Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2019

Menulis, Menunda Kematian

Kadang kala, aku memikirkan bagaimana rasanya mati. Lalu apa yang akan terjadi padaku saat sudah di alam baka nanti? Apakah seperti tengah bermimpi atau malah lebih terasa hidup daripada rasanya hidup di dunia?

Kematian, menurut al-Ghazali adalah suatu hal yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini. Bahkan jarak antara hidup dan mati barangkali hanya hitungan detik. Tergantung seberapa cepat Izrail mencabut nyawa ini.

Namun memang sudah menjadi keumuman, yang dekat seringnya malah terabaikan. Yang jauh malah terngiang tanpa henti. Ah, generalisasi.

Kadangkala, membayangkan kematian dengan gambaran yang pernah kudengar, ketika ruh dicabut seperti dicabutnya kain dari belukar berduri, membuatku begidik ngeri.

Namun, ketika aku ingat bahwa Allah Maha Pengampun, dan Rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa-dosaku, aku seolah siap dipanggil kapan saja.

Kematian, juga disebut sebagai nasihat terbaik. Hanya ... umumnya orang bukanlah pendengar nasihat yang baik. Seringnya butuh momen tertentu sampai seseorang itu bisa menerima sebuah nasihat dengan hati.

Apa pun, kematian sesungguhnya adalah saat dirimu tak lagi diingat oleh orang lain. Bisa karena semasa hidup, lakumu kurang bermanfaat bagi orang lain atau bisa juga karena namamu terlalu buruk untuk dikenang. Maka, menulis kebaikan, ilmu, atau hikmah selain untuk tabungan amal kebajikan, juga agar nama kita tetap bergaung saat jasad telah tiada. Minimal anak keturunan masih bisa membaca 'kita'.

AM. Hafs
Malang, 26 Oktober 2019

#Akukeluargacangkirpena
#nulismawanitisharikeempat

Kamis, 21 September 2017

Rumah Kesedihan

Apa yang kauharapkan dari lorong-lorong putih yang dipenuhi wara-wiri para dokter dan perawat. Wara-wiri para manusia duka. Entah karena anak, ibu, bapak, atau saudaranya, yang menginap di salah satu kamarnya atau karena ia sendiri.

Beberapa wajah, ada yang sembunyikan lelah dan dukanya dalam lelap di bangku-bangku panjang. Ada yang sibuk membaca buku, tapi lebih banyak yang melamun. Entah melamunkan kemungkinan terburuk, biaya, atau kondisi keluarga di rumah.

Sesekali, kebanyakan dari mereka tersenyum. Tak lain karena kedatangan kunjungan saudara. Meski hanya membawa sebungkus roti dan sekecap doa.

Pemandangan lain yang tak kalah asing di sini, adalah wajah-wajah layu dihiasi tangis dan sedikit isak pilu tertahan. Barangkali baru saja mendapat kabar dari dokter, yang seringkali diawali, "Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin."

Rumah sakit, yang bahagia hanya sedikit. Lebih banyak yang mencoba tabah. Lebih banyak yang tak betah, walau fasilitas semua ada.

Maka, jika kau ingin tahu harganya sehat berkunjunglah ke sini sesekali. Tapi jangan karena sakit. Sebab rumah ini tak mampu menjaminmu keluar dengan selamat.

AM. Hafs
RSU dr Iskak Tulungagung, 21/19/2017

Sabtu, 16 September 2017

Angan yang Mewujud

Antara menanti atau hanya akan berakhir sebagai mimpi. Itulah yang aku rasakan saat mendengar kata kuliah. Di tahun ini, 2017, akhirnya aku ditakdirkan untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Ma'had Aly Al Hikam. Sebelum akhirnya benar-benar masuk ke kampus ini. Aku hanya bisa berswafoto di depan papan nama lembaga ini. Semenjak itu, hatiku serasa tertaut kuat bahwa suatu hari aku akan menuntut ilmu di sini. Padahal, waktu itu aku sedang disibukkan persiapan pernikahan. Di sisi lain, pekerjaanku yang seminggu penuh menjadikan keinginan itu kian terasa mustahil. Its like a mission impossible.

Rabu, 31 Agustus 2016

Belajar Memahami 'Life Sign'

Ada banyak buku yang telah kubaca. Tapi hanya sedikit yang meninggalkan kesan begitu dalam. Selain Api Tauhidnya Habiburrahman, ada juga buku non fiksi karya Andre Raditya yang berjudul "Life Signs".

Kali ini, secara khusus aku ingin mengulas bagaimana buku tersebut memengaruhi proses berpikirku. Buku yang kupinjam dari seorang teman itu secara garis besar mengajak kita untuk lebih awas terhadap kehidupan. Yang inti dari buku itu apabila digambarkan dalam satu kalimat, kurang lebih seperti ini, "Di dunia ini tak ada yang kebetulan."

Kepekaan seseorang terhadap alur kehidupannya berbeda-beda. Ada yang hanya dengan satu 'clue' ia mampu memahami ada yang harus mengalami berbagai kejadian dulu, baru memahami.

