Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2015

Tip Bersepeda Menaklukan Bromo 100 Km

"Hai Bro!" Taro menyapa Edi yang tengah bersepeda santai. Edi menoleh diiringi bunyi decit ban yang direm. "Ciye yang rajin latihan, denger-denger lu mau ikut event Cycling Bromo 100 km ya?"
Edi turun dari sepeda, dan menghampiri karibnya tersebut. "Iya, kurang dua hari lagi nih. Lumayan buat ngisi waktu liburan. Tapi gue bingung apa yang mau disiapin. Eh, bukannya lu atlit kecamatan, lu gak ikutan juga?"

"Enggak, gue lagi persiapan event propinsi bulan depan."

"Oalah. Eh joinan ya?" Edi mengambil secangkir kopi Taro yang tersaji di meja. "Lu ada tips khusus gak buat gue?"

Senin, 02 Maret 2015

Apa Kriteria Jodohmu? (Cerpen)

Apa Kriteria Jodohmu?

Sahabatku bercerita. Suatu waktu, di kantin pada jam istirahat ia bertanya pada kawan perempuannya, "Apa kriteria jodohmu?"

Perempuan yang ia temui beberapa bulan ini. Teman yang dipertemukan di tempat tes kerja, hingga akhirnya diterima di bagian yang sama. Keakraban yang timbul, membuat sahabatku jatuh hati. Sayang, ia tak pernah benar merasa siap untuk mengatakannya.

"Eh, kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Perempuan berjilbab itu menjadi kikuk.

"Enggak, cuma mau tahu aja." Sahabatku terkekeh. Berusaha mencairkan kegugupan yang ia ciptakan dan berharap perempuan itu tidak berpikir macam-macam. Mengingat karakter yang ia tunjukkan selama ini "slenge'an".

"Emmm, aku sih mimpinya punya suami hafidz."

Uhuk! Sahabatku meletakkan kembali segelas teh jeruk di genggaman ke atas meja. Mengambil sapu tangan dan mengelap lelehan di bibirnya.

"Eh? Kamu kenapa?"

"Enggak, gak papa lanjutin!" Sahabatku kembali terkekeh dan menggaruk hidung.

"Emm apa ya? Kayaknya yang penting satu itu. Lainnya menyesuaikan." Kini, Pipi perempuan seperempat abad memerah.

 "Kalau misal ada yang melamar, tapi  gak hafidz gimana?"

"Hemmm, ya boleh aja, asal agamanya lumayan dan lagi bacaan Al-Qurannya harus fasih. Biar bisa jadi pentashih hafalanku."

Uhuk! Kali ini sahabatku tersedak angin.

"Hafidzah to?"

Dia tersenyum, "Alhamdulillah."

Ia sosok yang terbuka dan ramah tapi tetap memegang batas. Risih bila disentuh pria dan juga tak pernah mau dibonceng lawan jenis. Sebab itu, sahabatku nyaman berteman dengannya.

"Pantesan."

"Eh, aku kok kayak lagi diprospek ya?"

Sahabatku tertawa, "Emang iya."

"Maksudnya?" Wajah polosnya penuh tanda tanya.

"Boleh gak kalau bulan depan aku melamarmu?"

Uhuk! Gantian, perempuan itu yang tersedak.

"Serius? Kok tiba-tiba?"

"Tiba-tiba gimana? Kita kan udah kenal selama ...." Sahabatku menghitung dengan jari, "lima bulan." Sahabatku terkekeh.

"Gimana ya?" Pertanyaan mengambang. Membuat jantung sahabatku berdegup kencang. "Boleh deh. Tapi keputusannya ada di Abi sama  Kakak laki-lakiku dan satu lagi, siap-siap dites bacaan qurannya." Perempuan itu tersenyum penuh makna. Dia pun sebenarnya menyimpan kagum. Sebab pernah tanpa sengaja mendapati lantunan ayat suci mengalir dari bibir sahabatku di musala kantor.

"Siap!" Sahabatku bersemangat.

Mereka pun berpisah ke ruang kerja masing-masing sembari menikmati hentakan jantung yang tak wajar.

Entah apa yang terjadi. Seminggu setelah kejadian itu, perempuan yang akhirnya oleh sahabatku disebut Nara, menjauhinya. Bila bertemu, hanya ada senyum disertai rasa canggung.

Ketika kusarankan untuk menelponnya, sahabatku menolak. "Biarkan dulu, mungkin dia ingin menenangkan pikirannya," tulisnya.

