Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Selasa, 05 Februari 2019
Yang Hitam Kelam pun Masih Bisa Memutih
Jumat, 03 Februari 2017
Hikmah Dua Puluh Menit
Sudah dua hari ini, Pariono hanya bisa menggeleng kepala di balik meja kerjanya. Sesekali dia mengambil napas panjang. Seakan-akan tak percaya dengan apa yang terjadi.
Kemarin, lelaki tiga puluh tahun itu telat ngantor, tidak banyak, hanya delapan menit. Dia masih bisa tersenyum semringah. Meski juga masih menyimpan keheranan. Sebab tak pernah ia telat sampai begitu lama. Meski kerap tidur seusai subuh. Barangkali karena cuaca yang begitu dingin, membuat tubuhnya menolak untuk keluar dari selimut.
Sedang pagi ini, dia benar-benar tak habis pikir. Melongok ke layar gawainya, sudah pukul 8:42. Segera saja dia melonjak dari kasur tipisnya ke kamar mandi, membasahi tubuh secepat kilat tanpa memakai sabun, berganti pakaian, menuruni tangga, meninggalkan jatah sarapan.
Sampai di gerbang biru tempatnya bekerja, waktu menunjukkan pukul 8:50. Padahal seharusnya kantor travel umroh haji itu buka pukul 8:30. Bersamaan dengan itu, pimpinannya datang memarkir mobil pajero hitam. Keluar dengan berkacak pinggang. Semacam terkena sidak dadakan, bulir-bulir keringat dingin meluncur di dahinya. Prestasinya yang tak pernah telat selama 3 bulan terakhir seolah tak berarti. Hari pertama dari selesainya masa percobaan malah menjadi hari yang paling nahas.
Pariono masih menanti dengan was-was. Menanti keputusan para pimpinan yang sedang berada di ruang meeting. Dua puluh menit jika dibanding dengan tiga bulan kedisiplinannya, harusnya masih bisa menyelamatkan mukanya. Dia kembali mengambil napas panjang dan berharap yang terbaik dengan pasrahnya.
Suara tapak sepatu terdengar menuruni tangga. Beberapa pimpinan menuruni tangga, menuju pintu keluar melewati meja kerja Pariono dengan tatapan dingin. Tamat riwayatku, batinnya.
Tampak orang terakhir yang turun, Pak Nande, pak kepala cabang. Dengan langkah tegap dan tanpa senyum, lelaki paruh baya itu memberikan amplop, gaji bulan ini.
"Tolong tanda tangan di sini, Pak," pintanya.
Dengan gemetar Pariono membubuhkan tanda tangan. Sementara Pak Nande mengambil satu amplop lagi dari tas.
"Dan ini, ada tambahan sebanyak setengah gaji bapak. Mulai besok bapak bisa istirahat di rumah."
Deg, rasanya sesak. Andai Pariono bukan lelaki, mungkin ia sudah menangis sesenggukan. "Ba-baik, terima kasih, Pak."
---
Pukul 17:00 akhirnya, hari yang begitu panjang telah berakhir. Dengan agak lunglai dia meninggalkan kantor. Sembari merutuki diri sendiri.
Sampai di rumah, yang tak jauh dari kantornya, ia termenung di depan tv. Memindah channel tv dengan tatapan kosong.
---
Menjelang tidur, Pariono masih belum juga mampu memaafkan diri sendiri. Tinggal di rumah sendirian, membuatnya bingung, tak ada tempat untuk bercerita. Mau bercerita ke tunangannya pun ia ragu.
Tergolek di kasur, dengan menatap layar hape. Pariono membuka lini masa media sosialnya. Sedikit menghibur, tapi ia tak berani menulis apapun. Hingga akhirnya ia membaca status temannya yang berdagang jagung manis.
Dengan segeri ia menuliskan komentar, bertanya harga kiloan jagung manisnya. Ia bangkit, duduk di atas kasur tipis. Meraih tas dan mengeluarkan amplopnya. Menghitung pundi rupiah yang ia terima tadi. Bersyukur masih diberi pesangon walau setengah gaji.
Setelah menghitung ini dan itu, ia mantap, besok lusa akan berjualan jagung manis rebus keliling. Sebab ia ingat, di gudang ada bekas gerobak bakso bapaknya. Besok pagi akan ia rombak sedikit. Jika memungkinkan, akan ia tambah pemanggang, untuk menambah menu jagung bakar.