Apa yang dimaksud memahami? Akan kuceritakan sedikit pengalamanku.

Bulan kemarin, ketika aku merasa penjualan desain kaligrafi menurun, hati ini tergerak untuk berdoa dan mengharap agar dilancarkan lagi.

Tak lama setelah itu, dalam sebuah obrolan, seorang teman tiba-tiba bertanya, di antara waktu sempit pagi hari sebelum berangkat kerja, apa sudah masuk dhuha?

Awalnya aku hanya menanggapi biasa, tak berpikir apa-apa. Aku lantas melihat jadwal sholat, setengah 7 untuk daerah Malang, itu sudah masuk dhuha. Jadilah, di tengah sempitnya waktu yang dia punya, masih dia sempatkan untuk mendirikan sholat dhuha.

Aku baru menyadari sesuatu, ketika akhirnya aku dihadapkan pada 'sign' kedua. Beberapa kali ketika hendak sarapan, aku seolah diperlihatkan kepada kakak perempuanku yang sedang sholat dhuha. Dari dua clue tadi, tiba-tiba saja aku teringat ada banyak perkataan ulama tentang manfaat dhuha untuk kelancaran rezeki.

Setelah kupelajari lebih dalam, ternyata lancarnya rejeki hanyalah efek samping. Dalam sebuah hadits, Rasulullah menerangkan bahwasanya indera kita ini butuh disedekahi sebagai ungkapan rasa syukur. Lantas beliau memberi tahu jika dua rokaat dhuha di pagi hari, mencukupi itu semua. Maka, jika ditarik lebih dalam terhadap firman Allah yang menjelaskan bahwasanya sesiapa saja yang bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah.

'Lain syakartum la azidannakum'

Dari hal itulah kemudian ulama memberi kesimpulan gamblang, siapa yang ingin rejekinya ditambah, maka silakan sholat dhuha istiqomah.

Begitulah, harus menemui dua 'signs' dulu, agar aku memahami jawaban terhadap doaku yang bisa juga berupa teguran, sebab tak istiqomah dhuha padahal waktu yang kupunya jauh lebih luang dari temanku yang bertanya.

Jika ada yang berkata, "Masa sholat/ibadah untuk mengharap rejeki?" Abaikanlah. Sesungguhnya semua itu proses. Ketika kita telah mampu istiqomah dan siap untuk naik kelas, maka akan sangat mudah bagi Allah untuk membuat kita beribadah dengan ikhlas hanya mengharap ridho-Nya.

AM. Hafs
Singosari, Penghujung Agustus 2016

Minggu, 03 Juli 2016

Arti Sebuah Kelulusan

Pernahkah berpikir jika sebulan yang kita lalui, menentukan perjalanan setahun ke depan? Suatu kali aku merenung, mengamati pola kebiasaanku di bulan Ramadhan. Khususnya dalam hal ibadah, yang secara tiba-tiba membuat hati ini menarik benang merah. Bulan suci nan mulia ini tak ubahnya seperti waktu menata ulang proker atau prota kehidupan. Sehingga, saat sebulan ini kita isi dengan kebiasaan-kebiasaan positif, ia akan melekat dalam langkah setahun ke depan sebagai suatu misi yang terpogram, begitu pula sebaliknya.

Sebab itu, kurang lebih tiga hari menjelang masuk bulan Ramadhan aku menyusun target-target. Apa pentingnya? Ibarat sebuah game yang punya misi, maka target itu pun sama. Suatu bentuk ikhtiar untuk menempa diri secara terprogram demi memaksimalkan bulan suci, yang belum tentu bisa ditemui lagi tahun depan.

Kamis, 16 Juni 2016

Lima 'Viewer' Penyemangat

Lima 'viewer' yang juga 'reader', entah siapa mereka, yang pasti aku tersenyum melihat kesediaan mereka membaca corat-coretku. Terutama setelah berbulan-bulan penaku berhenti merangkai. Apalagi tulisan tentang sitar tadi belum kubagikan di lini masa twitter.

Menulis memang membuat hidup lebih hidup. Untuk masalah ketakutan dalam menulis, rumusnya tetap sama. Rasa takut hanya bisa disudahi dengan melawannya. Apa begitu juga yang seharusnya kulakukan dalam hal mencintainya?

Belum. Tunggu lulus, minimal. Seperti itu nurani menjawab. Sementara itu, aku berharap ia bersabar dan terus berpikir positif. Seperti yang sama-sama kami ketahui, cinta sebelum halal merupakan ujian. Aku hanya berharap, semua berakhir dengan turunnya ridho Allah. Sehingga apa yang kami niatkan diberi kelancaran, keberkahan, dan kelanggengan.

