Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2016

Mimpi atau Relita?

Mimpi atau realita? Begitu judul sebuah give away di sebuah blog yang kuikuti. Kau tahu, beberapa hari ini aku 'sakau' kepada sebuah pertanyaan. Di dalam tempurung otakku, terasa ada sesuatu yang ingin keluar tapi tak ada jalan keluar. Dan pagi ini, setelah menelurkan beberapa artikel aku merasa lebih hidup. Itulah kenapa kemudian kata mutiara, "Menulis membuatku lebih hidup" kutempelkan di bagian bawah kanan blog ini.

Mimpi atau realita? Begitu mendapati pertanyaan ini, otakku segera bekerja. Menggali kemungkinan-kemungkinan. Menggali pengalaman yang kemudian lahir sebagai tulisan beriku, yang percayalah bahwa sebelumnya aku pun tak pernah memikirkannya. Seperti sebuah kejutan begitulah rasanya kaetika aku menemukan sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan.


Mimpi atau Realita?

Senin, 13 Juli 2015

Muhasabah Sebelum Kembali Menepi (yang Bisa Jadi Akan Gagal Lagi)

Setelah beberapa hari ini jemariku lincah berkhotbah di beranda facebook dan komunitas kepenulisan. Beberapa waktu setelahnya aku merenung. Menghisab cacat diri juga hati. Di samping untuk sebuah asa akan perbaikan, juga agar aku tak punya waktu menghitung cacat orang lain. Dari renungan itu, kuhasilkan beberapa patah-dua patah kalimat berikut.

Betapa bahagianya orang-orang yang bisa tuli dari pujian. Tak sepertiku, yang buncah ketika sebiji jempol menempel di karyaku. Padahal simbol jempol itu bisu dan absurd. Sebab suka tak berarti bagus.

Senin, 02 Maret 2015

Apa Kriteria Jodohmu? (Cerpen)

Apa Kriteria Jodohmu?

Sahabatku bercerita. Suatu waktu, di kantin pada jam istirahat ia bertanya pada kawan perempuannya, "Apa kriteria jodohmu?"

Perempuan yang ia temui beberapa bulan ini. Teman yang dipertemukan di tempat tes kerja, hingga akhirnya diterima di bagian yang sama. Keakraban yang timbul, membuat sahabatku jatuh hati. Sayang, ia tak pernah benar merasa siap untuk mengatakannya.

"Eh, kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Perempuan berjilbab itu menjadi kikuk.

"Enggak, cuma mau tahu aja." Sahabatku terkekeh. Berusaha mencairkan kegugupan yang ia ciptakan dan berharap perempuan itu tidak berpikir macam-macam. Mengingat karakter yang ia tunjukkan selama ini "slenge'an".

"Emmm, aku sih mimpinya punya suami hafidz."

Uhuk! Sahabatku meletakkan kembali segelas teh jeruk di genggaman ke atas meja. Mengambil sapu tangan dan mengelap lelehan di bibirnya.

"Eh? Kamu kenapa?"

"Enggak, gak papa lanjutin!" Sahabatku kembali terkekeh dan menggaruk hidung.

"Emm apa ya? Kayaknya yang penting satu itu. Lainnya menyesuaikan." Kini, Pipi perempuan seperempat abad memerah.

 "Kalau misal ada yang melamar, tapi  gak hafidz gimana?"

"Hemmm, ya boleh aja, asal agamanya lumayan dan lagi bacaan Al-Qurannya harus fasih. Biar bisa jadi pentashih hafalanku."

Uhuk! Kali ini sahabatku tersedak angin.

"Hafidzah to?"

Dia tersenyum, "Alhamdulillah."

Ia sosok yang terbuka dan ramah tapi tetap memegang batas. Risih bila disentuh pria dan juga tak pernah mau dibonceng lawan jenis. Sebab itu, sahabatku nyaman berteman dengannya.

"Pantesan."

"Eh, aku kok kayak lagi diprospek ya?"

Sahabatku tertawa, "Emang iya."

"Maksudnya?" Wajah polosnya penuh tanda tanya.

"Boleh gak kalau bulan depan aku melamarmu?"

Uhuk! Gantian, perempuan itu yang tersedak.

"Serius? Kok tiba-tiba?"

"Tiba-tiba gimana? Kita kan udah kenal selama ...." Sahabatku menghitung dengan jari, "lima bulan." Sahabatku terkekeh.

