Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Februari 2019

Yang Hitam Kelam pun Masih Bisa Memutih

"Kepalaku penuh."

"Sudahlah tenangkan diri dulu."

Kardi masih menunduk. Jari-jarinya meremas kepalanya kuat-kuat. Andai dengan tercabutnya rambut dan kulit kepala bisa membuat selesai masalah, ia pasti akan melakukannya sejak tadi.

"Sudah banyak kekacauan yang kubuat."

"Lalu? Sekarang apa maumu?"

"Entah. Yang kurasakan saat ini hanya rasa sakit di dada."

Semenjak dia pergi ke dukun lima tahun lalu, kehidupannya jadi tambah buruk. Mungkin orang lain yang melihat, Kardi itu hidupnya enak. Rumah besar, kehidupan mapan, toko bangunannya laris, istri cantik, anak-anak yang pintar. Tapi, di balik semua itu Kardi menderita sendiri.

Sri, bunga desa yang dipersuntingnya, ketika berada di hadapannya, gadis yang lebih muda lima tahun dari Kardi itu terlihat seperti boneka. Dia akan mematuhi semua perintah Kardi, apapun itu. Efek dari ajian babi goyang yang dia pelajari yang menuntut tumbal darah perawan setiap tahun, tepatnya di tanggal 17 Syuro. 

Karena efek penurutnya itu, selain seperti boneka, Kardi bercerita jika istrinya malah lebih mirip mayat hidup saat ini. Berjalan tanpa kehendak di hadapannya. Dan hal itu pula yang membuat hati Kardi ikut merasa getir dengan kepalsuan yang dimilikinya. 

Tentang darah perawan, tiap tahun Kardi akan berkeliling ke Germo-germo. Membeli perawan. Tapi bagaimanapun sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.

Kesialannya lainnya bermula seminggu yang lalu. Dia dibohongi oleh seorang Germo di Sarang Bunga. Kardi bercerita, malam itu Germo menawarkan Miyoko, perawan Jepang. Seorang wisatawan yang tersesat saat melakukan pendakian ke Merapi. Ia bertemu dengan salah satu anak buah germo. Alih-alih diselamatkan, Miyoko justru diculik dan dijadikan pelacur. 

Karena sudah akrab dengan si Germo, dia pun diberi hak istimewa untuk menjadi yang pertama membawa Miyoko. Dengan harga yang tidak murah tentunya. 

Malam itu, Miyoko didandani seperti peri hutan. Bibir yang tipis namun menggoda, mahkota dari bunga dan akar tumbuhan, rambut hitam dikepang turut memahkotai tubuh putih mulus, membuat Kardi tak berhenti menelan ludah. 

Ranjang yang akan menjadi altar pun sudah disiapkan dengan tema yang sama, hutan bunga belantara. 

Kardi masuk ke dalam kamar, bersiap melakukan ritual tahunannya. Sedangkan Miyoko, gadis petualang itu hanya bisa meratapi kesialannya. Air matanya sudah habis. Melihat kondisi itu, entah darimana, perasaan iba Kardi muncul. 

"Speak english?"

Miyoko yang sudah setengah telanjang hanya mengangguk. Kardi kemudian membisikkan niatnya tentang menebus Miyoko dan memulangkannya ke Jepang. Asal dia mau memuaskannya malam itu. Tak disangka, hal itu membuatnya tersenyum. Barangkali gadis itu berpikir setidaknya dia bisa pulang. 

Setelahnya, pergulatan kedua manusia beda negara itu pun dimulai. Tanpa cinta, hanya ada nafsu dan nafsu. Hingga tiba pada ritual terakhir, mengolesi patung ayam dengan darah perawan. 

Kardi melongok ke area terlarang Miyoko. Dan seketika itu pula, wajahnya memerah. Keringatnya berkucuran di dahi. Darah yang diharapkannya tidak nampak. Sedang Miyoko sudah terkulai lemas, tak berdaya. 

Kardi menduga, Miyoko bukan perawan. Dan kemudian terbukti dengan anggukan gadis jepang itu setelah Kardi menanyainya.

Patung ayam mulai berasap. Kardi kebingungan juga ketakutan. Sudah tidak sempat lagi untuk mencari pengganti. Ah, dia merasa benar-benar ceroboh saat itu. 
Dalam kebingungan dan ketakutannya, Kardi menjadi kalap, Miyoko diberinya bogem mentah, "Dasar Penipu!"
Darah segar keluar dari hidung Miyoko yang spontan saja berteriak. Miyoko keheranan sekaligus menangis ketakutan. Matanya seolah bertanya, apa salahku?

