Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 September 2017

Bakat Menulis?

Setelah lama sekali 'mandeg' menulis, di kuliah perdana kemarin aku seperti mendapat motivasi atau semangat untuk menulis lagi. Bertemu dengan dosen yang juga punya kebiasaan menulis dan sudah menelurkan beberapa karya tulis menurutku bukanlah hal yang kebetulan. Kuanggap sebagai 'kode' bahwa ini adalah saat untuk merekam kembali hikmah. Lebih-lebih, kini aku berada dalam naungan lembaga sumber ilmu, STAI Ma'had Aly Al Hikam Malang, yang oleh dosen Ulumul Quran, Pak Rahmat, M.Pd I dikatakan, Al Hikam adalah Hikmah-hikmah.

Beliau lantas mengikuti makna itu dengan kisah pengalaman nyata tentang banyak hikmah yang seringkali menemani beliau mengarungi kehidupan, semenjak menginjakkan kaki di tanah Al Hikam. Mulai dari perjalanan menulis, karir, sampai dengan jodoh.

Minggu, 03 Juli 2016

Arti Sebuah Kelulusan

Pernahkah berpikir jika sebulan yang kita lalui, menentukan perjalanan setahun ke depan? Suatu kali aku merenung, mengamati pola kebiasaanku di bulan Ramadhan. Khususnya dalam hal ibadah, yang secara tiba-tiba membuat hati ini menarik benang merah. Bulan suci nan mulia ini tak ubahnya seperti waktu menata ulang proker atau prota kehidupan. Sehingga, saat sebulan ini kita isi dengan kebiasaan-kebiasaan positif, ia akan melekat dalam langkah setahun ke depan sebagai suatu misi yang terpogram, begitu pula sebaliknya.

Sebab itu, kurang lebih tiga hari menjelang masuk bulan Ramadhan aku menyusun target-target. Apa pentingnya? Ibarat sebuah game yang punya misi, maka target itu pun sama. Suatu bentuk ikhtiar untuk menempa diri secara terprogram demi memaksimalkan bulan suci, yang belum tentu bisa ditemui lagi tahun depan.

Rabu, 09 Maret 2016

Taman Wisata Air Krabyakan

Mengisi liburan hari ini, secara mendadak aku bersama keenam temanku mengunjungi sebuah tempat rekreasi yang bernama Krabayakan. Terletak di Desa Sumber Ngepoh, Kec. Lawang, Kab. Malang. Sebuah tempat rekreasi yang masih asri dan alami.

Rute ke tempat ini dimulai dari gang sebelah toko/warung Mungil, depan pasar Lawang. Setelah belok kiri di gang tersebut, lurus ke arah timur sampai menemui gapura tanda masuk Desa Sumber ngepoh.

Gapura :

Dari gapura ini, pertigaan pertama belok ke kanan. Lurus sampai pertigaan berikutnya, kemudian belok kanan.

Sebelum masuk ke tempat wisata yang berupa kolam dan pemandian ini, Anda akan disuguhi hamparan sawah dan pemandangan khas pedesaan. Lokasinya di kelilingi oleh bukit-bukit yang cukup membuat mata menjadi segar kembali.

Kamis, 30 Juli 2015

Jangan Buang Alat Elektronikmu yang Rusak!

Ternyata, kegiatan menyimpan barang-barang elektronik rusak selama ini berguna. Ada empat buah headset rusak, yang satu rusak speakernya dan yang satu rusak colokannya. Dulu sudah kucoba untuk menyambungkan, tapi gagal. Malam ini, baru kutemukan bahwa akar masalahnya ada di kabel. Warna merah dan hijau pada kabel, merupakan lapisan agar kutub min dan plus tidak sambung. Dan cara menghilangkannya cukup dibakar sebelum disambung. Namun jangan dibakar semua, sisakan bagian pangkal untuk mencegah kedua kutub bersatu.

Mungkin ada yang tersenyum getir membaca ini, tapi tak apa. Maklum saja, karena aku belajar kelistrikan secara informal. Dari mengamati bapak dan beberapa teman yang kuliah kelistrikan.