"Gimana ya?" Pertanyaan mengambang. Membuat jantung sahabatku berdegup kencang. "Boleh deh. Tapi keputusannya ada di Abi sama  Kakak laki-lakiku dan satu lagi, siap-siap dites bacaan qurannya." Perempuan itu tersenyum penuh makna. Dia pun sebenarnya menyimpan kagum. Sebab pernah tanpa sengaja mendapati lantunan ayat suci mengalir dari bibir sahabatku di musala kantor.

"Siap!" Sahabatku bersemangat.

Mereka pun berpisah ke ruang kerja masing-masing sembari menikmati hentakan jantung yang tak wajar.

Entah apa yang terjadi. Seminggu setelah kejadian itu, perempuan yang akhirnya oleh sahabatku disebut Nara, menjauhinya. Bila bertemu, hanya ada senyum disertai rasa canggung.

Ketika kusarankan untuk menelponnya, sahabatku menolak. "Biarkan dulu, mungkin dia ingin menenangkan pikirannya," tulisnya.

Namun ketika keadaan itu bertahan hingga tiga minggu, sahabatku akhirnya tak mampu menahan rindu.  Mulailah jemarinya mencari kontak Nara.

"Assalaa ...."

"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Cobalah beberapa saat lagi." Suara dari seberang setelah bunyi tut terakhir.

Sahabatku mencoba lagi.

"Assalaamu'alaikum, ada apa, Mas?" Suara lembut meluruhkan hati sahabatku.

Dengan hati-hati sahabatku menjelaskan kegundahan dan isi pikirannya.

"Maaf, Mas. Nara hanya ingin menjaga hati. Agar tak terlalu berharap. Karna Nara tak tahu apa yang akan terjadi minggu depan. Nara harap, Mas mengerti."

Setelah sahabatku mengucap maaf dan beruluk salam, percakapan pun diakhiri. "Hah, seminggu lagi. Bismillah."

***

Hari yang ditunggu pun tiba ...

Sahabatku hadir bersama kedua orang tuanya. Ketika dikabari mengenai rencana lamaran, orang orang tuanya sangat bergembira. Mengingat umur sahabatku yang menginjak angka dua puluh tujuh. Lebih sehari.

Jum'at yang cerah untuk sebuah niat suci. Agaknya mentari turut semringah tapi tidak dengan Nara atau pun sahabatku. Keduanya was-was dan berhujan keringat. Padahal, embun saja masih menggantung di ujung daun.

Bapak dan Ibu Nara tak menyangka, kedatangan keluarga sahabatku begitu pagi. Untung saja, semua jamuan telah siap sebelum subuh. Karena Nara dan ibunya mempersiapkan semua sejak pukul 3 pagi.

Dengan sedikit gugup, sahabatku menengok jam tangan hitamnya. 07.15 seharusnya gigil di tubuhnya mulai hilang. Tapi yang ada malah sebaliknya. Melihat gelagat putranya, Ayah sahabatku pun memberi pesan, "Jangan gugup! Baca sholawat yang banyak. Nanti kalau sudah di dalam, tekuk kedua jempol kakimu."

Apa hubungannya gugup sama jempol kaki? Tapi sahabatku tak ambil pusing. Dituruti saja pesan ayahnya. Begitu menginjak kaki di halaman. Nampak kedua orang tua Nara dan kakak lelakinya tengah menunggu di beranda. Setelah saling beruluk salam dan berjabat tangan, rombongan sahabatku dipersilahkan masuk.

Baru saja sahabatku merebahkan punggung di kursi dan menenangkan hati, tak lupa juga menekuk jempol kaki, ibunya sudah memberi shock terapi, "Ayo, Le, sampaikan maksudmu ke Abinya Nara."

"Lho lha kok?"

"Ehem," ayah sahabatku berdehem.

Itu artinya tak ada jawaban lain selain harus meng'iya'kan perintah ibu.
Bukannya ... seharusnya Ayah yang ngomong? Batinnya. Terlihat Ayah, Ibu dan Kakak Nara tersenyum.

Nara yang mengamati dari balik kelambu turut berdebar-debar. Dari mulutnya terus menerus menggumamkan Al-Insyirah, berharap semuanya dimudahkan.

"Emm ..." Sahabatku membenarkan posisi duduknya yang tidak salah, "begini ... kedatangan saya dan orang tua kami kemari ..."

Belum sempat kalimatnya terselesaikan, abinya Nara memotong.
"Iya, kami sudah diberitahu Nara. Begini saja, kasihan Nak Mas terlihat gugup. Mending langsung ke Tesnya saja."