Mendengar teriakan Miyoko, bagian keamanan, bawahan Germo, mendobrak pintu. Kardi sudah bersiap dengan AK-47 yang telah dia siapkan di kopernya. Terjadilah malam itu suatu pembunuhan massal di tempat pelacuran Sarang Bunga. Termasuk Germo yang menjadi korban. Kardi lari ke hutan yang ada di belakang pelacuran. Patung ayam tadi sudah meledak, berasap, dan mengeluarkan ular-ular cobra yang terus-menerus mengejarnya. 

Akhirnya, di sini Kardi sekarang. Di dalam goa di bawah kaki Gunung Slamet, tempatku uzlah. Menyendiri dari hiruk pikuk dunia. Dia berlindung di tempatku dari ular-ular cobra yang siap menghisap darahnya kapan pun dia keluar dari goa. Dan juga dari kejaran polisi. 

Aku sebenarnya heran, bagaimana dia bisa tersesat ke tempatku dalam keadaan yang seharusnya sudah tidak mungkin lagi untuk bergerak. Baju dan celananya combang-camping, penuh lumpur, dan luka gores di sekujur tubuh. Hanya saja, yang kutahu takdir Tuhan tidak mengenal yang namanya kebetulan. Jika Dia berkehendak atas sesuatu, maka terjadilah.

Sudah seminggu dia di sini, duduk diam, sesekali sesenggukan menangisi masa lalunya. Tapi masih bisa makan. Kubiarkan saja ia berbuat semaunya sembari tersenyum geli. Kenapa kebanyakan manusia baru bisa meratapi kesalahannya dan kembali merasa berTuhan saat telah di ambang kematian. Tapi di sisi lain aku juga iri. Tuhan masih welas asih kepadanya. Dan juga kian kagum atas sifat-Nya itu. Ia memberi kesempatan buat Kardi yang begitu bejat untuk tetap hidup dan menyesali semuanya. Tapi ya sudahlah, aku tak ada urusan dengan hal itu. Tugasku saat ini menjadi wasilah dari sifat welas asih Tuhan. Membantunya bertaubat dari segala ilmu hitam yang dia miliki. Membuat lelaki paruh baya itu mampu melawan ilmu hitam yang sedang mengejarnya. Menuntunnya kembali ka jalan Ilahi. Soal urusannya dengan polisi, biar dia sendiri yang menyelesaikannya. 
.
AM. Hafs
Malang, 5/2/2019

#katahatiproduction #katahatichallenge

Jumat, 03 Februari 2017

Hikmah Dua Puluh Menit

Sudah dua hari ini, Pariono hanya bisa menggeleng kepala di balik meja kerjanya. Sesekali dia mengambil napas panjang. Seakan-akan tak percaya dengan apa yang terjadi.

Kemarin, lelaki tiga puluh tahun itu telat ngantor, tidak banyak, hanya delapan menit. Dia masih bisa tersenyum semringah. Meski juga masih menyimpan keheranan. Sebab tak pernah ia telat sampai begitu lama. Meski kerap tidur seusai subuh. Barangkali karena cuaca yang begitu dingin, membuat tubuhnya menolak untuk keluar dari selimut.

Sedang pagi ini, dia benar-benar tak habis pikir. Melongok ke layar gawainya, sudah pukul 8:42. Segera saja dia melonjak dari kasur tipisnya ke kamar mandi, membasahi tubuh secepat kilat tanpa memakai sabun, berganti pakaian, menuruni tangga, meninggalkan jatah sarapan.

Sampai di gerbang biru tempatnya bekerja, waktu menunjukkan pukul 8:50.  Padahal seharusnya kantor travel umroh haji itu buka pukul 8:30. Bersamaan dengan itu, pimpinannya datang memarkir mobil pajero hitam. Keluar dengan berkacak pinggang. Semacam terkena sidak dadakan, bulir-bulir keringat dingin meluncur di dahinya. Prestasinya yang tak pernah telat selama 3 bulan terakhir seolah tak berarti. Hari pertama dari selesainya masa percobaan malah menjadi hari yang paling nahas.

Pariono masih menanti dengan was-was. Menanti keputusan para pimpinan yang sedang berada di ruang meeting. Dua puluh menit jika dibanding dengan tiga bulan kedisiplinannya, harusnya masih bisa menyelamatkan mukanya. Dia kembali mengambil napas panjang dan berharap yang terbaik dengan pasrahnya.

Suara tapak sepatu terdengar menuruni tangga. Beberapa pimpinan menuruni tangga, menuju pintu keluar melewati meja kerja Pariono dengan tatapan dingin. Tamat riwayatku, batinnya.