Jika boleh mengingat-ingat, agaknya kegemaran bongkar pasang barang non maupun elektronik telah kulakoni semenjak balita. Tak terhitung jumlah mainan, entah itu robot-robotan atau mobil-mobilan yang jadi korban. Bahkan untuk kategori elektronik sendiri, aku pernah membuat percobaan ngawur gara-gara rasa penasaran.

Jumat, 27 Februari 2015

Status Facebook Jadi Buku?

Menulis itu sama halnya berbicara. Bedanya, kalau berbicara kadangkala kita lupa dengan apa yang telah kita ucapkan. Contoh nih, apa kalimat pertama yang kawan-kawan ucapkan hari ini? Kalau yang biasa baca doa bangun tidur, tentu ingat, yang enggak? Entah deh.
Meski begitu, bukan berarti boleh ngomong sembarangan. Karena dua malaikat yang ada di sisi kanan dan kiri tak akan luput mencatat sehuruf pun. Semua akan dipertanggung jawabkan. Termasuk juga tulisan. Karenanya, sebagai insan yang baik, sudah sewajarnya untuk menimbang kembali sebelum menulis sesuatu. Apalagi bila berhubungan dengan medsos.

Sensasi Menulis Hal yang Kontroversial

Menilik semakin berkembangnya media sosial, apalagi berita online. Ternyata berbanding lurus dengan kian mudahnya penyebaran hal-hal yang berbau kontroversial. Berita online dengan rintisan alamat web yang baru biasanya menggunakan judul-judul kontroversial. Tujuannya tidak lain untuk mengangkat 'traffic' pengunjung. Karena hal-hal yang kontroversial mempunyai sifat gula yang kerap memancing banyak semut untuk berdatangan.

Ada beberapa tema yang kerap kali mengundang kontroversi. Mulai dari hal sepele semacam kehidupan artis, club bola, hingga seserius ajaran agama. Biasanya tema itu juga diawali dari judul yang juga kontroversial.

Tulisan kontroversial kerap kali memacing perdebatan. Bagi pembaca yang sering mengunjungi arena debat, pastinya tahu, bagaimana topik "test the water" bisa menjadi jendela untuk melihat, mana pembaca yang cerdas, ingin terlihat cerdas, dan mana yang kurang cerdas.

Beberapa hari ini, aku pun penasaran 'sisi lain' dari menulis kontroversi. Akhirnya kucoba melemparkan umpan.

Rabu, 18 Februari 2015

Apa Perlunya Menghindari Tiga Perkataan Ini?

Dalam memanage diri, terutama untuk menjadi insan dengan tingkat ketaqwaan yang lebih baik, seyogya kita menghindari tiga perkataan berikut. Apa saja? Check it out!

1. Sekali ini aja!
 
    Ketika sedang berjalan di gang sempit kampungnya, Andi melihat temannya tengah asyik menenggak minuman keras. Seketika itu pula Andi terperanjat, "Astaghfirullah! Den! Gila, Lu? Sejak kapan Lu jadi kayak gini?"

"Halah, sekali ini aja, cuma pengen tahu rasanya."

Senin, 16 Februari 2015

Sebab Bercanda, Kebahagiaan?

Bahagia itu sederhana. Ah basi, tapi bener sih. Sesederhana mengintip kilau embun dengan syukur. Memerhatikannya yang kemudian menguap ke langit, bersama dedoa para pejuang kehidupan. Sesederhana beranjak ke dalam rumah sembari menyanyikan lagu riang. Dan ... sesederhana menatap wajah ibu, yang tersenyum melihat anaknya sarapan dengan lahap.

Namun, banyak orang yang masih terus mencari-cari kebahagiaan. Hingga rela menghamburkan uang, waktu, juga pikiran. Tak jarang yang akhirnya terjerumus pada dunia hitam. Hanya karena ingin mendapatkan kebahagiaan dengan instan. Padahal semua tahu, barang yang diperoleh dengan instan, biasanya juga terlepas dengan cara yang instan.

Perlombaan mencari kebahagiaan juga turut disemai oleh para motivator-motivator. Dengan iming-iming kesuksesan finansial, khalayak seolah dibombardir dengan jargon, "Kaya materi itu, bahagia!" Alhasil, semua turut berlomba menumpuk harta. Dengan berbagai cara. Tak lagi peduli apakah itu bersih atau kotor.

