Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2016

Mimpi atau Relita?

Mimpi atau realita? Begitu judul sebuah give away di sebuah blog yang kuikuti. Kau tahu, beberapa hari ini aku 'sakau' kepada sebuah pertanyaan. Di dalam tempurung otakku, terasa ada sesuatu yang ingin keluar tapi tak ada jalan keluar. Dan pagi ini, setelah menelurkan beberapa artikel aku merasa lebih hidup. Itulah kenapa kemudian kata mutiara, "Menulis membuatku lebih hidup" kutempelkan di bagian bawah kanan blog ini.

Mimpi atau realita? Begitu mendapati pertanyaan ini, otakku segera bekerja. Menggali kemungkinan-kemungkinan. Menggali pengalaman yang kemudian lahir sebagai tulisan beriku, yang percayalah bahwa sebelumnya aku pun tak pernah memikirkannya. Seperti sebuah kejutan begitulah rasanya kaetika aku menemukan sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan.


Mimpi atau Realita?

Masih Tentang Februari, Surat Kepada Bapak

Tanggal 2 Februari kemarin adalah hari jadi bapakku. Pada dinding facebook, aku mengadu keresahan yang akan kuhadirkan ulang di laman ini.

Persembahan Kecil di Hari Jadi Bapakku (2 Feb 2016)

Bapak, hari ini pada kurun setengah abad lebih yang lalu engkau menatap dunia. Walau aku tak tahu bagaimana wajah yang engkau hadirkan kala itu, tapi aku bisa memastikan engkau lahir dengan membawa suara memekik dan air mata. Sebab belum pernah kudapati ada bayi yang lahir kemudian tertawa ngakak seperti penonton 'komedi berdiri', dan  lucunya, tangis itu disambut gembira oleh kedua orang tuamu.

Bapak, ada banyak kemiripan kita. Sehingga, walau tanpa tes DNA aku yakin jika engkau memang bapakku. Salah satu kemiripan kita yaitu, dalam hal pendidikan kita tak terlalu memedulikan teman. Dalam artian kita tak ragu dan tak malu berangkat sekolah atau mengaji sendirian. Membiarkan teman-teman yang lain bergerombol kesana kemari. Begitu cerita emak kepadaku. Barangkali, kalau zaman sekarang, engkau akan dijuluki sok alim.

Mungkin engkau tak tahu, Pak. Zaman SMA dulu aku juga terbiasa sendirian. Ketika semua teman lelaki menerlambatkan diri masuk kelas seusai istirahat, aku sendirian yang masuk kelas tepat waktu. menjadi satu-satunya pejantan tangguh di antara dua puluhan kaum hawa. Karena kebiasan itu, aku sukses mendapat julukan kuper. Lucu sekali, kenapa bukan playboy ya? Heheu.

Bapak, satu hal yang patut aku banggakan darimu. Yakni, ketika suatu hari ada orang yang menjahilimu. Tapi, engkau tetap saja mampu berpikir dan berbuat baik. Barangkali oleh pemuda sekarang engkau akan dijuluki lugu. Lugu dalam artian sebenarnya, bukan lucu 'gundek'. Aku tak sampai hati bercita-cita menduharkai engkau. Walau uang jajan tak lagi kuterima semenjak bekerja.

Pak, suatu hari aku berkunjung ke rumah nenek. Beliau memberi wejangan kepadaku agar jadi anak yang patuh. Nenek bercerita, bahwasanya engkau dulu adalah anak yang patuh. Berbeda denganku, yang di masa kecil dulu pernah menantangmu main pedang-pedangan saat aku hendak engkau cambuk, gara-gara tidak mau berangkat ngaji. Apa engkau masih ingat, Pak? Ah, betapa menjengkelkannya aku waktu itu.

Senin, 13 Juli 2015

Muhasabah Sebelum Kembali Menepi (yang Bisa Jadi Akan Gagal Lagi)

Setelah beberapa hari ini jemariku lincah berkhotbah di beranda facebook dan komunitas kepenulisan. Beberapa waktu setelahnya aku merenung. Menghisab cacat diri juga hati. Di samping untuk sebuah asa akan perbaikan, juga agar aku tak punya waktu menghitung cacat orang lain. Dari renungan itu, kuhasilkan beberapa patah-dua patah kalimat berikut.

Betapa bahagianya orang-orang yang bisa tuli dari pujian. Tak sepertiku, yang buncah ketika sebiji jempol menempel di karyaku. Padahal simbol jempol itu bisu dan absurd. Sebab suka tak berarti bagus.

Anda pengunjung ke

Statistikku