Tampak orang terakhir yang turun, Pak Nande, pak kepala cabang. Dengan langkah tegap dan tanpa senyum, lelaki paruh baya itu memberikan amplop, gaji bulan ini.

"Tolong tanda tangan di sini, Pak," pintanya.

Dengan gemetar Pariono membubuhkan tanda tangan. Sementara Pak Nande mengambil satu amplop lagi dari tas.

"Dan ini, ada tambahan sebanyak setengah gaji bapak. Mulai besok bapak bisa istirahat di rumah."

Deg, rasanya sesak. Andai Pariono bukan lelaki, mungkin ia sudah menangis sesenggukan. "Ba-baik, terima kasih, Pak."
---

Pukul 17:00 akhirnya, hari yang begitu panjang telah berakhir. Dengan agak lunglai dia meninggalkan kantor. Sembari merutuki diri sendiri.

Sampai di rumah, yang tak jauh dari kantornya, ia termenung di depan tv. Memindah channel tv dengan tatapan kosong.

---

Menjelang tidur, Pariono masih belum juga mampu memaafkan diri sendiri. Tinggal di rumah sendirian, membuatnya bingung, tak ada tempat untuk bercerita. Mau bercerita ke tunangannya pun ia ragu.

Tergolek di kasur, dengan menatap layar hape. Pariono membuka lini masa media sosialnya. Sedikit menghibur, tapi ia tak berani menulis apapun. Hingga akhirnya ia membaca status temannya yang berdagang jagung manis.

Dengan segeri ia menuliskan komentar, bertanya harga kiloan jagung manisnya. Ia bangkit, duduk di atas kasur tipis. Meraih tas dan mengeluarkan amplopnya. Menghitung pundi rupiah yang ia terima tadi. Bersyukur masih diberi pesangon walau setengah gaji.

Setelah menghitung ini dan itu, ia mantap, besok lusa akan berjualan jagung manis rebus keliling. Sebab ia ingat, di gudang ada bekas gerobak bakso bapaknya. Besok pagi akan ia rombak sedikit. Jika memungkinkan, akan ia tambah pemanggang, untuk menambah menu jagung bakar.

Malam ini, ia nampak terlelap dengan lega. Karena seharian sibuk mencerca diri sendiri, ia sampai tak sempat bertanya, kenapa langsung dipecat, bukankah seharusnya ada surat peringatan atau teguran. Ah, tak lagi penting, mungkin berjualan sebagaimana profesi bapaknya dulu memang lebih cocok.

AM. Hafs
Singosari, 3-2-2017

Senin, 23 November 2015

Terpidana yang Memimpikan ‘Madinah’

Setahun semenjak perhelatan pilpres, aku menggeluti profesi sebagai pembuat berita. Bukan, aku bukan wartawan.

Berawal dari kesulitan mencari kerja di masa pilpres. Aku, pengangguran tiga tahun lulusan SMK jurusan Multimedia, diajak bekerja oleh seorang teman. Ia menjadi salah satu tim sukses parpol peserta pilpres. Lelaki itu menawarkan gaji yang cukup tinggi, satu juta per minggu.

Agak ragu saat pertama mendengarnya. “Em-el-em, bukan?” selidikku suatu kali. Ia menjawab, bukan. Dijelaskan kemudian, kerjaku nanti hanya duduk mengawasi 3 set komputer sekaligus. Pokoknya cocok dengan ilmu yang kupelajari.

Aku mencoba berhati-hati. “Tak ada uang pendaftaran atau semacamnya, kan? Dan berapa jam dalam sehari?” cecarku yang hanya dijawab dengan lembaran kontrak kerja. Aku disuruh membaca, dan sesekali ia menjelaskan poin-poin yang membuat ketamakanku berliur. Tunjangan kesehatan, jaminan keamanan, liburan akhir tahun.

Setelah beberapa waktu menelusuri, aku sampai pada poin ‘berpengetahuan tentang berbagai agama’. Ketika kutanyakan, apakah itu keharusan? Ia menjawab singkat, “Santai saja semuanya bisa dipelajari.”

Jumat, 17 April 2015

Ledakan Amarah Kak Awi di Surau Kami

Tak seperti biasanya. Kak Awi yang biasanya berwajah ceria, sejak langkah kanannya memasuki surau tatapannya tajam, tanpa senyum. Melihat kami yang sudah berkumpul di ruang salat, dengan suara tegas Kak Awi menyuruh kami berkumpul di ruang mengaji.

Beberapa teman kecil yang tak menyadari perubahan Kak Awi masih bertingkah seperti biasa. Mencandai dan mengajaknya bicara. Namun Kakak yang berumur 23 tahun itu hanya diam dengan sorot mata yang masih saja tajam.