Sedikit cerita, setelah dulu pernah punya pengalaman cinta yang berakhir akibat tak direstui, aku sungguh bahagia ketika sekarang orang tuanya mendukung hubungan kami. Meskipun saat ini aku belum bisa memberi kepastian kapan akan menghalalkannya, atau minimal memperkenalkan dia ke orang tuaku. Meski aku tahu, ibuku pasti sudah mencium hubunganku dengannya. Karena, mengutip kata-kata si dia, "Wanita adalah detektif handal ketika berurusan dengan cinta." Semoga dia tidak marah karena aku menulis kisah kami di sini. Heheu.

Sejujurnya, sejauh pencarianku sebelum-sebelumnya, sebenarnya aku mendambakan sosok yang mau menunggu, lalu mencintai dalam diam. Tapi nampaknya cinta tak sesederhana itu. Ada tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi ketika dua anak adam telah memutuskan untuk saling mencintai. Mau tak mau, harus kami jalani. Yang bisa kulakukan saat ini hanya mengerem, ketika semuanya mulai lepas kendali. Meski tak selalu berhasil, setidaknya aku tak ingin menyerah.

AM. Hafs
Singosari, 16 Juni 2016

Indahnya Petikan Sitar

Aku menulis dalam keadaan takut. Entah berapa kata, kalimat, dan judul yang sudah kuhapus, sebelum akhirnya aku memulai menulis lagi dengan judl sitar ini. Kenapa sitar? Seba aku saat ini telah dihibur oleh petikan sitar dari lagu gambus yang menghiasi daftar urut lagu di aplikasi winamp. Memang, tak hanya sitar, tapi juga berbagai alat musik pengiring lain, tapi ... gambus tanpa sitar itu hanya akan menjadi dangdut. Heheu

Setelah satu paragraf di atas tertulis, rasa takutku mulai terkikis. jangan tanya ketakutan seperti apa. Karena aku sendiri juga tak dapat memastikan. Untungnya, dini hari menjelang waktu sahur ini, rasa rindu merangkai kata lebih besar daripada ketakutanku.

Di paragraf ketiga ini, aku mulai bingung harus menulis apa. Karena itu, aku akan kembali ke sitar. Alat musik yang satu ini seperti seorang pemimpin yang mampu menggiring dan mengiring bawahannya menjadi satu perpaduan indah. Dia adalah pembuka dan penutup untuk rangkaian lagu. Jika kalian tanya siapa wakilnya, maka dalam musik gambus ini aku memilih biola. Gesekannya benar-benar cantik. Sedang gendang posisikan saja sebagai penjaga gawang. Mumpung lagi musim euro dan copa amrica. Kenapa penjaga gawang? Sebab ia seperti bagian penting yang harus ada. Pelengkap yang tak hanya sekadar pelengkap. Entah kalian sebut apa. Heheu.

Kursor berkedip, seperti bertanya, aku hendak menceritakan apalagi. Sedang dalam paragraf sebelumnya saja aku telah membuka identitas sebagai orang yang tak terlalu paham musik, terutama gambus dan dengan seenaknya memosisikan alat musiknya. Kalau kata orang jawa, "Kodo" pakai "o" seperti pada kata "boleh", yang artinya tidak sopan, Tapi aku masih ingin menulis, tentang apa saja kecuali cinta. Agaknya, aku belum sanggup. Terlalu rumit. heheu.

Baiklah, sudahi saja. Sitar dan biola saat ini sedang berpadu mengiringi sang vokalis. Musik memang universal, bisa dinikmati walau tak dimengerti. Ah iya, kucantumkan satu judul lagu marawis yang enak didengarkan Galbi Niram dari Nizar Ali. Selamat mencari.

AM. Hafs
Singosari, 16 Juni 2016

Selasa, 24 Mei 2016

Sebagai Kakak

Sebagai kakak, aku merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada adikku. Apalagi jika mengenang masa kecil dulu, di mana aku sering sekali menyakitinya. Bahkan pernah menendang sampai hidungnya berdarah. Barangkali, kalau saat itu ia ditanya, "Siapa orang yang kamu benci di dunia ini?" Ia akan menjawab, "Kakakku."

Semenjak lulus SMA, aku mulai menyadari, betapa masa lalu kami sungguh buruk. Karena itu, aku mulai mencoba menebusnya. Sedikit hadiah di kala ulang tahun, sedikit uang jajan ketika gajian. Ah semuanya serba sedikit. Satu hal yang besar, mungkin hanyalah impian untuk menguliahkannya. Namun, alih-alih mewujudkan mimpi, semenjak ia bekerja, malah aku yang diberinya uang saku. Menyesakkan kadang-kadang. Padahal, aku merasa belum tuntas membayar rasa bersalah. Di sisi lain, aku juga masih berkutat dalam misi pribadi membenahi hidup. Membuatku bingung, mana hal yang harus lebih dulu kuprioritaskan. Di hadapan semua itu, aku terus memupuk keyakinan, bahwa bersama kesulitan, pasti ada kemudahan. Bahkan dua lipat kemudahan. 

-AM. Hafs

Senin, 07 Maret 2016

Mimpi atau Relita?

