalu timbul ragu, getir dan resah di antara rasa; dua hati. Sedang bagiku semua itu inspirasi. - AM. Hafs

Cinta itu lucu. Ada yang tengah saling merindu; menanti pesan. Namun yang tercipta malah kesunyian. -AM. Hafs

Sebagai pembelajar, aku lebih suka dengan kemampuan menulisku yang sekarang. Tapi sebagai pembaca, aku lebih suka 'aku' yang dulu. Enggak terganggu typo, atau teknis tulisan apapun. Yang kutahu, hanya ada dua macam tulisan. Ceritanya jelek atau bagus. -AM. Hafs

Setiap nafas lain yang ditemui adalah hikmah dan inspirasi. Berusaha untuk tak merasa lebih baik dari orang lain. Lalu hidup seperti air. Di gelas ia mampu memenuhi rongga gelas, tapi tidak menjadi gelas. Dan sedang menginginkan untuk jadi cahaya agar mampu memberi sinar wawasan bagi sekitar. Meski sekarang masih bukan apa-apa dan banyak kekurangan. Teringat dawuh guruku kemarin, "Tak perlu ilmu yang banyak. Sedikit yang penting diamalkan. Bisanya alif ya ajarin alif. Soalnya kalau kalian mesti belajar imrithi, jurumiyyah, alfiyah sudah bukan kelasnya. (Maklum, ngaji kampung-santri kalong pula) Dan sedikit itu harus dilaksanakan penuh tanggung jawab juga istiqomah." -AM. Hafs

Duhai para penulis atau calon penulis. Perhatikanlah! Dunia tak cukup luas untuk menyembunyikan identitas tulisan copas. -AM. Hafs

Selamat Pagi, Pujangga pengunyah rindu. Sudahkah luruh, atau masih kau coba buatnya patuh? Ah, Rindu. Dibuang sayang, ditelan susah. -AM. Hafs

Penantian akan bermuaranya cinta, hanyalah sebuah drama yang berjudul Rindu. -AM. Hafs ‪#‎PelukisRindu‬

Sebuah senyum sebelum perpisahan hanyalah nama lain dari kerinduan. Kenapa tak tinggal saja, Cinta? -AM. Hafs

Syukurlah aku dulu mencintainya. Jadi sekarang bisa mengerti betapa sakit ketika cinta tak ditempatkan di tempat yang tepat. AM. Hafs

Tak seperti cinta yang terlalu sering berkisah. Rindu lebih memilih diam di sudut relung terdalam. Menunggu pertemuan di salah satu sudut alam. -AM. Hafs

Tak ada kata terlalu pagi tuk merindu. Karena embun enggan menunggu. Padahal ia penyejuk sendu. -AM. Hafs

Memang, Rindu mudah dimengerti. Namun waktu-waktu yang ia dampingi tahu, betapa sepi yang ia sesap terlalu pedih diresapi. -AM. Hafs

Cinta lebih membutuhkan kepastian daripada kesabaran. Karena cinta tak bisa dinanti tanpa kepastian. Meski rindu meraung di tepi harap. ♥♥ -AM. Hafs

Pagi ini, Rindu duduk bersama embun di jaring laba-laba. Mencoba menangkapi rasa yang mungkin tersesat. Atau tak punya muara. -AM. Hafs

Tidak cukup dikatakan. Harus dirasakan dan diwujudkan dalam perbuatan. Tidak untuk dinanti karena tak pernah tahu di mana kan bermuara : CINTA. -AM. Hafs

SUKUR

"Tong, Nggih, Kyai. Oleh Suket pirang sak iki mau?"

"Namung setunggal, Kyai. Suket e katah ingkang pun garing."

"Tong ...."

"Nggih, Kyai."

"Ojo muni, "namung" isih sukur oleh sa' sak. Sak cilik opo ae nikmat, kudu mbok syukuri. Tanpo pilih-pilih."

"Inggih, Kyai. Insya Allah."