Namun ketika keadaan itu bertahan hingga tiga minggu, sahabatku akhirnya tak mampu menahan rindu.  Mulailah jemarinya mencari kontak Nara.

"Assalaa ...."

"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Cobalah beberapa saat lagi." Suara dari seberang setelah bunyi tut terakhir.

Sahabatku mencoba lagi.

"Assalaamu'alaikum, ada apa, Mas?" Suara lembut meluruhkan hati sahabatku.

Dengan hati-hati sahabatku menjelaskan kegundahan dan isi pikirannya.

"Maaf, Mas. Nara hanya ingin menjaga hati. Agar tak terlalu berharap. Karna Nara tak tahu apa yang akan terjadi minggu depan. Nara harap, Mas mengerti."

Setelah sahabatku mengucap maaf dan beruluk salam, percakapan pun diakhiri. "Hah, seminggu lagi. Bismillah."

***

Hari yang ditunggu pun tiba ...

Sahabatku hadir bersama kedua orang tuanya. Ketika dikabari mengenai rencana lamaran, orang orang tuanya sangat bergembira. Mengingat umur sahabatku yang menginjak angka dua puluh tujuh. Lebih sehari.

Jum'at yang cerah untuk sebuah niat suci. Agaknya mentari turut semringah tapi tidak dengan Nara atau pun sahabatku. Keduanya was-was dan berhujan keringat. Padahal, embun saja masih menggantung di ujung daun.

Bapak dan Ibu Nara tak menyangka, kedatangan keluarga sahabatku begitu pagi. Untung saja, semua jamuan telah siap sebelum subuh. Karena Nara dan ibunya mempersiapkan semua sejak pukul 3 pagi.

Dengan sedikit gugup, sahabatku menengok jam tangan hitamnya. 07.15 seharusnya gigil di tubuhnya mulai hilang. Tapi yang ada malah sebaliknya. Melihat gelagat putranya, Ayah sahabatku pun memberi pesan, "Jangan gugup! Baca sholawat yang banyak. Nanti kalau sudah di dalam, tekuk kedua jempol kakimu."

Apa hubungannya gugup sama jempol kaki? Tapi sahabatku tak ambil pusing. Dituruti saja pesan ayahnya. Begitu menginjak kaki di halaman. Nampak kedua orang tua Nara dan kakak lelakinya tengah menunggu di beranda. Setelah saling beruluk salam dan berjabat tangan, rombongan sahabatku dipersilahkan masuk.

Baru saja sahabatku merebahkan punggung di kursi dan menenangkan hati, tak lupa juga menekuk jempol kaki, ibunya sudah memberi shock terapi, "Ayo, Le, sampaikan maksudmu ke Abinya Nara."

"Lho lha kok?"

"Ehem," ayah sahabatku berdehem.

Itu artinya tak ada jawaban lain selain harus meng'iya'kan perintah ibu.
Bukannya ... seharusnya Ayah yang ngomong? Batinnya. Terlihat Ayah, Ibu dan Kakak Nara tersenyum.

Nara yang mengamati dari balik kelambu turut berdebar-debar. Dari mulutnya terus menerus menggumamkan Al-Insyirah, berharap semuanya dimudahkan.

"Emm ..." Sahabatku membenarkan posisi duduknya yang tidak salah, "begini ... kedatangan saya dan orang tua kami kemari ..."

Belum sempat kalimatnya terselesaikan, abinya Nara memotong.
"Iya, kami sudah diberitahu Nara. Begini saja, kasihan Nak Mas terlihat gugup. Mending langsung ke Tesnya saja."

Kakaknya Nara menyodorkan sebuah mushaf al-Quran bersampul warna perak.

"Coba baca An-Nisa ayat 4."

Diterimanya mushaf tersebut dan mendekapnya. Setelah membaca syahadat, ta'awudz. dan basmalah, sahabatku memejamkan mata. Lalu dari bibirnya terlantun surat yang dimaksud dengan merdu.

Melihat hal tersebut, Nara hanya menganga. Menaruh telapak tangan kanannya di depan bibir. Tak menyangka jika ternyata sahabatku seorang hafidz. Sedang kedua orang tua nampak tersenyum puas. Tapi tidak dengan kakaknya, setelah bacaan sahabatku selesai, ia kembali memerintah, "At-taubah ayat 71"

Selesai dengan lancar dan disambut dengan perintah ketiga, "Surat An-Nuur!"