Mimpi atau realita? Begitu judul sebuah give away di sebuah blog yang kuikuti. Kau tahu, beberapa hari ini aku 'sakau' kepada sebuah pertanyaan. Di dalam tempurung otakku, terasa ada sesuatu yang ingin keluar tapi tak ada jalan keluar. Dan pagi ini, setelah menelurkan beberapa artikel aku merasa lebih hidup. Itulah kenapa kemudian kata mutiara, "Menulis membuatku lebih hidup" kutempelkan di bagian bawah kanan blog ini.

Mimpi atau realita? Begitu mendapati pertanyaan ini, otakku segera bekerja. Menggali kemungkinan-kemungkinan. Menggali pengalaman yang kemudian lahir sebagai tulisan beriku, yang percayalah bahwa sebelumnya aku pun tak pernah memikirkannya. Seperti sebuah kejutan begitulah rasanya kaetika aku menemukan sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan.


Mimpi atau Realita?

Masih Tentang Februari, Surat Kepada Bapak

Tanggal 2 Februari kemarin adalah hari jadi bapakku. Pada dinding facebook, aku mengadu keresahan yang akan kuhadirkan ulang di laman ini.

Persembahan Kecil di Hari Jadi Bapakku (2 Feb 2016)

Bapak, hari ini pada kurun setengah abad lebih yang lalu engkau menatap dunia. Walau aku tak tahu bagaimana wajah yang engkau hadirkan kala itu, tapi aku bisa memastikan engkau lahir dengan membawa suara memekik dan air mata. Sebab belum pernah kudapati ada bayi yang lahir kemudian tertawa ngakak seperti penonton 'komedi berdiri', dan  lucunya, tangis itu disambut gembira oleh kedua orang tuamu.

Bapak, ada banyak kemiripan kita. Sehingga, walau tanpa tes DNA aku yakin jika engkau memang bapakku. Salah satu kemiripan kita yaitu, dalam hal pendidikan kita tak terlalu memedulikan teman. Dalam artian kita tak ragu dan tak malu berangkat sekolah atau mengaji sendirian. Membiarkan teman-teman yang lain bergerombol kesana kemari. Begitu cerita emak kepadaku. Barangkali, kalau zaman sekarang, engkau akan dijuluki sok alim.

Mungkin engkau tak tahu, Pak. Zaman SMA dulu aku juga terbiasa sendirian. Ketika semua teman lelaki menerlambatkan diri masuk kelas seusai istirahat, aku sendirian yang masuk kelas tepat waktu. menjadi satu-satunya pejantan tangguh di antara dua puluhan kaum hawa. Karena kebiasan itu, aku sukses mendapat julukan kuper. Lucu sekali, kenapa bukan playboy ya? Heheu.

Bapak, satu hal yang patut aku banggakan darimu. Yakni, ketika suatu hari ada orang yang menjahilimu. Tapi, engkau tetap saja mampu berpikir dan berbuat baik. Barangkali oleh pemuda sekarang engkau akan dijuluki lugu. Lugu dalam artian sebenarnya, bukan lucu 'gundek'. Aku tak sampai hati bercita-cita menduharkai engkau. Walau uang jajan tak lagi kuterima semenjak bekerja.

Pak, suatu hari aku berkunjung ke rumah nenek. Beliau memberi wejangan kepadaku agar jadi anak yang patuh. Nenek bercerita, bahwasanya engkau dulu adalah anak yang patuh. Berbeda denganku, yang di masa kecil dulu pernah menantangmu main pedang-pedangan saat aku hendak engkau cambuk, gara-gara tidak mau berangkat ngaji. Apa engkau masih ingat, Pak? Ah, betapa menjengkelkannya aku waktu itu.

Minggu, 06 Maret 2016

Pecinta Kucing, Silakan Masuk

Februari yang spesial telah lewat tanpa ada satu pun tulisanku yang mengabadikannya. Februari tahun kabisat dengan segala kontroversi di tubuhnya. But, kata pepatah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. So, malam ini akan kukumpulkan remah-remah ceritanya.

Kursor masih berkedip-kedip. Menanti jemariku yang berusaha menerjemahkan isi hati. Februari ... oh ayolah! Bahkan sampai di sini, aku belum menemukan momen apapun untuk ditulis.

Baiklah, Coba kumulai dari Instagram. Aku adalah seorang lelaki pecinta kucing. Maka tak heran jika di lini masa Instagramku sering berkelebatan foto dan video kucing dengan segala ekspresi menggemaskannya. Di rumah, aku memiliki satu kucing jantan, namanya Jojo. Aku sangat menyukai bulu putih yang mendominasi tubuhnya. Ia memiliki banyak warna, selain loreng abu-hitam di punggung dan dahi, juga ada sedikit warna orange di kedua telinganya.