Kakaknya Nara menyodorkan sebuah mushaf al-Quran bersampul warna perak.

"Coba baca An-Nisa ayat 4."

Diterimanya mushaf tersebut dan mendekapnya. Setelah membaca syahadat, ta'awudz. dan basmalah, sahabatku memejamkan mata. Lalu dari bibirnya terlantun surat yang dimaksud dengan merdu.

Melihat hal tersebut, Nara hanya menganga. Menaruh telapak tangan kanannya di depan bibir. Tak menyangka jika ternyata sahabatku seorang hafidz. Sedang kedua orang tua nampak tersenyum puas. Tapi tidak dengan kakaknya, setelah bacaan sahabatku selesai, ia kembali memerintah, "At-taubah ayat 71"

Selesai dengan lancar dan disambut dengan perintah ketiga, "Surat An-Nuur!"

Nara tak bisa menyembunyikan kerisauannya. Sedang sahabatku mengambil nafas dalam. Namun ketika akan melantunkan surat, ia menundanya, "Maaf, ada air putih?"

Seketika tawa memecah ketegangan. Saking khusyuknya sampai tuan rumah lupa menyajikan minuman. Nara hadir ke tengah pasang keluarga. Ia tampak anggun dengan busana biru dan kerudung biru laut bermotif bung. Ayah sahabatku berujar, "Oh ini to yang namanya Nara, pantesan putraku ngebet minta dilamarkan."

Kembali tawa menggema.

"Monggo diminum." Ayah Nara mempersilakan.

Setelah meneguk teh hangat, suasana tegang menyelimuti. Sahabatku bersiap melantunkan kembali ayat suci. Kembali dibuka dengan syahadat, ta'awudz, dan kemudian basmalah.

"Suurotun an(g)zalnaahaa wa farodhnaahaa ... (sampai akhir ayat.) Shodaqallaahul'adziim."

"Subhanallaah."

Ibunya Nara terlihat berbisik. Sedang kakaknya pamit ke dalam.

"Ehem ... saya kagum dengan Nak Mas ini. Bacaan indah, Nara banyak cerita tentang akhlak Nak Mas. Tapi tak pernah cerita kalau Nak Mas ternyata seorang Hafidz. Tapi sebelumnya, kami memohon maaf." Ayah Nara mengambil nafas. Tampak sengaja memberi jeda, "Kami tidak bisa menerima lamaran Nak Mas."

Nara, Sahabatku dan kedua orangnya tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Tapi ...." Semua nampak menyimak dengan perasaan yang tak menentu.

"Kami akan dengan senang hati, seandainya Nak Mas mau melakukan akad sekarang juga."

Nara terkejut, begitu pula dengan Sahabatku dan kedua orang tuanya.

"lho lha itu anu." Sahabatku gelagapan, "Pak? Bawa uang buat mahar?" lanjutnya.

"Cuma bawa dua ratus ribu," bisiknya.

"Tenang, mahar bisa nyusul. Nomer sekian itu, yang penting Nak Mas bersedia atau tidak?"

Sahabatku mengusap-usap telinga, "Be-bersedia, Pak."

Kakaknya datang dengan beberapa tetangga sekitar sebagai saksi. Dan turut hadir pula Penghulu desa. Agaknya rencana ini telah dipersiapkan tanpa sepengetahuan Nara.

"Saya terima nikahnya Sabrina Raudhotul Jannah binti Haji Mas'ud Abdillah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar dua juta rupiah hutang."

"Sah?"

"Sah!" Serempak para saksi berteriak.

Sahabatku pun memulai kisahnya yang baru di buku yang baru. Karena tubuhku telah penuh oleh kisah semasa lajangnya. Tertanda : Buku Diary

Sekian. Sila baca tulisanku yang lain di www.Lovrinz.com atau www.shohibulgubug.blogspot.com makasih ^^

Malang, 02 Maret 2015
AM. Hafs

Jumat, 20 Februari 2015

Pesan Seribu Makna

Sampai detik ini, aku masih berusaha memahami pesan dari seseorang, yang telah kuanggap seperti kakak juga guru. Tulisnya dalam sebuah komentar, "Semakin ke atas, jangan kau angkat kepalamu tinggi-tinggi. Sebab hal indah terpampang buanyak banget di bawah. Lihatlah ... Bawalah keindahan itu ke atas juga. Bila kau angkat kepalamu tinggi-tinggi, kau akan sendiri.