Nara tak bisa menyembunyikan kerisauannya. Sedang sahabatku mengambil nafas dalam. Namun ketika akan melantunkan surat, ia menundanya, "Maaf, ada air putih?"

Seketika tawa memecah ketegangan. Saking khusyuknya sampai tuan rumah lupa menyajikan minuman. Nara hadir ke tengah pasang keluarga. Ia tampak anggun dengan busana biru dan kerudung biru laut bermotif bung. Ayah sahabatku berujar, "Oh ini to yang namanya Nara, pantesan putraku ngebet minta dilamarkan."

Kembali tawa menggema.

"Monggo diminum." Ayah Nara mempersilakan.

Setelah meneguk teh hangat, suasana tegang menyelimuti. Sahabatku bersiap melantunkan kembali ayat suci. Kembali dibuka dengan syahadat, ta'awudz, dan kemudian basmalah.

"Suurotun an(g)zalnaahaa wa farodhnaahaa ... (sampai akhir ayat.) Shodaqallaahul'adziim."

"Subhanallaah."

Ibunya Nara terlihat berbisik. Sedang kakaknya pamit ke dalam.

"Ehem ... saya kagum dengan Nak Mas ini. Bacaan indah, Nara banyak cerita tentang akhlak Nak Mas. Tapi tak pernah cerita kalau Nak Mas ternyata seorang Hafidz. Tapi sebelumnya, kami memohon maaf." Ayah Nara mengambil nafas. Tampak sengaja memberi jeda, "Kami tidak bisa menerima lamaran Nak Mas."

Nara, Sahabatku dan kedua orangnya tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Tapi ...." Semua nampak menyimak dengan perasaan yang tak menentu.

"Kami akan dengan senang hati, seandainya Nak Mas mau melakukan akad sekarang juga."

Nara terkejut, begitu pula dengan Sahabatku dan kedua orang tuanya.

"lho lha itu anu." Sahabatku gelagapan, "Pak? Bawa uang buat mahar?" lanjutnya.

"Cuma bawa dua ratus ribu," bisiknya.

"Tenang, mahar bisa nyusul. Nomer sekian itu, yang penting Nak Mas bersedia atau tidak?"

Sahabatku mengusap-usap telinga, "Be-bersedia, Pak."

Kakaknya datang dengan beberapa tetangga sekitar sebagai saksi. Dan turut hadir pula Penghulu desa. Agaknya rencana ini telah dipersiapkan tanpa sepengetahuan Nara.

"Saya terima nikahnya Sabrina Raudhotul Jannah binti Haji Mas'ud Abdillah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar dua juta rupiah hutang."

"Sah?"

"Sah!" Serempak para saksi berteriak.

Sahabatku pun memulai kisahnya yang baru di buku yang baru. Karena tubuhku telah penuh oleh kisah semasa lajangnya. Tertanda : Buku Diary

Sekian. Sila baca tulisanku yang lain di www.Lovrinz.com atau www.shohibulgubug.blogspot.com makasih ^^

Malang, 02 Maret 2015
AM. Hafs

Sabtu, 07 Februari 2015

Mengambil Fatwa dari Internet, Bolehkah?

"Lagi apa, Bung. Serius amat kelihatannya?" kantor ketika tengah rehat di kantin.

"Ini lagi searching hukumnya orang yang jimak di siang hari bulan Ramadhan."

Aku tertawa, "mentang-mentang pengantin baru."

Dia terkekeh. "Aku penasaran sama olok-olokannya teman-teman. Katanya kalau Ramadhan, "itu"-nya juga harus puasa. Jujur, sih baru denger. Maklum, aku sama istri basisnya dari TK sampai kuliah di umum. Ngaji cuma sampai SD doank."

Aku mengernyitkan dahi. Kemudian mengambil kursi di depannya dengan menaruh sandaran kursi di posisi depan dan mendudukinya. Kami kenal sudah sekitar 3 tahunan. Berawal dari rekrutan angkatan yang sama, membuat kami akrab. Kami sering berbagi mengenai masalah-masalah kantor. Tapi untuk masalah pribadi, sepertinya baru kali ini.

"Joinan ya?" kataku yang dijawab dengan anggukan. Tanganku meraih kopi susu yang terhidang. Setelah meneguknya sedikit aku pun mulai berceloteh.

"Boleh tanya-tanya?"