Senin, 04 Januari 2016

Senin Rasa Anggur

Senin selalu saja riuh. Bukan hanya cuitan emprit kaji di dahan pohon mangga atau encit di pupohon kelapa, tapi juga cuitan akun-akun di media sosial berlogo burung biru.
Ada yang menunjukkan cuitan semangat menatap hari senin, walau tetap saja ada rasa berat beranjak dari kasur. Ada pula yang menunjukkan kelesuhan, tapi juga tetap berangkat demi tuntutan tanggung jawab.
Sedang bagi blogger pengangguran sepertiku, semua hari nampak sama. Tiap hari targetnya pun tak jauh beda. Blogwalking, menjelajahi beranda, menjelajahi lini masa, menengok situs berita, menulis status, menulis apapun di blog.
Sesekali meluangkan waktu jalan-jalan. Menyegarkan otak, agar tidak jadi kaum kupik, kurang piknik. Walau pun sekadar jalan-jalan ke depan rumah, lihat situasi, lalu balik lagi ke kamar, jalan-jalan melalui jendela dunia. Ditemani secangkir minuman hangat.
Terhitung, tujuh bulan sudah aku menjadi pengangguran. Sesekali memburu event untuk mengumpulkan uang jajan.
Jujur, baru sekarang ini merasakan predikat pengangguran. Karena dari semenjak lulus SMA, aku langsung kerja dengan rutinitas yang sama selama lebih kurang lima tahunan.
Menganggur itu rasanya bebas tak bebas. Karena ketika ingin kemana-mana, dompetku kosong. Beda saat masih kerja dulu.
Dan yang lebih parah, sebagai pengangguran, seharusnya aku lebih produktif menulis di blog, tapi kenyataannya aku tetap saja penulis moody. Menulis hanya ketika sedang mood. Kebiasaan buruk.
Di tahun baru ini, saatnya mengubah itu. Sebab bagi pengangguran, Senin itu rasa anggur.

AM. Hafs

Jumat, 01 Januari 2016

Hidup Butuh Tagline

Setelah berakhirnya tahun 2015, aku menyadari bahwa sebuah target itu memang perlu. Renungan yang lahir ketika tadi aku bertanya pada diri sendiri, "Apa yang telah kucapai di 2015?" Aku tak mampu menjawab. Sebab tahun kemarin memang hampir tak membuat target selain ingin secepatnya lulus. Dan Alhamdulillah meleset, menyisakan beberapa juz.
Karenanya tak perlu memandang heran ketika banyak kepala di awal tahun ini, menuliskan berbagai resolusi. Bahkan, seorang Azrul Ananda sampai membuat sayembara yang berhadiah satu juta di Jawa Pos. Atau bila porsi masalah tentang memandang orang lain lebih diluaskan, akan seperti quote ini, "Jika pernah gagal akibat melakukan sebuah misi, jangan lantas meremehkan seseorang yang tengah melakukan misi yang pernah gagal kita lakukan." Hal tersebut malah hanya menunjukkan betapa sempitnya pandangan. Mengukur orang lain hanya dari kaca mata kita.
Namun, dalam hal menulis resolusi ini, aku lebih tertarik untuk menuliskan di buku harian, daripada di sosial media. Rasanya lebih privat saja dengan sang pencipta. Dan dalam kaca mataku, resolusi itu sebenarnya lebih ke target pribadi, bukan ajang pamer diri atau prestasi. Memang tak semua resolusi mengandung dua hal tersebut, tapi kembali lagi, ini hanya pandanganku semata. Dan tak lantas ternilai lebih baik dari mereka yang menuliskannya di ranah umum.
Selain resolusi, tagline pun tak kalah penting. Jika sahabatku di tahun kemarin membuat tagline #Makeithappen dan tahun ini #Neverlosehope, aku membuat tagline #Waktunyamembalas. Terkadang, satu kalimat bisa memberi energi lebih. Seperti sebuah mantra. Barangkali ada yang ingat kalimat, "Aal iz well?" yah, kurang lebih seperti itulah.
Di ujung tulisan, sudah selayaknya kulangitkan syukur untuk apa-apa yang terjadi di tahun kemarin. Karena ada yang menjanjikan bahwa siapa saja yang bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah. Aku beriman atas janji itu, sebab yang menjanjikan adalah Dzat Yang Tak Mungkin Menyalahi Janji.
.
AM. Hafs
Singosari, 1 Januari 2016

Senin, 14 Desember 2015

Aku Pernah Hidup Sebagai Bocah

Aku pernah hidup sebagai bocah yang ketika pulang sekolah, langsung kumpul teman-teman sebaya. Pergi ke sumber di hutan samping kampung. Mandi berjamaah.
Aku pernah hidup sebagai bocah yang kumpul bersama teman-teman sebaya sehabis ashr, main engklek, lompat tali, kasti.
Aku pernah hidup sebagai bocah. Yang ketika tetangga sedang membakar genteng. Aku bersama teman-teman sebaya memakai sarung dan main ninja-ninjaan.
Aku pernah hidup sebagai bocah yang ketika mengunjungi tempat pembuatan genteng. Aku dan teman-teman sebaya meminta tanah liat untuk dibentuk menjadi aneka bentuk binatang atau replika benda.
Aku pernah hidup sebagai bocah yang tak mengenal apa yang zaman sekarang disebut 'kecanggihan'. Mainanku, kuda-kudaan atau senapan dari dahan daun pisang. Kadangkala aku membuat penangkap capung dari rumah jaring laba-laba.
Aku dan teman-teman sebaya, pernah hidup sebagai bocah yang merasa asyik walau hanya menangkap belalang di kebun depan rumah.
Aku pernah hidup sebagai bocah yang berlarian main kejar-kejaran, bentengan, dolipan, saat azan isya selesai berkumandang.
Aku pernah menjadi bocah, yang lugu. Tak berpikir aneh walau main pengantin-pengantinan. Berkeliling sawah, sambil membawa ketapel. Memanjat pohon tetangga dan menghabiskan buahnya.
Ya, aku pernah menjadi bocah di zaman keemasan dan penuh kebahagiaan. Hidup di zaman kreatif bukan konsumtif.
AM. Hafs
Sgs, 121215