AM. Hafs

Suatu ketika, guruku berpesan, "Perhatikan terus bagaimana kualitas ibadahmu. Jika suatu ketika kamu merasakan begitu nikmatnya ibadah, pada saat itu ... mohonlah sebanyak-banyaknya agar nikmat itu dilanggengkan ke dalam hatimu." ~AM. Hafs

Gemerintik rintik. Mengalun bak tuts piano ditekan cantik, ciamik. Mengapa bosan? Sedang hujan saja tak bosan menyirami angan. Angan tentang renjana di malam sendu. Aku ... masih membingkai wajahmu, Rindu. Di kalbu, utuh dengan selengkung senyummu. -AM. Hafs

Kecewa itu pasti. Tapi jauh lebih baik untuk menata hati. Satu pelajaran yang bisa kuambil. Jangan menuntut penghargaan dari sebuah kebaikan. Namun, jangan sampai lupa memberi panghargaan untuk sebuah kebaikan. -AM. Hafs

PENDEKAR

"Gung, coba tengok hidupmu. Berapa banyak mereka yang masih ban putih suka berkelahi dan ban hitam malah lebih banyak diam," ujarku pada Agung yang masih memegangi pipinya yang lebam. ~AM. Hafs comot dengan perubahan dari tweet @iwan_madari

Dunia ini, adalah bagaimana cara memandangnya. ^^ Yang pasti semua rasa jangan sampai berlebihan. Berimbanglah. smile emotikon ~AM. Hafs

Quote pagi ini, "Kita adalah masing-masing. Tak perlu menjadi satu sama lain hanya untuk berjalan beriringan. " ~AM. Hafs ^^

Ketika diri sendiri mengatakan, "Sepertinya akan gagal." Itu artinya sudah gagal. Gagal membangun kepercayaan diri. ~AM. Hafs

Selamat malam diriku, sang pecandu perhatian! Sudah sekeras apa kamu menarik perhatian Tuhanmu hari ini?

Selamat malam diriku yang tengah risau sebab hilangnya sebuah nama. Apakah di sana terselip risau atas sedikitnya nama Tuhanmu yang kausebut?

Selamat malam diriku. Apakah masih merisaukan mimpi atau bekal mati yang tak mencukupi? -AM. Hafs

Semua dicuri kunang-kunang malam tadi. Di gigil kembar senja kini, yang tertinggal hanya puing-puing kenang. Berserak di antara renung akan sebuah masa, Di mana takdir terasa begitu bengis. Membiarkan tubuh yang ku-aku limbung di antara hujan tangis.

-AM. Hafs



Sekali lagi kuulangi, jangan pernah berhenti belajar menjadi orang baik. Meski dunia memusuhimu karena kebaikan tersebut. Karena pada saatnya nanti, kamu akan dipertemukan dengan banyak orang baik yang membuatmu kuat, berharga dan terharu. Seperti yang kualami hari ini. Berbuat baik agar memperoleh kepercayaan dan imbalan itu tidak sama dengan berbuat baik karena merasa sebagai muslim yang meneledani sosok uswatun chasanah. smile emotikon

Terima kasih kepada orang-orang baik yang kutemui hari ini. Semoga keberkahan hidup senantiasa menyelimuti.


AM. Hafs

Jumat, 20 Februari 2015

Hikayat Pengembara

Dia menunggangi kaki
Menelanjangi puing-puing kehidupan
Tanpa sapa, pun lirikan
Membiarkan lidah bertapa
Sekehendak hati
Membiarkan entah berkelana
Tanpa menyapa, "Kau mentari ke berapa?"
Hanya menggulir dzikir, obati nestapa
Baginya, satu terang satu gelap
Tak lebih dari gulir roda
Terbit dan lenyap
Sisakan tanya, "Apakah kita tinggalkan noda?"
Dan ketika lelap menghisap wujud
Pun tubuhnya rebahkan lelah
Hatinya bersujud
Di hantaran sajadah dedoa
AM. Hafs
Malang, 19/02/2015