Setelah aku dan selurih tema berkumpul, Kak Awi dengan nada tinggi memberi perintah, "Semuanya lekas duduk!"

Saat itulah, semuanya menyadari ada hal yang tidak beres. Seketika keadaan pun hening. Tak seperti biasanya yang santai.

Setelah uluk salam. Kak Awi mulai mengeluarkan kemarahannya,"Siapa yang nyuruh pulang pas Rabu kemarin?"

Senin, 02 Maret 2015

Apa Kriteria Jodohmu? (Cerpen)

Apa Kriteria Jodohmu?

Sahabatku bercerita. Suatu waktu, di kantin pada jam istirahat ia bertanya pada kawan perempuannya, "Apa kriteria jodohmu?"

Perempuan yang ia temui beberapa bulan ini. Teman yang dipertemukan di tempat tes kerja, hingga akhirnya diterima di bagian yang sama. Keakraban yang timbul, membuat sahabatku jatuh hati. Sayang, ia tak pernah benar merasa siap untuk mengatakannya.

"Eh, kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Perempuan berjilbab itu menjadi kikuk.

"Enggak, cuma mau tahu aja." Sahabatku terkekeh. Berusaha mencairkan kegugupan yang ia ciptakan dan berharap perempuan itu tidak berpikir macam-macam. Mengingat karakter yang ia tunjukkan selama ini "slenge'an".

"Emmm, aku sih mimpinya punya suami hafidz."

Uhuk! Sahabatku meletakkan kembali segelas teh jeruk di genggaman ke atas meja. Mengambil sapu tangan dan mengelap lelehan di bibirnya.

"Eh? Kamu kenapa?"

"Enggak, gak papa lanjutin!" Sahabatku kembali terkekeh dan menggaruk hidung.

"Emm apa ya? Kayaknya yang penting satu itu. Lainnya menyesuaikan." Kini, Pipi perempuan seperempat abad memerah.

 "Kalau misal ada yang melamar, tapi  gak hafidz gimana?"

"Hemmm, ya boleh aja, asal agamanya lumayan dan lagi bacaan Al-Qurannya harus fasih. Biar bisa jadi pentashih hafalanku."

Uhuk! Kali ini sahabatku tersedak angin.

"Hafidzah to?"

Dia tersenyum, "Alhamdulillah."

Ia sosok yang terbuka dan ramah tapi tetap memegang batas. Risih bila disentuh pria dan juga tak pernah mau dibonceng lawan jenis. Sebab itu, sahabatku nyaman berteman dengannya.

"Pantesan."

"Eh, aku kok kayak lagi diprospek ya?"

Sahabatku tertawa, "Emang iya."

"Maksudnya?" Wajah polosnya penuh tanda tanya.

"Boleh gak kalau bulan depan aku melamarmu?"

Uhuk! Gantian, perempuan itu yang tersedak.

"Serius? Kok tiba-tiba?"

"Tiba-tiba gimana? Kita kan udah kenal selama ...." Sahabatku menghitung dengan jari, "lima bulan." Sahabatku terkekeh.

"Gimana ya?" Pertanyaan mengambang. Membuat jantung sahabatku berdegup kencang. "Boleh deh. Tapi keputusannya ada di Abi sama  Kakak laki-lakiku dan satu lagi, siap-siap dites bacaan qurannya." Perempuan itu tersenyum penuh makna. Dia pun sebenarnya menyimpan kagum. Sebab pernah tanpa sengaja mendapati lantunan ayat suci mengalir dari bibir sahabatku di musala kantor.

"Siap!" Sahabatku bersemangat.

Mereka pun berpisah ke ruang kerja masing-masing sembari menikmati hentakan jantung yang tak wajar.

Entah apa yang terjadi. Seminggu setelah kejadian itu, perempuan yang akhirnya oleh sahabatku disebut Nara, menjauhinya. Bila bertemu, hanya ada senyum disertai rasa canggung.

Ketika kusarankan untuk menelponnya, sahabatku menolak. "Biarkan dulu, mungkin dia ingin menenangkan pikirannya," tulisnya.

Namun ketika keadaan itu bertahan hingga tiga minggu, sahabatku akhirnya tak mampu menahan rindu.  Mulailah jemarinya mencari kontak Nara.

"Assalaa ...."

"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Cobalah beberapa saat lagi." Suara dari seberang setelah bunyi tut terakhir.

Sahabatku mencoba lagi.

"Assalaamu'alaikum, ada apa, Mas?" Suara lembut meluruhkan hati sahabatku.

Dengan hati-hati sahabatku menjelaskan kegundahan dan isi pikirannya.