Jumat, 11 Desember 2015

Rindu yang Mati Rasa

Rindu, agaknya aku sudah lupa bagaimana rasa rindu. Padahal dulu seringkali kulukis dalam sajak-sajak, dalam puisi-puisi.
Apakah ini faktor terlalu sering bercengkerama atau apa? Atau aku mulai jenuh dengan rutinitas cinta yang begitu-begitu saja? Entah.
Sepertinya aku lebih memilih menanti semua menjadi halal. Bukan mengulang kesalahan demi kesalahan yang sama. Keledai saja tidak masuk ke lubang yang sama dua kali, kan?
Namun, aku tahu pasti resiko dicintai. Yakni, takkan bisa ikut campur dalam mengelola perasaannya. Tak bisa memaksa kehendak harus begini harus begitu. Itulah kenapa, dicintai terasa lebih berat daripada mencintai. Lagu lama.
Seperti malam ini, barangkali kalau kami bertatap muka, ekspresi akan nampak lucu dan bloon sekali. Bagaimana tidak, ketika dia mengatakan rindu, aku malah bingung harus apa. Apalagi dalam kondisi mata yang tinggal beberapa watt.
Anehnya, setelah pamitan aku malah tak mampu terpejam. Mengesankan. Dan ketika kuhubungi kontaknya ... terlambat, sudah dimatikan.
Aku jadi berpikir kemungkinan apa yang sedang dia pikirkan. Apa dia berpikir aku jahat? Tak pengertian? Egois? Tak peka? Atau juga berpikir bahwa aku tak sungguh-sungguh mencintainya.
Mungkin ada baiknya, melalui tulisan ini kusampaikan permohonan maaf padanya. "Maaf ya, Donad?" Moga besok pagi udah baikan. Selain permintaan maaf, tak ada salahnya jika aku ucapkan terima kasih. Sebab, tanpa keresahan yang mengiringi hati, aku takkan menulis sebanyak ini. Dan membuat kantukku kembali lagi.  Hehe.

AM. Hafs
Singosari, 10-12-15

Selasa, 24 November 2015

Paku, Penanda Sejarah Hidupku

Ada yang tahu tentang subuh?  Ia serupa hening yang mengundang satu per satu jenis suara ke dalam pestanya. Menjadikan riuh dan gebyar. Ia juga tempat mata menyalakan pandangan. Tempat rentetan panjang munajat menemui muara. Dan tempat para 'kalong' merebahkan lelah.

Di sini, di subuh ini. Aku mulai menekuri perjalanan tahun kehidupan. Pada bulan shafar, dua puluh lima tahun yang lalu. Aku keluar dari rahim yang nyaman menuju dunia dengan langitnya yang tak selalu biru.

Aku tak pernah tahu wajah ibu, saat ia melahirkanku. Apakah tersenyum penuh suka cita atau sebaliknya? Yang kutahu hanya rasa sakit yang ia derita, kala tubuhku meminta untuk keluar dari mulut rahimnya. Meninggalkan zona nyaman. Apakah itu untuk zona nyaman yang lain? Entah.

Aku lahir di tanah Jawa. Tepatnya di Singosari, tempat yang kata sejarah menjadi cikal bakal Nusantara. Aku lahir di negeri yang katanya, bertanah surga. Meski kelaparan tetap terjadi di mana-mana. Dan membuatku bertanya-tanya. Kenapa bisa kelaparan? Kurang usaha kah? Atau tetangganya yang terlalu durja? Entah.

Aku tak tahu, untuk apa aku hidup. Hingga ibu memaksaku menuntut ilmu. Pagi di Sekolah, dan sorenya di surau. Dan entah kapan dan dari siapa aku mendengarnya, aku mendapat jawaban bahwa tujuan hidup diciptakan untuk beribadah kepada Yang maha Kuasa.

Aku bersyukur, dilahirkan dalam keadaan muslim. Semoga matiku pun kelak tetap dalam keadaan muslim. aaamiin. Dan untuk dicap mati sebagai muslim, sangatlah sederhana. Cukup wafat dengan megucapkan kalimat syahadat sebelum nyawa sampai di tenggorokan. Chusnul Khotimah. Begitu orang akan menyebutnya. Tak peduli biar pun orang sedunia menganggap kafir. Jika dua kalimat tersebut terucap, maka gelar muslim itu telah menjadi keniscayaan.