Selasa, 10 Februari 2015

Genggam Erat Jemariku

Ketika matamu telah berselimut malam
Cobalah terlelap dan mulai mengembangkan bunga-bunga mimpi
yang di bangunmu terasa menghimpit nadi

Ketika mentari tersenyum
Sambutlah dengan keyakinan hati
Biarkan doa dan langkahmu memangkas jarak terperi

Bila ragu masih saja mengganggu
Cobalah berceloteh padaku
Agar semua sesak itu, mampu menemukan alur alir sendu
Sekali lagi, tutuplah matamu
Dan bayangkan, tanganku menggengam jemarimu erat
Melewati tiap-tiap rintang yang menyekat.

Senin, 08 Desember 2014

Ketika Rindu Tak Berpintu

Tahukah engkau, butiran-butiran rindu yang mengembun di talas hati? Setelah semalaman tadi rintik.
Berseluncur ke sana kemari, dalam diamnya otak kiri.

Tahukah engkau, bagaimana cara ia menggigilkan hati? Sungguh, tak mampu ditelan ainku.

Sepurnama tadi ... Lebih dari selaksa puja pada-Nya, terapal indah. Hanya untuk mengalirkan renjanaku, pada tempat seharusnya dan menghitamkan bayangmu di pekat malam.

Lantas, sepi dan beku tetap memenjarakan semua inginku.
Adakah engkau tahu?
Cara lain mengatasi ini?
Karena aku terlalu jengah dengan balada laba-laba bermuka dua.

Ia mengejekku melalui denting jaringnya. Mengalunkan nada-nada sendu. Membuat bayangmu tak kunjung keruh.

Kini, haruskah aku memaki benang merah? Yang menautkan ain kita di purnama kedua belas?
Ataukah engkau berkenan, mengautkan segala yang tercerai dari hati ini?
Menyusunnya menjadi pintu, untuk kubuka dan merengkuh kembali sabitmu yang telah pergi.

Atau dengan terpaksa, biarkan aku beramnesia. Agar semua perih itu gugur bersama mimpi indah masa lalu. Hingga aku mampu, menatap seminya harapan baru di ujung pagiku, yang sendu.

AM. Hafs
Malang, 08 Desember 2014

Rabu, 22 Oktober 2014

Puisiku, Bukan Puisi

Dawaiku tak berseru, Kawan
Mentalku tengah lumpuh
Baitku palsu
Diterkam ketidaktahuan nan kebingungan
Kisahku buntu, Kawan
Tak mampu terajut rapi
Diksiku mati, dibunuh pesimis diri
Terjebak kotak kebimbangan
Aku hanya menguntai isi hati
Tak tahu tangga nada
Aku hanya berkisah
Tak bisa merapikan aksara
Kawan,
Tuntunlah perlahan
Karena aku si bebal, penuh keangkuhan
Kawan, tuntunlah dengan sabar
Karena aku tengah gusar
Sajakku mati
Miskin diksi
Puisiku bukan puisi
Tak punya isi
Tak getarkan hati
Terkapar, sepi
Uluran tanganmu, kunanti
AM. Hafs tak berpuisi

Kamis, 16 Oktober 2014

Tujuh Belas Ke-delapan













Oleh: AM. Hafs

Derai tawa di lindung awan 
Menghias bocah-bocah berwajah putih
Berserakan, berlarian
Berteriak, kegirangan

Merah putih, kibarnya bersaksi

Bapak-ibu
Tua-muda
Berduyun, berhimpit tubuh
Mencuri bahagia

Tujuh belas ke-delapan
Kerupuk-kerupuk berjajar
Bocah lahap seolah lapar
Tujuh belas ke-delapan
Merdeka itu mereka,
Kepala-kepala ber-tawa kejujuran