Percayalah ...
Bila kau tak percaya yang kukatakan, coba tanya yang di samping sana ... yang tak pernah mau melihat ke bawah. Sekarang dia hanya bisa menyesali, sebab lehernya pegel karena mendangak terus ke atas."

Awalnya aku memahaminya sebagai peringatan agar menjaga hati dari kesombongan. Tapi, pemahaman itu tak serta merta memuaskan kalbu. Hari ke hari, berusaha mencari. Aku merasa ada sesuatu yang lain. Renungan demi renungan berlarian di pikir juga hati. Hingga pagi ini aku mendapati jawaban baru.

Rabu, 18 Februari 2015

Smart Girl, The Dream Girl

There was a youngman. He is Arabian, handsome, shalih, and very smart. He wanted to marry with a smart and shalihah woman like him. So, He did a journey from a nomadic tribe to other nomadic tribe to found the dream girl.

Meanwhile he went to nomadic tribe inYaman. On the way, He met a man.

The Youngman greeted,”Hi, Sir! Could you bring me and I bring you?”

Selasa, 10 Februari 2015

Hal-hal Sederhana yang Membahagiakan Hati (1)

Banyak yang menjelaskan bahwa bahagia itu sederhana, tapi banyak pula yang belum memahami. beberapa hal di bawah ini, mungkin mampu membawa anda kepada hikmah kebahagiaan.

1. Nikmatnya beristirahat

Sepulang sekolah, tubuhmu yang lelah sudah tak sabar untuk merebah di kamar. Tak kamu sangka, ternyata sprei yang membalut tempat tidurmu baru saja selesai dicuci. Kamu pun merebah dengan menghirup aroma terapi yang menyelimuti. Hingga akhirnya kamu terlelap dengan senyum yang mengembang.

2. Tak Jadi Sial

Hujan deras yang mengguyur semalam, membuat daratan di linkunganmu tergenangi air. Kamu yang terburu-buru mengejar Bus Sekolah, tak sempat memerhatikan sisi jalan yang becek. Kamu terkejut, hingga jantungmu berdetak lebih cepat karena kakimu terpeleset. Untung saja, tubuhmu masih seimbang. Sehingga tetap berdiri tegak. dan lumpur tersebut hanya membuat sepatu sedikit kotor. Kamu pun kembali berlari dengan senyum syukur.

Iklan Menyentuh Thailand

Seorang pemuda paruh baya terguyur air buangan dari atap rumah, ketika tengah berjalan menuju tempat kerja. Bukannya marah atau kesal, dia malah tersenyum. Diletakkannya sebuah pot berisi tanaman yang hampi mati kekeringan, di tempat jatuhnya air tersebut.

Sampai di penyeberangan, dia membantu seorang nenek tua yang tengah mendorong gerobak untuk berjualan. Ketika tengah makan siang, dia dihampiri oleh seekor anjing liar. Dengan senyum yang khas, tanggannya mengulurkan sepotong paha ayam bakar untuk anjing tersebut. Si penjual pun hanya menggelengkan kepala melihat hal tersebut.

Di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang ibu dan anak. Mereka pengemis, di tangan anak perempuan itu, terdapat gelas plastik bertuliskan for education. Dengan cekatan jemarinya mengambil dompet, dan memberikan dua lembar uang kepada si anak. Uang dua lembar yang Tanpa berpikir, apakah tulisan itu hanya sekadar modus belaka agar memperoleh pendapatan lebih tinggi. Kejadian tersebut dilihat oleh seorang kakek tua penjual pemilik toko jam. Dia juga menatap dengan menggelengkan kepala.

Kamis, 05 Februari 2015

5 Tips Menulis Cerita Anak

Menulis cerita anak dalam rentan usia 7 hingga 12 tahun, agaknya gampang-gampang susah. Terutama apabila yang dijadikan POV-nya adalah si anak. Selain butuh pendalaman karakter, bahasa yang digunakan pun harus mudah dipahami. Untuk menyiasati hal tersebut, ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut :

1. Sering membaca cerita anak. Terutama yang ada di buku-buku paket pelajaran Bahasa Indonesia atau majalah anak, seperti Bobo, Anak Saleh, Kejora, dan lain-lain. Hl ini berguna untuk mempelajari tata bahasa yang umum diberikan kepada mereka.