"Maaf, Mas. Nara hanya ingin menjaga hati. Agar tak terlalu berharap. Karna Nara tak tahu apa yang akan terjadi minggu depan. Nara harap, Mas mengerti."

Setelah sahabatku mengucap maaf dan beruluk salam, percakapan pun diakhiri. "Hah, seminggu lagi. Bismillah."

***

Hari yang ditunggu pun tiba ...

Sahabatku hadir bersama kedua orang tuanya. Ketika dikabari mengenai rencana lamaran, orang orang tuanya sangat bergembira. Mengingat umur sahabatku yang menginjak angka dua puluh tujuh. Lebih sehari.

Jum'at yang cerah untuk sebuah niat suci. Agaknya mentari turut semringah tapi tidak dengan Nara atau pun sahabatku. Keduanya was-was dan berhujan keringat. Padahal, embun saja masih menggantung di ujung daun.

Bapak dan Ibu Nara tak menyangka, kedatangan keluarga sahabatku begitu pagi. Untung saja, semua jamuan telah siap sebelum subuh. Karena Nara dan ibunya mempersiapkan semua sejak pukul 3 pagi.

Dengan sedikit gugup, sahabatku menengok jam tangan hitamnya. 07.15 seharusnya gigil di tubuhnya mulai hilang. Tapi yang ada malah sebaliknya. Melihat gelagat putranya, Ayah sahabatku pun memberi pesan, "Jangan gugup! Baca sholawat yang banyak. Nanti kalau sudah di dalam, tekuk kedua jempol kakimu."

Apa hubungannya gugup sama jempol kaki? Tapi sahabatku tak ambil pusing. Dituruti saja pesan ayahnya. Begitu menginjak kaki di halaman. Nampak kedua orang tua Nara dan kakak lelakinya tengah menunggu di beranda. Setelah saling beruluk salam dan berjabat tangan, rombongan sahabatku dipersilahkan masuk.

Baru saja sahabatku merebahkan punggung di kursi dan menenangkan hati, tak lupa juga menekuk jempol kaki, ibunya sudah memberi shock terapi, "Ayo, Le, sampaikan maksudmu ke Abinya Nara."

"Lho lha kok?"

"Ehem," ayah sahabatku berdehem.

Itu artinya tak ada jawaban lain selain harus meng'iya'kan perintah ibu.
Bukannya ... seharusnya Ayah yang ngomong? Batinnya. Terlihat Ayah, Ibu dan Kakak Nara tersenyum.

Nara yang mengamati dari balik kelambu turut berdebar-debar. Dari mulutnya terus menerus menggumamkan Al-Insyirah, berharap semuanya dimudahkan.

"Emm ..." Sahabatku membenarkan posisi duduknya yang tidak salah, "begini ... kedatangan saya dan orang tua kami kemari ..."

Belum sempat kalimatnya terselesaikan, abinya Nara memotong.
"Iya, kami sudah diberitahu Nara. Begini saja, kasihan Nak Mas terlihat gugup. Mending langsung ke Tesnya saja."

Kakaknya Nara menyodorkan sebuah mushaf al-Quran bersampul warna perak.

"Coba baca An-Nisa ayat 4."

Diterimanya mushaf tersebut dan mendekapnya. Setelah membaca syahadat, ta'awudz. dan basmalah, sahabatku memejamkan mata. Lalu dari bibirnya terlantun surat yang dimaksud dengan merdu.

Melihat hal tersebut, Nara hanya menganga. Menaruh telapak tangan kanannya di depan bibir. Tak menyangka jika ternyata sahabatku seorang hafidz. Sedang kedua orang tua nampak tersenyum puas. Tapi tidak dengan kakaknya, setelah bacaan sahabatku selesai, ia kembali memerintah, "At-taubah ayat 71"

Selesai dengan lancar dan disambut dengan perintah ketiga, "Surat An-Nuur!"

Nara tak bisa menyembunyikan kerisauannya. Sedang sahabatku mengambil nafas dalam. Namun ketika akan melantunkan surat, ia menundanya, "Maaf, ada air putih?"

Seketika tawa memecah ketegangan. Saking khusyuknya sampai tuan rumah lupa menyajikan minuman. Nara hadir ke tengah pasang keluarga. Ia tampak anggun dengan busana biru dan kerudung biru laut bermotif bung. Ayah sahabatku berujar, "Oh ini to yang namanya Nara, pantesan putraku ngebet minta dilamarkan."

Kembali tawa menggema.

"Monggo diminum." Ayah Nara mempersilakan.

Setelah meneguk teh hangat, suasana tegang menyelimuti. Sahabatku bersiap melantunkan kembali ayat suci. Kembali dibuka dengan syahadat, ta'awudz, dan kemudian basmalah.