Menghadapi persoalan kebahagiaan yang terdoktrin sedemikian. Mari sejenak merenung. Kebahagiaan, hakikatnya merupakan ketenangan hati bukan? Lantas, jika ditempuh dengan cara-cara kotor, apakah ketenangan hati itu akan diperoleh? Katanya, yang haram saja susah, apalagi yang halal? Eits, itu hanya mind set. Coba tengok kisah nyata berikut,

Selasa, 10 Februari 2015

Iklan Menyentuh Thailand

Seorang pemuda paruh baya terguyur air buangan dari atap rumah, ketika tengah berjalan menuju tempat kerja. Bukannya marah atau kesal, dia malah tersenyum. Diletakkannya sebuah pot berisi tanaman yang hampi mati kekeringan, di tempat jatuhnya air tersebut.

Sampai di penyeberangan, dia membantu seorang nenek tua yang tengah mendorong gerobak untuk berjualan. Ketika tengah makan siang, dia dihampiri oleh seekor anjing liar. Dengan senyum yang khas, tanggannya mengulurkan sepotong paha ayam bakar untuk anjing tersebut. Si penjual pun hanya menggelengkan kepala melihat hal tersebut.

Di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang ibu dan anak. Mereka pengemis, di tangan anak perempuan itu, terdapat gelas plastik bertuliskan for education. Dengan cekatan jemarinya mengambil dompet, dan memberikan dua lembar uang kepada si anak. Uang dua lembar yang Tanpa berpikir, apakah tulisan itu hanya sekadar modus belaka agar memperoleh pendapatan lebih tinggi. Kejadian tersebut dilihat oleh seorang kakek tua penjual pemilik toko jam. Dia juga menatap dengan menggelengkan kepala.

Jumat, 06 Februari 2015

Keterpaksaan Membawa Nikmat

Mengutip peringatan dari Al Quran yang mewanti-wanti bahwa, "Sesungguhnya Setan adalah musuh yang nyata bagimu." Dalam bab setan, bukan hanya islam, tapi semua agama -yang diakui di Indonesia- pun sepakat bahwa setan adalah musuh. Pada hakikatnya, musuh selalu mendorong kepada keburukan. terutama ketika seorang manusia ingin berbuat baik, ada saja kendala. Tapi yang terbanyak tentunya dari diri sendiri. Karena itu, kebaikan perlu dipaksakan untuk melawan godaan yang ada. Tidak hanya dari Setan, godaan yang bernama kemalasan timbul dari nafsu sendiri.

Dalam banyak hal, keterpaksaan sering diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tiga diantaranya yang bisa dijadikan contoh, salat, menuntut ilmu, dan bekerja.

Jumat, 23 Januari 2015

Liebster Award

Kenal "acara" ini dari Mbak @Agyasaziya_R. Waktu itu lewat kicauannya, si Mbak yang pengen banget jalan-jalan ke jepang itu ngeluh, puyeng dapat banyak tag dari Si "Liebster". (Tahu gak? Hal pertama yang terpikirkan waktu baca kata itu malah lobster.)

Aku yang penasaran langsung SKSD dan nanya-nanya. Karena biasanya, yang namanya "award" itu seru. Mbaknya bilang, "Bentar lagi diposting." Oke deh aku nunggu. *Cling!* Setelah tulisannya keluar di temlen, aku langsung meluncur. Kesan pertama pas baca tulisannya cukup menghibur dan kagum. Karena jujur, buatku nulis lepas itu terkadang lebih sulit daripada nulis fiksi atau puisi.

Kamis, 22 Januari 2015

Nikmatnya Kesetiaan

Suatu hal yang aneh bagiku adalah ketika kata setia jauh lebih mudah dijalani daripada memilih. Karena terkadang aku malah bertanya pada diri sendiri, "Pantaskah aku memilih?". Di masa ketika aku memiliki sebuah hati yang bisa kujaga, kesetiaan adalah sebuah nikmat yang luar biasa. Kesetiaan yang mampu membuat pandanganku menunduk, sikapku terjaga. Tidak seperti sekarang yang seringnya mata ini jelalatan. Meski hanya berupa tengokan sesaat, tetap saja ada rasa sesal yang timbul setelahnya.