2. Berinteraksi dengan anak. Dengan sering berinteraksi, kita akan mampu mengenali karakter anak. Sehingga pendalaman karakter bisa lebih maksimal. Karena dunia anak, berbeda dengan dunia dewasa ataupun remaja. Pendalaman karakter tidak hanya soal bahasa, tapi dalam menuliskan cara berpikir pun perlu diperhatikan. Jangan sampai kita menulis karakter seorang anak SD tapi gaya berpikirnya terlalu dewasa.

3. Menyiasati POV. Jika kedua hal di atas telah dilakukan, tapi masih kesulitan untuk menghidupkan karakter. Kita bisa memakai alternatif dengan menggunakan POV 3, yang tidak terlalu menuntut penokohan pada karakter utama. Bisa juga dengan menggunakan POV 1 dari sisi orang tua. Untuk POV tersebut, kita hanya perlu mendalami karakter sebagai orang tua. Tentunya lebih mudah, bukan?

4. Pesan dalam cerita. Berbeda dengan menulis cerpen untuk media, yang terkadang bisa menggunakan ending menggantung. Kalau cerita anak, kita diharuskan menyajikan dengan resolusi yang jelas. Kenapa harus? Karena anak-anak akan lebih mudah mencernanya. Selain itu, sangat tidak dianjurkan membuat kisah dengan tema percintaan. Karena hanya akan meracuni moral. Seyogyanya, cerita mengandung tema persahabatan, menuntut ilmu, akhlak, atau tentang mengejar cita-cita.

5. Diselingi humor. Humor, jika dalam penyajian makanan berfungsi sebagai bumbu pelengkap atau kerupuk. Yang membuat tulisan lebih sedap atau renyah. Dengan kadar yang pas dan humor cerdas. Anak akan menyukai tulisan kita. Sehingga terhindar dari rasa jenuh dan bosan. Untuk itu, penulis cerita anak sebaiknya sering membaca buku Nasruddin,  Abu Nawas, atau buku cerita humor jenaka lainnya.

Itulah, 5 tips menulis cerita anak yang bisa kubagikan. Tips kususun berdasarkan pengalaman mendongeng tiap hari Rabu bersama guru-guru kecil. Semoga bemanfaat.

AM. Hafs
Malang, 05 Februari 2015

Tulisan ini dipublish juga di Lovrinz.com

Kamis, 22 Januari 2015

Nikmatnya Kesetiaan

Suatu hal yang aneh bagiku adalah ketika kata setia jauh lebih mudah dijalani daripada memilih. Karena terkadang aku malah bertanya pada diri sendiri, "Pantaskah aku memilih?". Di masa ketika aku memiliki sebuah hati yang bisa kujaga, kesetiaan adalah sebuah nikmat yang luar biasa. Kesetiaan yang mampu membuat pandanganku menunduk, sikapku terjaga. Tidak seperti sekarang yang seringnya mata ini jelalatan. Meski hanya berupa tengokan sesaat, tetap saja ada rasa sesal yang timbul setelahnya.

Terkadang, aku merindukan masa-masa itu. Masa di mana hanya menggenggam satu hati. Namun, aku tahu ... masa lalu tetaplah masa lalu. Hanya untuk dikenang dan diambil hikmahnya. Bukan lagi untuk diratapi atau disesali. Karena hanya akan menyakiti hati dan membuang waktu. Dan cara terbaik untuk mengatasi hal itu adalah dengan menjadikannya tulisan yang menginspirasi.

Sabtu, 17 Januari 2015

Kemunduran Fungsi Al Quran

Supaya tidak lupa, lebih baik kutuliskan di sini. Baru saja aku menemukan sebuah video dari youtube. Tayangan dari Bayyinah TV. Sebuah tayangan yang cukup menampar, kritik tajam dari seorang penggiat bahasa Arab. Berikut hal-hal yang sempat kutangkap.

10 Perbedaan Orang Cerdas (Oce) dan Orang Bodoh (Obo)


1.
Oce, "Aku harus menyelesaikannya sekarang. Karena besok belum tentu bisa."
Obo, "Ah, masih satu jam lagi. Nyantai dulu saja."

2.
Oce, "Ah, semakin kubelajar, semakin banyak yang belum kuketahui."
Obo, "Apa sih yang enggak gue tahu? Sudah di luar kepala semua."

3.
Oce, "Ayo kamu pasti bisa! Kamu pasti kuat! Kamu itu special! Gak ada yang gak mungkin bagi orang yang mau berusaha, percaya, deh!"
Obo, "Gue gak bisa nih! Gue lemah! Semuanya mustahil!"