"Suurotun an(g)zalnaahaa wa farodhnaahaa ... (sampai akhir ayat.) Shodaqallaahul'adziim."

"Subhanallaah."

Ibunya Nara terlihat berbisik. Sedang kakaknya pamit ke dalam.

"Ehem ... saya kagum dengan Nak Mas ini. Bacaan indah, Nara banyak cerita tentang akhlak Nak Mas. Tapi tak pernah cerita kalau Nak Mas ternyata seorang Hafidz. Tapi sebelumnya, kami memohon maaf." Ayah Nara mengambil nafas. Tampak sengaja memberi jeda, "Kami tidak bisa menerima lamaran Nak Mas."

Nara, Sahabatku dan kedua orangnya tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Tapi ...." Semua nampak menyimak dengan perasaan yang tak menentu.

"Kami akan dengan senang hati, seandainya Nak Mas mau melakukan akad sekarang juga."

Nara terkejut, begitu pula dengan Sahabatku dan kedua orang tuanya.

"lho lha itu anu." Sahabatku gelagapan, "Pak? Bawa uang buat mahar?" lanjutnya.

"Cuma bawa dua ratus ribu," bisiknya.

"Tenang, mahar bisa nyusul. Nomer sekian itu, yang penting Nak Mas bersedia atau tidak?"

Sahabatku mengusap-usap telinga, "Be-bersedia, Pak."

Kakaknya datang dengan beberapa tetangga sekitar sebagai saksi. Dan turut hadir pula Penghulu desa. Agaknya rencana ini telah dipersiapkan tanpa sepengetahuan Nara.

"Saya terima nikahnya Sabrina Raudhotul Jannah binti Haji Mas'ud Abdillah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar dua juta rupiah hutang."

"Sah?"

"Sah!" Serempak para saksi berteriak.

Sahabatku pun memulai kisahnya yang baru di buku yang baru. Karena tubuhku telah penuh oleh kisah semasa lajangnya. Tertanda : Buku Diary

Sekian. Sila baca tulisanku yang lain di www.Lovrinz.com atau www.shohibulgubug.blogspot.com makasih ^^

Malang, 02 Maret 2015
AM. Hafs

Rabu, 18 Februari 2015

Smart Girl, The Dream Girl

There was a youngman. He is Arabian, handsome, shalih, and very smart. He wanted to marry with a smart and shalihah woman like him. So, He did a journey from a nomadic tribe to other nomadic tribe to found the dream girl.

Meanwhile he went to nomadic tribe inYaman. On the way, He met a man.

The Youngman greeted,”Hi, Sir! Could you bring me and I bring you?”

Sabtu, 07 Februari 2015

Mengambil Fatwa dari Internet, Bolehkah?

"Lagi apa, Bung. Serius amat kelihatannya?" kantor ketika tengah rehat di kantin.

"Ini lagi searching hukumnya orang yang jimak di siang hari bulan Ramadhan."

Aku tertawa, "mentang-mentang pengantin baru."

Dia terkekeh. "Aku penasaran sama olok-olokannya teman-teman. Katanya kalau Ramadhan, "itu"-nya juga harus puasa. Jujur, sih baru denger. Maklum, aku sama istri basisnya dari TK sampai kuliah di umum. Ngaji cuma sampai SD doank."

Aku mengernyitkan dahi. Kemudian mengambil kursi di depannya dengan menaruh sandaran kursi di posisi depan dan mendudukinya. Kami kenal sudah sekitar 3 tahunan. Berawal dari rekrutan angkatan yang sama, membuat kami akrab. Kami sering berbagi mengenai masalah-masalah kantor. Tapi untuk masalah pribadi, sepertinya baru kali ini.

"Joinan ya?" kataku yang dijawab dengan anggukan. Tanganku meraih kopi susu yang terhidang. Setelah meneguknya sedikit aku pun mulai berceloteh.

"Boleh tanya-tanya?"