Malam ini, ia nampak terlelap dengan lega. Karena seharian sibuk mencerca diri sendiri, ia sampai tak sempat bertanya, kenapa langsung dipecat, bukankah seharusnya ada surat peringatan atau teguran. Ah, tak lagi penting, mungkin berjualan sebagaimana profesi bapaknya dulu memang lebih cocok.
AM. Hafs
Singosari, 3-2-2017
Senin, 23 November 2015
Terpidana yang Memimpikan ‘Madinah’
Berawal dari kesulitan mencari kerja di masa pilpres. Aku, pengangguran tiga tahun lulusan SMK jurusan Multimedia, diajak bekerja oleh seorang teman. Ia menjadi salah satu tim sukses parpol peserta pilpres. Lelaki itu menawarkan gaji yang cukup tinggi, satu juta per minggu.
Agak ragu saat pertama mendengarnya. “Em-el-em, bukan?” selidikku suatu kali. Ia menjawab, bukan. Dijelaskan kemudian, kerjaku nanti hanya duduk mengawasi 3 set komputer sekaligus. Pokoknya cocok dengan ilmu yang kupelajari.
Aku mencoba berhati-hati. “Tak ada uang pendaftaran atau semacamnya, kan? Dan berapa jam dalam sehari?” cecarku yang hanya dijawab dengan lembaran kontrak kerja. Aku disuruh membaca, dan sesekali ia menjelaskan poin-poin yang membuat ketamakanku berliur. Tunjangan kesehatan, jaminan keamanan, liburan akhir tahun.
Setelah beberapa waktu menelusuri, aku sampai pada poin ‘berpengetahuan tentang berbagai agama’. Ketika kutanyakan, apakah itu keharusan? Ia menjawab singkat, “Santai saja semuanya bisa dipelajari.”
Jumat, 17 April 2015
Ledakan Amarah Kak Awi di Surau Kami
Senin, 02 Maret 2015
Apa Kriteria Jodohmu? (Cerpen)
Sahabatku bercerita. Suatu waktu, di kantin pada jam istirahat ia bertanya pada kawan perempuannya, "Apa kriteria jodohmu?"
Perempuan yang ia temui beberapa bulan ini. Teman yang dipertemukan di tempat tes kerja, hingga akhirnya diterima di bagian yang sama. Keakraban yang timbul, membuat sahabatku jatuh hati. Sayang, ia tak pernah benar merasa siap untuk mengatakannya.
"Eh, kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Perempuan berjilbab itu menjadi kikuk.
"Enggak, cuma mau tahu aja." Sahabatku terkekeh. Berusaha mencairkan kegugupan yang ia ciptakan dan berharap perempuan itu tidak berpikir macam-macam. Mengingat karakter yang ia tunjukkan selama ini "slenge'an".
"Emmm, aku sih mimpinya punya suami hafidz."
Uhuk! Sahabatku meletakkan kembali segelas teh jeruk di genggaman ke atas meja. Mengambil sapu tangan dan mengelap lelehan di bibirnya.
"Eh? Kamu kenapa?"
"Enggak, gak papa lanjutin!" Sahabatku kembali terkekeh dan menggaruk hidung.
"Emm apa ya? Kayaknya yang penting satu itu. Lainnya menyesuaikan." Kini, Pipi perempuan seperempat abad memerah.
"Kalau misal ada yang melamar, tapi gak hafidz gimana?"
"Hemmm, ya boleh aja, asal agamanya lumayan dan lagi bacaan Al-Qurannya harus fasih. Biar bisa jadi pentashih hafalanku."
Uhuk! Kali ini sahabatku tersedak angin.
"Hafidzah to?"
Dia tersenyum, "Alhamdulillah."
Ia sosok yang terbuka dan ramah tapi tetap memegang batas. Risih bila disentuh pria dan juga tak pernah mau dibonceng lawan jenis. Sebab itu, sahabatku nyaman berteman dengannya.
"Pantesan."
"Eh, aku kok kayak lagi diprospek ya?"
Sahabatku tertawa, "Emang iya."
"Maksudnya?" Wajah polosnya penuh tanda tanya.
"Boleh gak kalau bulan depan aku melamarmu?"
Uhuk! Gantian, perempuan itu yang tersedak.