Jumat, 23 Januari 2015

Liebster Award

Kenal "acara" ini dari Mbak @Agyasaziya_R. Waktu itu lewat kicauannya, si Mbak yang pengen banget jalan-jalan ke jepang itu ngeluh, puyeng dapat banyak tag dari Si "Liebster". (Tahu gak? Hal pertama yang terpikirkan waktu baca kata itu malah lobster.)

Aku yang penasaran langsung SKSD dan nanya-nanya. Karena biasanya, yang namanya "award" itu seru. Mbaknya bilang, "Bentar lagi diposting." Oke deh aku nunggu. *Cling!* Setelah tulisannya keluar di temlen, aku langsung meluncur. Kesan pertama pas baca tulisannya cukup menghibur dan kagum. Karena jujur, buatku nulis lepas itu terkadang lebih sulit daripada nulis fiksi atau puisi.

Selasa, 06 Januari 2015

Ular (Fiksimini)

Gerah, penumpang berjubel di dalam angkutan umum. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana pun hening. Hanya deru mesin yang mengiring.

Tiba-tiba kakiku terasa seperti dipatuk sesuatu. Reflek, aku berteriak sembari mengangkat kaki, "Ulaaar!"

Mendengar teriakanku, pak sopir menghentikan laju kendaraan. Kebanyakan penumpang turut mengangkat kaki. Suasana menjadi gaduh. Kecuali seorang penumpang di sampingku yang tetap tenang.

"Ada apa, Bu?" tanya Pak Sopir.

Senin, 06 Oktober 2014

Sholeh dan Santrinya. (Episode laporan Bian) / Fiksimini

Sehabis maghrib tiap hari Jumat. Sholeh mengajar ngaji anak-anak kecil umuran TK dan SD di Surau yang tak jauh dari rumahnya.
Di tengah kegiatan hafalan juz amma, tiba-tiba ada yang nyeletuk. Bian namanya, santri gembul kelas 2 SD. Dia bilang, "Mas, Nirta pacaran sama Freanda."

Senin, 22 September 2014

Gila Baca

"Musashi" Sebuah judul novel terjemahan dari Jepang. Aku baca ulang sembari menunggu bus kantor datang. Aku baca ulang seperti kata-kataku dulu, ketika sedang menghabiskan waktu liburan bersama Deon di kamarnya. Ah, jadi teringat lagi percakapan itu.

***
"Heh? Udah selese?" Mata Deon terbelalak.

"Yep, hehe. Kenapa emang?"

"Gak, kasihan aja ama penulisnya, bikinnya 2 tahun loe habisin cuma 2 jam."

"Haha, ntar gue ulang kok. Baca awal cuma buat ngerti alur cerita. Baca kedua menggali beberapa makna yang tersirat."

"Tapi ... 800 lembar 2 jam? Ah you're crazy, Maan!" Ia menatap tak percaya.

***
Itu adalah canda tawa terakhirku dengannya. Semoga kuu tenang di surga kawan.

AM. Hafs

Senin, 08 September 2014

Surat Ijin (Sakit) Anak Sastrawan












Kepada yang terhormat
Sang Pendidik empunya singgasana kelas 12 Bahasa.
di titik muka bumi

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bersama hadirnya untaian kata ini di tangkapan netra Anda, Sang Penyampai. Kami, perdu dari seorang putra yang padanya tersemat nama : AM. Hafs, penghuni kelas 12 Bahasa, ingin melayangkan kabar bahwa, dia yang menduduki nomor presensi satu itu, tidak mampu mengikuti rapalan petuah ilmu pada hari ini. Sebab, dia kini tengah tergolek lemah di tempat tidur. Bergulat dengan rasa sakit.

Berkenaan dengan hal tersebut, kami pun melambungkan harap agar Bapak menerbitkan ijin dan maklum atas untaian kabar ini. Selanjutnya derai ribuan syukur terima kasih atas perhatiannya kami haturkan

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Tertanda
Wali Murid
Muhammad AR

Sumber gambar : google.com

Jumat, 22 Agustus 2014

Hati-Hati Bersahabat Dengan Pujangga.


Mentari mulai meninggi, saat dua orang lelaki yang bersahabat sejak bayi bercakap-cakap.

"Sial! Kemarin King Tatto kalah lagi," dengan bersungut, Imron curhat tentang hasil lomba burung yang telah ia ikuti.

"Begitulah garis-Nya, kita hanya mampu mencoba memantik api, masalah api itu berhasil menghanguskan, serahkan pada pengatur angin dan hujan," Andre menjawab dengan memasang muka penuh kharisma.