Kamis, 01 Mei 2014

Noni Cewek Introvert (POV 2)

Kau meniupkan angin ke dalam balon sekuat tenaga. Perlahan tapi pasti, balon mulai membesar dan membesar. Mukamu pun mulai memerah dan pipi mulai membulat.
"Noni! Dicari kemana-mana, ternyata di sini. Eh? Elu ngapain sih?"
Dini berseru padamu yang sedang duduk di halaman belakang. Dia, teman baru, yang kamu kenal seminggu lalu, dan langsung akrab. Sebuah hal yang masih menjadi misteri buatmu. Mengingat kamu bukanlah type orang yang mudah bersosialisasi. 
Seolah tak mendengar seruan Dini, kamu masih terus meniup. Kamu lihat, perlahan balon semakin membesar, seiring dengan itu, warna hijaunya mulai memudar menjadi hijau muda.
"Noni ...! Hentikan! Ntar meletus, tuh!"
Kamu melirik Dini yang mulai gusar, Kamu tahu dari lipatan-lipatan kecemasan yang tercetak di wajahnya.
Dengan sedikit menyipitkan mata dan tetap memperhatikan Dini yang kini menangkupkan tangannya pada telinga. Kamu terus meniup balon dan ....
"Duarrrr!!!"
Balon meletus tepat di depan wajah dan bibirmu. Kamu merasa seolah kesemutan di wajah, dan sedikit panas di bibir. Kamu tersenyum menatap Dini, lalu tertawa lepas.
"Noni! Loe aneh, gila tau!"
Seringai senyummu kembali mengembang. Ada kepuasan dan kelegaan di dadamu. Seolah tali yang sedari tadi mengikat telah terlepas. Kini, kamu mengatur nafas, dan menahan kegelian melihat raut muka Dini yang penuh tanya.
"Jadi gi ...."

Jumat, 14 Maret 2014

Jangan Meludah, Nak...

Panas terik matahari tak cukup tangguh untuk membuat kebahagiaan ini luruh. Acara kopdar sebuah komunitas menulisku telah berjalan dengan lancar dan sukses. Semaraknya acara berasa lebih dengan hadirnya seorang tamu special, Ramaditya Adikara, penulis tunanetra yang telah menelurkan sebuah novel berjudul "Mata kedua".
***
Tak lama setelah acara usai, aku turut mengantarkan Mas Rama -begitu aku memanggilnya- menuju ke kediaman orang tua mbak Rina Rinz untuk menginap malam ini.
Matahari telah condong ke barat saat rombongan tiba di tempat. Tak menyiakan kesempatan, di sana aku bercengkerama dan membagi kisah lebih banyak dengan Mas Rama. Orangnya supel sekali, alhasil selama obrolan berlangsung dia yang lebih mendominasi, sedang aku hanya terkagum dengan wajahnya yang begitu ceria, seolah tanpa beban, padahal dia hanya mampu melihat hitam, buta dari lahir. Pantaslah jika Ia kini menjadi seorang motivator karena Ia seolah mampu menebar energi positif untuk orang di sekitarnya.
Di saat obrolan sedang asyik, Bianca, anak bungsu Mbak Rina keluar dari kamar. Ia merengek manja ke ibunya. Ketika Mbak Rina menenangkan Bianca, tiba-tiba saja Mas Rama tertawa, kami semua pun heran.
"Aku geli dan merasa lucu melihat segala tingkah anak-anak. Aku biasanya diompoli si Musa, ya gitu pengen ketawa. Karena mereka sebenarnya belum mengerti apa yang mereka lakukan."
Entah kenapa, kalimat itu terngiang-ngiang di media penyimpanan otak, hingga waktu mengantarkanku untuk pamit, berpisah dengan sosok yang penuh keceriaan itu. Bertemu dengannya sungguh mengubah hidupku, menambah rasa syukur dan semangat mengejar mimpi.

Kamis, 13 Maret 2014

Ujian Sekolah

Siswa-siswi mulai memasuki ruang ujian dengan tertib dan rapi, tak berapa lama setelah bel berbunyi.
Satu persatu Guru pengawas pun masuk ke ruang ujian, sesuai dengan jadwal yang tertempel di papan pengumuman seminggu yang lalu.
Tidak seperti saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) biasa, tak ada suara riuh, gaduh. Suasana sekolah ketika ujian hampir selalu sunyi.

Rabu, 12 Maret 2014

Perjuangan Semut

PERJUANGAN SEMUT

Seekor semut hitam beranjak dengan kalut. Baru saja sumringah karena menginjak usia dewasa, langsung mendapat tugas menjadi agen rahasia. Mengemban misi mencari makanan untuk koloni.
Pengalaman pertama, masih melangkah tak tentu arah. Memang, agen rahasia adalah pekerjaan mulia, tapi Ia juga tahu bagaimana bahayanya. Apalagi jika sudah bertemu dengan hewan yang lebih besar atau yang paling parah, bertemu manusia.

Semut imut tak bernyali ciut. Meski dari gurat wajahnya terlihat sedikit gundah, karena khwatir tak mampu menjalankan tugas dengan sempurna. Tapi hal itu tak berapa lama, segera dia baca doa keluar rumah dan melangkah dengan gagah.