"Serius? Kok tiba-tiba?"
"Tiba-tiba gimana? Kita kan udah kenal selama ...." Sahabatku menghitung dengan jari, "lima bulan." Sahabatku terkekeh.
"Gimana ya?" Pertanyaan mengambang. Membuat jantung sahabatku berdegup kencang. "Boleh deh. Tapi keputusannya ada di Abi sama Kakak laki-lakiku dan satu lagi, siap-siap dites bacaan qurannya." Perempuan itu tersenyum penuh makna. Dia pun sebenarnya menyimpan kagum. Sebab pernah tanpa sengaja mendapati lantunan ayat suci mengalir dari bibir sahabatku di musala kantor.
"Siap!" Sahabatku bersemangat.
Mereka pun berpisah ke ruang kerja masing-masing sembari menikmati hentakan jantung yang tak wajar.
Entah apa yang terjadi. Seminggu setelah kejadian itu, perempuan yang akhirnya oleh sahabatku disebut Nara, menjauhinya. Bila bertemu, hanya ada senyum disertai rasa canggung.
Ketika kusarankan untuk menelponnya, sahabatku menolak. "Biarkan dulu, mungkin dia ingin menenangkan pikirannya," tulisnya.
Namun ketika keadaan itu bertahan hingga tiga minggu, sahabatku akhirnya tak mampu menahan rindu. Mulailah jemarinya mencari kontak Nara.
"Assalaa ...."
"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Cobalah beberapa saat lagi." Suara dari seberang setelah bunyi tut terakhir.
Sahabatku mencoba lagi.
"Assalaamu'alaikum, ada apa, Mas?" Suara lembut meluruhkan hati sahabatku.
Dengan hati-hati sahabatku menjelaskan kegundahan dan isi pikirannya.
"Maaf, Mas. Nara hanya ingin menjaga hati. Agar tak terlalu berharap. Karna Nara tak tahu apa yang akan terjadi minggu depan. Nara harap, Mas mengerti."
Setelah sahabatku mengucap maaf dan beruluk salam, percakapan pun diakhiri. "Hah, seminggu lagi. Bismillah."
***
Hari yang ditunggu pun tiba ...
Sahabatku hadir bersama kedua orang tuanya. Ketika dikabari mengenai rencana lamaran, orang orang tuanya sangat bergembira. Mengingat umur sahabatku yang menginjak angka dua puluh tujuh. Lebih sehari.
Jum'at yang cerah untuk sebuah niat suci. Agaknya mentari turut semringah tapi tidak dengan Nara atau pun sahabatku. Keduanya was-was dan berhujan keringat. Padahal, embun saja masih menggantung di ujung daun.
Bapak dan Ibu Nara tak menyangka, kedatangan keluarga sahabatku begitu pagi. Untung saja, semua jamuan telah siap sebelum subuh. Karena Nara dan ibunya mempersiapkan semua sejak pukul 3 pagi.
Dengan sedikit gugup, sahabatku menengok jam tangan hitamnya. 07.15 seharusnya gigil di tubuhnya mulai hilang. Tapi yang ada malah sebaliknya. Melihat gelagat putranya, Ayah sahabatku pun memberi pesan, "Jangan gugup! Baca sholawat yang banyak. Nanti kalau sudah di dalam, tekuk kedua jempol kakimu."
Apa hubungannya gugup sama jempol kaki? Tapi sahabatku tak ambil pusing. Dituruti saja pesan ayahnya. Begitu menginjak kaki di halaman. Nampak kedua orang tua Nara dan kakak lelakinya tengah menunggu di beranda. Setelah saling beruluk salam dan berjabat tangan, rombongan sahabatku dipersilahkan masuk.
Baru saja sahabatku merebahkan punggung di kursi dan menenangkan hati, tak lupa juga menekuk jempol kaki, ibunya sudah memberi shock terapi, "Ayo, Le, sampaikan maksudmu ke Abinya Nara."
"Lho lha kok?"
"Ehem," ayah sahabatku berdehem.
Itu artinya tak ada jawaban lain selain harus meng'iya'kan perintah ibu.
Bukannya ... seharusnya Ayah yang ngomong? Batinnya. Terlihat Ayah, Ibu dan Kakak Nara tersenyum.
