Dia masih terlelap dengan cantik. Sepertinya masih kelelahan. Karena biasanya, ia sudah bangun sebelum azan subuh berkumandang.
Lamat-lamat kupandangi kecantikannya dengan kagum. Sungguh beruntung memilikinya. Semoga saja dia juga merasa beruntung memilikiku yang penuh kekurangan ini. Dengan lembut jemariku menyentuh pipinya. Lalu menepuk pelan untuk membangkitkan ia dari lelapnya.
"Dek, bangun. Sudah subuh."
Ia hanya menggeliat, imut sekali.
"Dek, bangun, Sudah subuh. Ntar kesiangan lo. Katanya semalem pengen jamaah."
Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Tampilkan postingan dengan label Twist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Twist. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 31 Januari 2015
Senin, 22 September 2014
Gila Baca
"Musashi" Sebuah judul novel terjemahan dari Jepang. Aku baca ulang sembari menunggu bus kantor datang. Aku baca ulang seperti kata-kataku dulu, ketika sedang menghabiskan waktu liburan bersama Deon di kamarnya. Ah, jadi teringat lagi percakapan itu.
***
"Heh? Udah selese?" Mata Deon terbelalak.
"Yep, hehe. Kenapa emang?"
"Gak, kasihan aja ama penulisnya, bikinnya 2 tahun loe habisin cuma 2 jam."
"Haha, ntar gue ulang kok. Baca awal cuma buat ngerti alur cerita. Baca kedua menggali beberapa makna yang tersirat."
"Tapi ... 800 lembar 2 jam? Ah you're crazy, Maan!" Ia menatap tak percaya.
***
Itu adalah canda tawa terakhirku dengannya. Semoga kuu tenang di surga kawan.
AM. Hafs
***
"Heh? Udah selese?" Mata Deon terbelalak.
"Yep, hehe. Kenapa emang?"
"Gak, kasihan aja ama penulisnya, bikinnya 2 tahun loe habisin cuma 2 jam."
"Haha, ntar gue ulang kok. Baca awal cuma buat ngerti alur cerita. Baca kedua menggali beberapa makna yang tersirat."
"Tapi ... 800 lembar 2 jam? Ah you're crazy, Maan!" Ia menatap tak percaya.
***
Itu adalah canda tawa terakhirku dengannya. Semoga kuu tenang di surga kawan.
AM. Hafs
Langganan:
Postingan (Atom)