Terkadang, aku merindukan masa-masa itu. Masa di mana hanya menggenggam satu hati. Namun, aku tahu ... masa lalu tetaplah masa lalu. Hanya untuk dikenang dan diambil hikmahnya. Bukan lagi untuk diratapi atau disesali. Karena hanya akan menyakiti hati dan membuang waktu. Dan cara terbaik untuk mengatasi hal itu adalah dengan menjadikannya tulisan yang menginspirasi.

Rabu, 21 Januari 2015

10 Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kesuksesan Raditya Dika

Gak sengaja pas mampir ke rumah temen tadi, aku nonton Bang Raditya Dika di salah satu acara TV swasta. Di sana dibahas mengenai perjalanan karir Bang Raditya Dika. Dari seorang penulis hingga berbagai profesi di ranah hiburan. Dengan tampang yang bisa dibilang 'biasa' dia mampu memiliki jutaan penggemar. Bisa dilihat dari 'followers'nya yang sampai tulisan ini terbit, sudah ada sembilan jutaan.

Ketika tengah menonton tadi, aku terus berpikir. Apa yang menjadi kunci sukses Bang Radit. Dengan sedikit merenung dan banyak melamun, akhirnya aku menemukan beberapa hal, di antaranya :

1. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya. Sehingga dia mampu mengangkat hal yang sebenarnya sepele dan tak terhiraukan, menjadi terpaksa dipikirkan dan bikin kita terhibur sewaktu memikirkannya. Semisal iklan tori-tori atau rambutnya Andika Kangen Band di awal-awal boomingnya Stand-up Comedy.

2. Dia mampu mengubah kekurangan dan kelemahannya menjadi kelebihan. Coba tengok tweetnya yang sempat tayang di acara tadi, "@radityadika: Kenapa tiap kali gue niruin Syahrini maju mundur cantik jadinya malah maju mundur cebol?" kekurangannya malah terpakai untuk menghibur orang lain. Bahkan kisah sialnya saat mengetahui kalau buku "Kambing Jantan"nya ternyata habis diborong mamanya sendiri pun bisa jadi materi yang menghibur. Walau di sisi lain, kukira itu juga termasuk keberuntunganya. Karena aku menduga, setelah dibagi secara gratis ke beberapa orang, akhirnya banyak orang yang tertarik dengan tulisannya. Proses promosi dari mulut ke mulut pun terjadi. Dugaan itu muncul dari kisah sukses Pocari Sweat, yang dibagikan secara gratis.

3. Dia mampu mengangkat kisah hidupnya menjadi hal yang unik. Seperti kisah seorang lugu yang jatuh cinta, Jika di film-film lain kebanyakan hanya menjadi pelengkap cerita, Bang Raditya malah menjadikannya sentral cerita. Misal di film "Ada Apa Dengan Cinta", salah satu karakter culun hanya menjadi selingan. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak cowok-cowok remaja yang "berkelakuan" culun daripada yang "sok keren". Culun dalam artian, kalau ketemu cewek yang disukai, gugup - gugup gak jelas atau sok jaim. Contohnya aku. Eh.

4. "Just be yourself!" Itulah quote yang pas menurutku bisa kita cuplik dari kehidupan Bang Radit. Gak perlu sok keren yang jatuhnya malah norak. Semisal rambut dicat, tubuh ditatto, pakai tindik, ikut Geng Motor, sok minum-minuman keras, merokok atau hal-hal negatif lain yang biasanya "dianggep" sebagai hal keren oleh remaja, terutama pelajar. Kata Alamarhum Om Bob, "Bergayalah sesuai isi dompet."

5. Menjadi penulis itu keren. Bang Radit bisa munutupi tampangnya yang pas-pasan dengan kreatifitas segunung. Melalui tulisan-tulisannya, dia mampu menyihir berjuta pasang mata untuk mengidolakannya.

Sabtu, 17 Januari 2015

Kemunduran Fungsi Al Quran

Supaya tidak lupa, lebih baik kutuliskan di sini. Baru saja aku menemukan sebuah video dari youtube. Tayangan dari Bayyinah TV. Sebuah tayangan yang cukup menampar, kritik tajam dari seorang penggiat bahasa Arab. Berikut hal-hal yang sempat kutangkap.