Nara yang mengamati dari balik kelambu turut berdebar-debar. Dari mulutnya terus menerus menggumamkan Al-Insyirah, berharap semuanya dimudahkan.
"Emm ..." Sahabatku membenarkan posisi duduknya yang tidak salah, "begini ... kedatangan saya dan orang tua kami kemari ..."
Belum sempat kalimatnya terselesaikan, abinya Nara memotong.
"Iya, kami sudah diberitahu Nara. Begini saja, kasihan Nak Mas terlihat gugup. Mending langsung ke Tesnya saja."
Kakaknya Nara menyodorkan sebuah mushaf al-Quran bersampul warna perak.
"Coba baca An-Nisa ayat 4."
Diterimanya mushaf tersebut dan mendekapnya. Setelah membaca syahadat, ta'awudz. dan basmalah, sahabatku memejamkan mata. Lalu dari bibirnya terlantun surat yang dimaksud dengan merdu.
Melihat hal tersebut, Nara hanya menganga. Menaruh telapak tangan kanannya di depan bibir. Tak menyangka jika ternyata sahabatku seorang hafidz. Sedang kedua orang tua nampak tersenyum puas. Tapi tidak dengan kakaknya, setelah bacaan sahabatku selesai, ia kembali memerintah, "At-taubah ayat 71"
Selesai dengan lancar dan disambut dengan perintah ketiga, "Surat An-Nuur!"
Nara tak bisa menyembunyikan kerisauannya. Sedang sahabatku mengambil nafas dalam. Namun ketika akan melantunkan surat, ia menundanya, "Maaf, ada air putih?"
Seketika tawa memecah ketegangan. Saking khusyuknya sampai tuan rumah lupa menyajikan minuman. Nara hadir ke tengah pasang keluarga. Ia tampak anggun dengan busana biru dan kerudung biru laut bermotif bung. Ayah sahabatku berujar, "Oh ini to yang namanya Nara, pantesan putraku ngebet minta dilamarkan."
Kembali tawa menggema.
"Monggo diminum." Ayah Nara mempersilakan.
Setelah meneguk teh hangat, suasana tegang menyelimuti. Sahabatku bersiap melantunkan kembali ayat suci. Kembali dibuka dengan syahadat, ta'awudz, dan kemudian basmalah.
"Suurotun an(g)zalnaahaa wa farodhnaahaa ... (sampai akhir ayat.) Shodaqallaahul'adziim."
"Subhanallaah."
Ibunya Nara terlihat berbisik. Sedang kakaknya pamit ke dalam.
"Ehem ... saya kagum dengan Nak Mas ini. Bacaan indah, Nara banyak cerita tentang akhlak Nak Mas. Tapi tak pernah cerita kalau Nak Mas ternyata seorang Hafidz. Tapi sebelumnya, kami memohon maaf." Ayah Nara mengambil nafas. Tampak sengaja memberi jeda, "Kami tidak bisa menerima lamaran Nak Mas."
Nara, Sahabatku dan kedua orangnya tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Tapi ...." Semua nampak menyimak dengan perasaan yang tak menentu.
"Kami akan dengan senang hati, seandainya Nak Mas mau melakukan akad sekarang juga."
Nara terkejut, begitu pula dengan Sahabatku dan kedua orang tuanya.
"lho lha itu anu." Sahabatku gelagapan, "Pak? Bawa uang buat mahar?" lanjutnya.
"Cuma bawa dua ratus ribu," bisiknya.
"Tenang, mahar bisa nyusul. Nomer sekian itu, yang penting Nak Mas bersedia atau tidak?"
Sahabatku mengusap-usap telinga, "Be-bersedia, Pak."
Kakaknya datang dengan beberapa tetangga sekitar sebagai saksi. Dan turut hadir pula Penghulu desa. Agaknya rencana ini telah dipersiapkan tanpa sepengetahuan Nara.
"Saya terima nikahnya Sabrina Raudhotul Jannah binti Haji Mas'ud Abdillah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar dua juta rupiah hutang."
"Sah?"
"Sah!" Serempak para saksi berteriak.
Sahabatku pun memulai kisahnya yang baru di buku yang baru. Karena tubuhku telah penuh oleh kisah semasa lajangnya. Tertanda : Buku Diary
Sekian. Sila baca tulisanku yang lain di www.Lovrinz.com atau www.shohibulgubug.blogspot.com makasih ^^
Malang, 02 Maret 2015
AM. Hafs
Rabu, 18 Februari 2015
Smart Girl, The Dream Girl
Meanwhile he went to nomadic tribe inYaman. On the way, He met a man.
