Tanggal 2 Februari kemarin adalah hari jadi bapakku. Pada dinding facebook, aku mengadu keresahan yang akan kuhadirkan ulang di laman ini.
Persembahan Kecil di Hari Jadi Bapakku (2 Feb 2016)
Bapak, hari ini pada kurun setengah abad lebih yang lalu engkau menatap dunia. Walau aku tak tahu bagaimana wajah yang engkau hadirkan kala itu, tapi aku bisa memastikan engkau lahir dengan membawa suara memekik dan air mata. Sebab belum pernah kudapati ada bayi yang lahir kemudian tertawa ngakak seperti penonton 'komedi berdiri', dan lucunya, tangis itu disambut gembira oleh kedua orang tuamu.
Bapak, ada banyak kemiripan kita. Sehingga, walau tanpa tes DNA aku yakin jika engkau memang bapakku. Salah satu kemiripan kita yaitu, dalam hal pendidikan kita tak terlalu memedulikan teman. Dalam artian kita tak ragu dan tak malu berangkat sekolah atau mengaji sendirian. Membiarkan teman-teman yang lain bergerombol kesana kemari. Begitu cerita emak kepadaku. Barangkali, kalau zaman sekarang, engkau akan dijuluki sok alim.
Mungkin engkau tak tahu, Pak. Zaman SMA dulu aku juga terbiasa sendirian. Ketika semua teman lelaki menerlambatkan diri masuk kelas seusai istirahat, aku sendirian yang masuk kelas tepat waktu. menjadi satu-satunya pejantan tangguh di antara dua puluhan kaum hawa. Karena kebiasan itu, aku sukses mendapat julukan kuper. Lucu sekali, kenapa bukan playboy ya? Heheu.
Bapak, satu hal yang patut aku banggakan darimu. Yakni, ketika suatu hari ada orang yang menjahilimu. Tapi, engkau tetap saja mampu berpikir dan berbuat baik. Barangkali oleh pemuda sekarang engkau akan dijuluki lugu. Lugu dalam artian sebenarnya, bukan lucu 'gundek'. Aku tak sampai hati bercita-cita menduharkai engkau. Walau uang jajan tak lagi kuterima semenjak bekerja.
Pak, suatu hari aku berkunjung ke rumah nenek. Beliau memberi wejangan kepadaku agar jadi anak yang patuh. Nenek bercerita, bahwasanya engkau dulu adalah anak yang patuh. Berbeda denganku, yang di masa kecil dulu pernah menantangmu main pedang-pedangan saat aku hendak engkau cambuk, gara-gara tidak mau berangkat ngaji. Apa engkau masih ingat, Pak? Ah, betapa menjengkelkannya aku waktu itu.
Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Tampilkan postingan dengan label Hari Jadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Jadi. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Maret 2016
Langganan:
Postingan (Atom)