Malang, 16 Oktober 2014

Senin, 06 Oktober 2014

Punguk Tinggal Nama

Kitab-kitab cinta berserak bersama daun purnama
Punguk, memunguti
Menculik tiap jejak getah hitam
Terpinang hatinya 'tuk mengetam rindu
Terbang bersama hijaunya mimpi

Merayu Rembulan

Bulan, di ujung mana lelahmu bermuara? 
Sedang tatapku sedari tadi terpaku
Bahuku tegak menunggu
Bulan, di ujung mana senyummu berlabuh?
Sedang sedari tadi bibirku menyabit padamu.
Haruskah kutunjukkan?
Senyummu tlah terlukis
di hatiku
Agar kau siramkan dian itu ...
padaku?

~AM. Hafs
Malang, 1/10/'14

Minggu, 28 September 2014

Ini Cinta atau Rindu, Dinda?

Aku tak punya selain dendang rindu
Mengalun di ujung-ujung hentak jemariku
Aku tak mendengar selain bait-bait rindu
dari sunyi di ujung-ujung getar hatiku

Senin, 08 September 2014

~ * Aku Bukan Kamu * ~ (Revisi Karya Susie Salwa)

Aku bukan kamu
Mengejar cinta hingga muara
Aku, hanya membatu menikmati cinta
Aku bukan kamu
Membiarkan cinta berlayar tanpa arah
Aku, mendekapnya hingga berakhir nafas di jiwa
Aku bukan kamu
Dengan mudah memetik bunga lainnya
Aku, menggenggam satu bunga dalam vas terindah
Aku bukan kamu
Menulis janji di tepi pasir pantai
Aku, mengukir janji di batu nurani
Aku bukan kamu
Mudah terpana pada macam bintang
Aku, memilih memeluk bulan hingga bayang menghilang
Malang, 26 Desember 2013
AM. Hafs

Tawakkal

Oleh : AM. Hafs

Bunuh aku di kesendirian
di detik itu si sakit tak punya daya
tikaman dan cacian adalah hampa
detik itu ku rasa lepas tubuh dari nyawa
kau boleh acungkan jari tengah
tapi bawalah kecewa pulang dari dunia fana
dengan kalam kuberpeluk malam
diri ini bercakap dengan pemiliknya
kau siapa dengan melakukan apa
hanya hakikat tanpa makna
rubuh bersimpah darah hanya kata mata
diri ini sudah terlena jauh
bermunajah, bercengkerama,
duhai pemilik keindahan
aku dipeluk-Mu adalah anugerah

Malang, 24 Oktober 2013

Puisi Matematika

Oleh : AM. Hafs

Cinta bukan penjumlahan
Karena hasilnya tak bisa ditentukan pasti
Cinta bukan pengurangan
Karena cinta melahirkan buah hati
Cinta bukan perkalian
Karena cinta menggandakan diri tak pasti
Cinta bukan pembagian
Karena hati istri lazimnya tak mau dibagi
Tapi ini bukan tentang cinta
Melainkan tentang sebuah janji
yang harus ditepati
Waktunyapun tak bisa ditambah, dikurangi, dikali atau dibagi.
Jika itu dilakukan
Kita kan terperosok dalam jurang kemunafikan.

Malang, 16 Desember 2013


Senin, 01 September 2014

Elegi Kemerdekaan

Oleh : AM. Hafs

Berdebum,
Bagai kapuk dilempar batu
Tercecer beberapa tubuh Para Syuhada,
Namun, tak surut langkah mereka
Mati satu tumbuh seribu
"Merdeka atau mati, Allahu Akbar!"
Pekik bersautan, maju tanpa ragu
Membuat musuh gentar

Rabu, 20 Agustus 2014

Duhai Kupu Perawan

Oleh : AM. Hafs

Purnama menangis darah
Derik penjelajah malam menghujat bedebah
Tampak Kupu perawan terbang tertatih
Tercabik hari, terlelah
Batin retak merintih

Anda pengunjung ke

Statistikku