Jauh sudah jarak termangsa langkah. Syukur alhamdulillah tak ada rintangan berarti, meski sumber makanan belum jua ditemui. Semut imut masih gigih. Ia terus saja mencari. Berbekal tawakkal dalam hati dan keyakinan bahwa ikhtiarnya tak akan sia-sia. Di suatu tempat, pasti rezeki dari-Nya tengah menanti.

Setelah mengelilingi lantai, kini ia beranjak ke sisi kiri. Merayap naik pada sebuah kursi.


“Aku lebih hebat dari cicak,” katanya bangga.


Sejurus kemudian ia sampai di puncak tertinggi. Diedarkan pandangan kesemua sisi. Terlihat di seberang sana seorang lelaki tengah sibuk dengan sebuah laptop merah

“Wah, sepertinya ahli IT.” Matanya berkaca-kaca, Bukan karena kagum pada lelaki berkacamata. Tapi pada benda disampingnya. Rezeki berupa remah roti.

“Makanaaaaan!” teriaknya girang.

Segera ia tulis kordinat beserta situasinya. Sisi tengah ruangan, di atas meja putih, jalur aman berada di arah jam 9 dari lubang sarang. Catatan : Waspada untuk lelaki berkaca mata. Ada tempat persembunyian di arah jam 3 dari target untuk antisisapi keadaan darurat. Lalu dikoreksinya kembali, karena jika salah maka semua pasukan bisa binasa. Dan …, ya, ada salah eja di sana yang tak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), 'antisisapi' seharusnya 'antisipasi'. Cepat ia betulkan dan berlari dengan kencang ke lubang sarang.

Dengan nafas tersengal ia memasuki sarang, berteriak dan seketika menjadi pusat perhatian.

“Komandaaaaan!, Komandan!” teriaknya heboh. Seperti ekspresi anak kecil ketika mendapat hadiah kejutan, Sesaat kemudian sang Komandan menghampiri dengan gagah.

“Berhenti berteriak!” sergahnya.

“Ma… af, Ko-ko-mandan,” jawab semut imut sambil mengatur nafas. Diserahkan catatan tentang lokasi makanan tadi pada Komandan. Komandan mengambil kertas itu dan mulai membaca seperti seorang guru yang sedang mengoreksi tugas sekolah.

“Tulisan rapi, informasi lengkap, dan apa ini?” batinnya. Dilihat sebuah kata dengan sebuah coretan satu garis horizontal.

Kamis, 20 Februari 2014

Gempar! Lagi-lagi Hantu Pocong (Cerpen)

Purnama kali ini tak seindah kemarin. Tepat di malam jumat keramat. Mencekam dengan angin sekarat. Karena sebuah desas-desus, yang telah membuat bulu kuduk warga desa Arto Singup berdiri dan nyali menciut.

Semua bermula dari tiga hari yang lalu. Seorang pemuda yatim piatu yang menjadi marbot Masjid, meninggal dunia karena terpeleset saat akan berwudhu. Naas, kepalanya membentur ujung lancip tembok dan mengakibatkan pendarahan hebat. Dengan kekuatan penuh, roda ambulance berlari sekencang mungkin membawanya ke UGD terdekat. Malang tak bisa ditawar, terlalu banyak darah yang keluar. Alhasil, nyawanya tak lagi tertolong. Banyak yang menyayangkan kejadian tersebut. Di samping usia yang belum genap tiga puluh tahun, juga karena pemuda dengan kulit hitam manis ini alim, rajin beribadah, santun, jujur dan sederhana.

Yang paling mengejutkan, diisukan bahwa arwahnya gentayangan. Sehari berselang setelah pemakaman. Ada kabar yang berlompatan dari mulut ke mulut, menceritakan jika sekelompok pemuda desa yang suka mabuk, didatangi oleh Hantu Pocong pada saat mereka sedang berpesta menenggak minuman keras. Mereka merayakan kematian pemuda Alim yang terkenal dengan panggilan Sholeh itu. Ada yang melihat wajah hantu pocong itu mirip dengan Sholeh sebelum mereka lari tunggang langgang.

Sudah banyak yang tahu, jika Sholeh seakan menjadi musuh bebuyutan para pemuda 'wrong way' itu. Karena selama ini Sholehlah yang selalu menentang kebiasaan buruk mereka. Sehingga hal tersebut semakin menguatkan kabar yang beredar.

"Brot, seng genah koen, mosok Sholeh dadi pocong? ketok-ketok koen paling, kakean milur awakmu! -- Brot yang benar kamu, masak Sholeh jadi pocong? palingan kamu salah lihat, kebanyakan mabuk kamu!--" kata Pak RT mengklarifikasi kabar.

Anda pengunjung ke

Statistikku