4.
Oce, "Muhasabah sebelum tidur itu harus kubiasain!"
Obo, "Nih! Gue hebat! Nih piala gue! Banyak bukan?"

5.
Oce, "Semua butuh perhitungan dan evaluasi. seperti kata pepatah, berpikir tiga langkah sebelum mengambil satu langkah maju!"
Obo, "Ah, lama! Udah sikat aja! Untung rugi belakangan"

Selasa, 13 Januari 2015

Sholeh dan Cita-Cita Santrinya

“Siapa yang sudah niat dari rumah? Tunjuk tangan!” tanya Ustadz Sholeh pada santri-santrinya setelah membaca doa pembuka.

Hanya dua orang yang menunjuk tangan, dari sepuluh anak yang hadir.

“Kalian ini gimana? Udah berkali-kali diingatkan, masih saja sering lupa. Sekarang hari Jumat, kalian ingat waktunya apa?”

Hening, “Hafalan juz ‘amma, Mas.” Hanya Firman yang menyahut.

“Oke, waktunya hafalan. Siapa yang tadi sore belajar?”

Selasa, 16 Desember 2014

Sholeh dan Santrinya (Mencium Cewek?)

Seperti biasa, di hari Rabu, setelah magrib aku mengajarkan kaligrafi pada ashhabul gubug junior (sebutan untuk santri Si Sholeh). Setelah itu, kami bersholawat bersama, dengan syi'ir hasil gubahanku. Mau tahu seperti apa sholawatnya? Seperti ini,

Sholaatulloh salaamulloh
'Ala thoha Rosuulillah
Sholaatulloh salaamulloh
'Ala yaasiin habibillah

Anak sholeh rajin mengaji
Tingkah lakunya sopan terpuji
Anak sholeh tak suka menyakiti
Rajin ibadah suka memberi

Kamis, 16 Oktober 2014

Tujuh Belas Ke-delapan













Oleh: AM. Hafs

Derai tawa di lindung awan 
Menghias bocah-bocah berwajah putih
Berserakan, berlarian
Berteriak, kegirangan

Merah putih, kibarnya bersaksi

Bapak-ibu
Tua-muda
Berduyun, berhimpit tubuh
Mencuri bahagia

Tujuh belas ke-delapan
Kerupuk-kerupuk berjajar
Bocah lahap seolah lapar
Tujuh belas ke-delapan
Merdeka itu mereka,
Kepala-kepala ber-tawa kejujuran

Malang, 16 Oktober 2014

Jumat, 10 Oktober 2014

Lima Bentuk Negara Menurut al-Farabi


"Jon, Loe tahu gak tentang ilmuwan muslim yang bernama Al Farabi?"

"Kagak, kenapa?" Joni masih sibuk dengan gitar barunya.

"Ini gue nemuin, buku pelajaran SKI kelas sembilan, ada tentang Al Farabi. Jon, Loe dengerin kagak sih?"

"Hemm ...." Joni ngerebahin diri ke kasur, dan mulai mencoba-coba petikan gitarnya.

"Ada satu pemikiran yang membuatku merenung."

"Tentang apa?"

Senin, 22 September 2014

Sholat Duhur Berapa Kali?


"David udah sholat ta? Mas Agus mau sholat duhur dulu."

"Bentar lagi." 

Bocah lima tahun itu tengah asyik nonton film Cars di laptopku. Aku pun beranjak ke kamar mandi. Ketika hendak mengambil wudhu, kepala si David melongok ke dalam kamar mandi.

"Aku mau sholat juga wes. Berapa kali?"

Aku bingung dengan pertanyaannya, apanya yang berapa kali? Tapi reflek kujawab empat. Karena berpikir yang dimaksud pasti rokaatnya.

"Wah, Mas Agus bohong."

Nah lho? Aku jadi bingung. Langsung kuralat. "Eh, satu kali."

Sekarang dianya yang bingung. Kepalanya menghilang dari pandangan. Sejenak kemudian terdengar teriakannya.

"Buuuk, sholatnya berapa kali?"

Kamis, 13 Maret 2014

Ujian Sekolah

Siswa-siswi mulai memasuki ruang ujian dengan tertib dan rapi, tak berapa lama setelah bel berbunyi.
Satu persatu Guru pengawas pun masuk ke ruang ujian, sesuai dengan jadwal yang tertempel di papan pengumuman seminggu yang lalu.
Tidak seperti saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) biasa, tak ada suara riuh, gaduh. Suasana sekolah ketika ujian hampir selalu sunyi.

Anda pengunjung ke

Statistikku