Namun, apa benar semudah itu? Kata guru ngajiku, masing-masing akan diambil dalam keadaan yang ia biasakan. Jika ia trbiasa berdzikir, maka bisa dipastikan dengan prosentase 99% maka seseorang tersebut akan wafat dalam keadaan berdzikir.

Dari hal tersebut, bisa ditarik kesimpulan sederhana. Seberapa mudah untuk mati chusnul khotimah, ditentukan dari seberapa mudah dan seringnya seseorang berdzikir menyebut nama Allah SWT. Tak perlu berpikir yang tinggi-tinggi. Sebab ketika sudah merasa dekat, maka apapun yang diperintahkan pasti akan dijalani dengan sukarela. Dan apapun yang dilarang pun demikian.

Itu rumus sederhana yang kupelajari dari sekolah. Akan tetapi, kehidupan tak membiarkannya menjadi hal yang semudah itu.

Sampai pada usiaku yang sekarang. Aku masih belum menjadi apa-apa. Aku kerap mengulang-ulang kesalahan yang sama. Dzikir dan ibadah? Jangan ditanya, hanya sebatas rutinitas. Yang seringnya kukerjakan dengan malas.

Kadang aku bertanya, apakah masa lalu yang membuatku menjadi pribadi yang demikian? Entah. Yang kutahu sekarang ... diri ini hanyalah seorang pelari. Ya, aku sering lari dari kenyataan. Lari dan lari dari kesulitan. Mencari jalan yang mudah ... namun menjerumuskan. Nurani pun sering menegur, "tak ada yang mudah di dunia ini dengan berlari, Kawan. Yang ada hanyalah menjadi lebih kuat untuk menghadapi tiap ujian yang terus dan terus meningkat.

Entah, sampai pada umurku saat ini. Berapa orang yang telah kukecewakan. Banyak pastinya. Namun, aku masih saja jalan ditempat. Masih sebatas ingin berubah. Berdoa tapi tak diiringi usaha yang keras.

Aku diajari untuk tak mengeluh. Namun, pada pagi ini, aku ingin mengeluh pada dunia, pada pembaca bahwa aku lelah untuk mengeluh. Aku ingin menjadi pribadi yang leih baik. Berubah menjadi lebih kuat. Agar bisa melindungi orang-orang yang kukasihi. Berubah mejadi lebih bijak. Agar aku mampu menjadi penuntun. Tak muluk-muluk, minimal untuk keluargaku. Ya, minimal. Kalau bisa ditakdirkan lebih, semoga Allah memberi kekuatan lebih.

Di subuh ini. Aku menancapkan paku sejarah hidup. Merayakan tanggal lahir hijiriyah, 7 Shafar yang jatuh lima hari yang lalu. Sebulan dari sekarang, aku pastikan, hafal quran yang telah begitu telat akan selesai. Dengan izin dan pertolongan dari Allah. Aku ingin menjadi hamba yang lebih baik dari tahun ke tahun. Di akhir tulisan, aku mengemis kepada pembaca, untuk meluangkan waktu, mendoakan kelancaran dan keberkahan terhadap hafalan yang tengah kuperjuangkan. Semoga, doa yang baik dibalas ke sang pendoa dengan kebaikan yang berkali lipat Aamiin.

اللهم صل علي سيدنا محمد و علي ال سيدنا محمد

AM. Hafs
Singosari, 24 November 2015

Pena yang Bangkit Dari Hibernasi

Pada akhirnya, sekeras apapun aku menahan laju pena, ia tetap mengusik pikiran. Barangkali, ia kesepian berada di balkon. Sehingga dengan susah payah mengirimkan sinyal kerinduan kepada jemari. Lalu malam ini, dengan terpaksa aku menjemput dan memeluknya.

"Selain jemari, kau pasti merindukan ini, bukan?" bisikku sembari mengambil buku bersampul hitam. Pena nampak semringah. Lantas mengirim sinyal ke otakku. Membuat jemariku menari bersamanya. Menulis apa saja yang terlintas.

"Tak ada guna penyesalan tanpa kesungguhan untuk berubah. Kau si pemalas, si plin-plan, tukang tidur, dan temperamen. Tidak cukupkah teguran-teguran dari nurani yang telah kau terima? Tengok pula kertas mimpi yang kau tulis dan telah terpajang bertahun lamanya. Sampai usang. Miris, hanya satu saja yang masih tercoret.

Pun seharusnya, tulisan-tulisan lampau sok bijak yang kaukhianati, menjadi teguran keras. Tapi tidak, kau seperti menikmati alur kelam yang sama. Taubat yang hanya taubat sambal. Pedas, membuat lidah dan rongga mulut kepanasan, kesakitan tapi tetap kau cicipi dngan alasan nikmat dan ketagihan.