The Youngman greeted,”Hi, Sir! Could you bring me and I bring you?”
Sabtu, 07 Februari 2015
Mengambil Fatwa dari Internet, Bolehkah?
"Ini lagi searching hukumnya orang yang jimak di siang hari bulan Ramadhan."
Aku tertawa, "mentang-mentang pengantin baru."
Dia terkekeh. "Aku penasaran sama olok-olokannya teman-teman. Katanya kalau Ramadhan, "itu"-nya juga harus puasa. Jujur, sih baru denger. Maklum, aku sama istri basisnya dari TK sampai kuliah di umum. Ngaji cuma sampai SD doank."
Aku mengernyitkan dahi. Kemudian mengambil kursi di depannya dengan menaruh sandaran kursi di posisi depan dan mendudukinya. Kami kenal sudah sekitar 3 tahunan. Berawal dari rekrutan angkatan yang sama, membuat kami akrab. Kami sering berbagi mengenai masalah-masalah kantor. Tapi untuk masalah pribadi, sepertinya baru kali ini.
"Joinan ya?" kataku yang dijawab dengan anggukan. Tanganku meraih kopi susu yang terhidang. Setelah meneguknya sedikit aku pun mulai berceloteh.
"Boleh tanya-tanya?"
Kamis, 01 Mei 2014
Noni Cewek Introvert (POV 2)
Jumat, 14 Maret 2014
Jangan Meludah, Nak...
Kamis, 13 Maret 2014
Ujian Sekolah
Rabu, 12 Maret 2014
Perjuangan Semut
Seekor semut hitam beranjak dengan kalut. Baru saja sumringah karena menginjak usia dewasa, langsung mendapat tugas menjadi agen rahasia. Mengemban misi mencari makanan untuk koloni.
Semut imut tak bernyali ciut. Meski dari gurat wajahnya terlihat sedikit gundah, karena khwatir tak mampu menjalankan tugas dengan sempurna. Tapi hal itu tak berapa lama, segera dia baca doa keluar rumah dan melangkah dengan gagah.
Setelah mengelilingi lantai, kini ia beranjak ke sisi kiri. Merayap naik pada sebuah kursi.
“Aku lebih hebat dari cicak,” katanya bangga.
Sejurus kemudian ia sampai di puncak tertinggi. Diedarkan pandangan kesemua sisi. Terlihat di seberang sana seorang lelaki tengah sibuk dengan sebuah laptop merah
“Wah, sepertinya ahli IT.” Matanya berkaca-kaca, Bukan karena kagum pada lelaki berkacamata. Tapi pada benda disampingnya. Rezeki berupa remah roti.
“Makanaaaaan!” teriaknya girang.
Segera ia tulis kordinat beserta situasinya. Sisi tengah ruangan, di atas meja putih, jalur aman berada di arah jam 9 dari lubang sarang. Catatan : Waspada untuk lelaki berkaca mata. Ada tempat persembunyian di arah jam 3 dari target untuk antisisapi keadaan darurat. Lalu dikoreksinya kembali, karena jika salah maka semua pasukan bisa binasa. Dan …, ya, ada salah eja di sana yang tak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), 'antisisapi' seharusnya 'antisipasi'. Cepat ia betulkan dan berlari dengan kencang ke lubang sarang.
Dengan nafas tersengal ia memasuki sarang, berteriak dan seketika menjadi pusat perhatian.
“Komandaaaaan!, Komandan!” teriaknya heboh. Seperti ekspresi anak kecil ketika mendapat hadiah kejutan, Sesaat kemudian sang Komandan menghampiri dengan gagah.
“Berhenti berteriak!” sergahnya.
“Ma… af, Ko-ko-mandan,” jawab semut imut sambil mengatur nafas. Diserahkan catatan tentang lokasi makanan tadi pada Komandan. Komandan mengambil kertas itu dan mulai membaca seperti seorang guru yang sedang mengoreksi tugas sekolah.
“Tulisan rapi, informasi lengkap, dan apa ini?” batinnya. Dilihat sebuah kata dengan sebuah coretan satu garis horizontal.