Imron mengernyitkan dahi, ia mulai risih saat jiwa pujangga karibnya muncul tanpa kenal situasi.
"Ya, ya ... Apa aku jual saja burung ini ya? Dan beli baru?"

"Lebih baik, tambal dan rapikan ukiran yang kurang pas dengan sedikit semen, daripada menggantinya dengan pagar yang baru."

Jari-jari Imron menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Batinnya mengatakan, lebih baik ia diam. Sampai Andre kembali normal.

Beberapa menit, suasana menjadi hening.

Lalu, Andre, dengan tatapan yang masih terpaku pada layar hape, tiba-tiba memecah kesunyian, "Mron, coba tebak, kapan jumlah anggota KBM nembus angka 63 ribu?"

Imron yang sedang memberi makan burungnya, tiba-tiba tersenyum. Dan dengan wajah polos ia menjawab, "Ketika wajahnya menyapu rinduku di hari yang sendu." Ia pun bersiul penuh kemenangan.

AM. Hafs

Rabu, 12 Maret 2014

Perjuangan Semut

PERJUANGAN SEMUT

Seekor semut hitam beranjak dengan kalut. Baru saja sumringah karena menginjak usia dewasa, langsung mendapat tugas menjadi agen rahasia. Mengemban misi mencari makanan untuk koloni.
Pengalaman pertama, masih melangkah tak tentu arah. Memang, agen rahasia adalah pekerjaan mulia, tapi Ia juga tahu bagaimana bahayanya. Apalagi jika sudah bertemu dengan hewan yang lebih besar atau yang paling parah, bertemu manusia.

Semut imut tak bernyali ciut. Meski dari gurat wajahnya terlihat sedikit gundah, karena khwatir tak mampu menjalankan tugas dengan sempurna. Tapi hal itu tak berapa lama, segera dia baca doa keluar rumah dan melangkah dengan gagah.

Jauh sudah jarak termangsa langkah. Syukur alhamdulillah tak ada rintangan berarti, meski sumber makanan belum jua ditemui. Semut imut masih gigih. Ia terus saja mencari. Berbekal tawakkal dalam hati dan keyakinan bahwa ikhtiarnya tak akan sia-sia. Di suatu tempat, pasti rezeki dari-Nya tengah menanti.

Setelah mengelilingi lantai, kini ia beranjak ke sisi kiri. Merayap naik pada sebuah kursi.


“Aku lebih hebat dari cicak,” katanya bangga.


Sejurus kemudian ia sampai di puncak tertinggi. Diedarkan pandangan kesemua sisi. Terlihat di seberang sana seorang lelaki tengah sibuk dengan sebuah laptop merah

“Wah, sepertinya ahli IT.” Matanya berkaca-kaca, Bukan karena kagum pada lelaki berkacamata. Tapi pada benda disampingnya. Rezeki berupa remah roti.

“Makanaaaaan!” teriaknya girang.

Segera ia tulis kordinat beserta situasinya. Sisi tengah ruangan, di atas meja putih, jalur aman berada di arah jam 9 dari lubang sarang. Catatan : Waspada untuk lelaki berkaca mata. Ada tempat persembunyian di arah jam 3 dari target untuk antisisapi keadaan darurat. Lalu dikoreksinya kembali, karena jika salah maka semua pasukan bisa binasa. Dan …, ya, ada salah eja di sana yang tak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), 'antisisapi' seharusnya 'antisipasi'. Cepat ia betulkan dan berlari dengan kencang ke lubang sarang.

Dengan nafas tersengal ia memasuki sarang, berteriak dan seketika menjadi pusat perhatian.

“Komandaaaaan!, Komandan!” teriaknya heboh. Seperti ekspresi anak kecil ketika mendapat hadiah kejutan, Sesaat kemudian sang Komandan menghampiri dengan gagah.

“Berhenti berteriak!” sergahnya.

“Ma… af, Ko-ko-mandan,” jawab semut imut sambil mengatur nafas. Diserahkan catatan tentang lokasi makanan tadi pada Komandan. Komandan mengambil kertas itu dan mulai membaca seperti seorang guru yang sedang mengoreksi tugas sekolah.

“Tulisan rapi, informasi lengkap, dan apa ini?” batinnya. Dilihat sebuah kata dengan sebuah coretan satu garis horizontal.

Anda pengunjung ke

Statistikku