Senin, 21 September 2015

Satu Cinta, Tiga Hati

Andai saja yang mencintaiku kini hanya satu. Sepertinya hari-hariku akan penuh dengan namanya seorang. Pun dengan isi blog ini, akan penuh pujaan terhadap dirinya. Akan penuh dengan senandung pahit manis cinta. Seperti beberapa tahun lalu, ketika seorang yang kucintai pergi ke penjara suci.

Berlembar-lembar serat rindu kutulis di buku catatan. Tengok saja beberapa penggal kalimat yang menurutku paling romantis.

14/13/07 03:28 PM WIB
Alunan rintik hujan menemani suasana hatiku. Percakapan dan pertemuan denganmu adalah hal yang selalu kunantikan. Sayang, aku senang mendengar kabar baikmu. Terima kasih buat pean yang tak pernah lelah menasehatiku dan mendoakanku. Bulir air mata ini mengiringi rintik hujan yang turun adalah rinduku.

Aku membacanya dengan sedikit tersenyum geli. Cinta benar-benar bisa membuat seseorang menjadi begitu "alay" dan lebay. Syukurlah, masa-masa patah hati itu telah terlewati dengan manis. Pun tak ada niat untuk memusnahkannya. Karena bagaimana juga, itu adalah kisah hidup yang indah.

Datang dan pergi. Cinta dan benci. Pertemuan dan perpisahan. Begitulah dunia ini. Semua diciptakan berpasangan. Karenanya semua hal harus kutakar secukupnya. Seperti pesan Nabiku.

Kembali tentang dua hati yang kini mendiami rasaku. Sebelumnya adalah sebuah kemustahilan. Tapi ketika aku berharap ini mimpi, yang ada hanyalah kepahitan secangkir kopi.

Tak bisa lari. Harus kuhadapi. Berusaha berada di tengah-tengah sebaik yang aku bisa. Walau kadang-kadang aku merutuki diri. Kenapa malah condong ke salah satu? Apa aku mempermainkan? Hah, pertanyaan yang terus menghantui.

Penaku, Pena (t)uhan

Penaku bertalu, bukan tuk kau seduh. Lalu kau beri cap. Lalu kau putuskan untuk tetap mengecap atau pergi dengan senyap.

Penaku menari, bukan tuk buatmu gerakkan kaki. Lalu kau gerutui. Atau kau caci maki. Atau kau rutuki. Atau ... kau tempeli puja-puji.

Penaku berlari. Untuk dunia sepi. Tanpa suara, walau di dalamnya musik mengalun indah. Tanpa gerakan, walau di dalamnya orang berlarian.

Penaku ... untuk terjemahkan isi hati. Membuat dunia dan mendapukku sebagai tuhan di dunia itu.

Sebagai tuhan ber-Tuhan. Adalah harus, untuk tetap menjaga kesadaran. Tentang, di sisi mana duniaku dimintai pertanggungjawaban.

AM. Hafs
Singosari 21/9'15

Sabtu, 15 Agustus 2015

Mengerti Tak Mengerti

Semua mengerti, hanya untuk mengeluarkan yang layak keluar pun butuh tempat sepantasnya. Lantas, kenapa kamu buang semua pada tulisan yang seolah tak bertempat?
Tidak, aku tak menyebutmu bodoh, Gus. Hanya saja kamu kurang pandai, menempatkan apa-apa pada tempatnya. Pikirkan, apa bedanya kamu ... dengan bocah-bocah yang baru menetas itu? Bocah-bocah yang belum mengerti adab tata krama. Bocah-bocah merah, yang pengendaliannya terhadap kata, seperti mengendalikan kerbau liar, pontang-panting. Tak ada bukan?

Sudahlah, Gus. Alihkan saja semua tenaga dan pikiran itu pada 'goal'mu. Tak perlu sok baik mengurusi negara yang saat ini di luar jangkauanmu. Cukuplah, sematkan doa pada negeri merah putih yang sekarang hitam, putih, abu-abunya pun memerah!
Iya, aku paham dengan ucapan, "Penulis harus peka. Rakyat harus peduli terhadap pemerintah, mengawasi. Peduli pada lingkungan sekitar." Paham, sangat paham. Tapi mbok ya tahu diri. Dirimu sendiri itu butuh dibenahi. Mosok ta ya, kamu mau teriak-teriak ke mereka yang jalan-jalan ke mall cuma pakai celana daun, padahal dirimu sendiri telanjang. Lak yo piye?

Sekali lagi, kamu mesti tahu diri, tahu posisi. Pelajar, yo tugasnya belajar. Mempelajari yang haq dan yang batil. Biar kenal dan mudah memisahkan mereka.
Sek ngotot mau ngurusi negara? Memangnya FPmu sudah diikuti berapa orang? Belajar dulu sampai tuntas dari tempat yang kamu diami saat ini. Nanti, pasti ada waktumu berbuat lebih. Cueklah pada omongan orang, sekali-kali kamu mesti egois. Sebab nyatanya, tak semua orang mampu mengerti dan mesti dituruti.
AM. Hafs #renunganpagi.

Anda pengunjung ke

Statistikku