10 Perbedaan Orang Cerdas (Oce) dan Orang Bodoh (Obo)


1.
Oce, "Aku harus menyelesaikannya sekarang. Karena besok belum tentu bisa."
Obo, "Ah, masih satu jam lagi. Nyantai dulu saja."

2.
Oce, "Ah, semakin kubelajar, semakin banyak yang belum kuketahui."
Obo, "Apa sih yang enggak gue tahu? Sudah di luar kepala semua."

3.
Oce, "Ayo kamu pasti bisa! Kamu pasti kuat! Kamu itu special! Gak ada yang gak mungkin bagi orang yang mau berusaha, percaya, deh!"
Obo, "Gue gak bisa nih! Gue lemah! Semuanya mustahil!"

4.
Oce, "Muhasabah sebelum tidur itu harus kubiasain!"
Obo, "Nih! Gue hebat! Nih piala gue! Banyak bukan?"

5.
Oce, "Semua butuh perhitungan dan evaluasi. seperti kata pepatah, berpikir tiga langkah sebelum mengambil satu langkah maju!"
Obo, "Ah, lama! Udah sikat aja! Untung rugi belakangan"

Selasa, 13 Januari 2015

Fungsi dan Manfaat Nama Pena

Assalamu’alaikum …. Selamat siang, Pembaca! Para blogger hebat ataupun pemula. Ada yang sedang tidur siang? Semoga bisa mendapat inspirasi dari mimpi ya … Haha. Yang belum mandi silakan mandi dulu, biar seger, kemudian salat bagi yang belum, lalu bobok siang. Hehe Yang pasti, tetep semangat! Okey?

Okay, pasang mata, pasang hedset, puter musiknya. Kita langsung ke materi nama pena. Sudah? Well, kira-kira ada yang tahu enggak fungsi nama pena? Sudah tahu semua? Hebaaat! Karena sudah tahu semua, Aku di sini hanya akan mengulang atau mungkin menambahkan. O'rait? Cekidot!

Fungsi atau kegunaan nama pena. Sebelumnya kupanggil dulu asistenku ya? Dia burung imut yang suka nangkring di pojokan halaman kertas, namanya Inkbird. Suka banget ngoceh. Karena itu, biar lebih menarik aku ajak ia ke sini buat nge-ramein suasana.

Piuuuuwit!

“O’Rait, Kapten!” Nah, udah denger gak suaranya cemprengnya? Mirip-mirip beo. Tapi warnanya hitam putih kayak panda. Jambulnya putih. Hehe

“Aku bukan Beo, Kapten!”

Okay, okay! Inkbird adalah Inkbird, bukan Beo meskipun mirip Beo. Haha. Sudah siap?

“Hadeeeh! O’Rait, Kapten!”

Baik, tolong bacakan isi kertas ini ke teman-teman!

“O’Rait! Beberapa kegunaan nama pena : Satu! Supaya kita mudah dikenali. Karena terkadang nama asli terlalu panjang. Karena itu, nama asli biasanya disingkat dan menjadi nama pena.”

Okay, gud Bird! Coba perhatikan. Dari point nomor satu, bisa kita ambil kesimpulan jika nama pena bisa dibuat dengan menyingkat nama asli. Misal nih, namanya Muhammad Agung Devonda Baihaqi. Rasanya, jika harus dipakai sebagai nama pena akan susah diingat bukan, jadi bisa disingkat D. Baihaqi. Lebih simple bukan?  Oke next, Bird!

“Dua, untuk menambah nilai jual.”

Point dua, coba perhatikan, nama Sigit Purnomo Said. Ada yang tahu ini nama artis siapa? Yup, betul! Itu adalah nama asli dari Pasha, vokalis band Ungu. Karena penulis itu pada akhirnya harus menjual bukunya, agar pembacanya lebih banyak dan ilmunya lebih tersebar serta bermanfaat, maka nama pun harus mempunyai nilai jual. Kalau nama asli sudah keren lalu dijadikan nama pena, apa boleh? Boleh sekali, karena ini hanya masalah taste atau ‘rasa’. Ok, next!

“Tiga, agar kita mempunyai ciri khas.”

Okay, coba tengok namaku, Agus. Berapa orang yang punya nama ini? Banyak bukan? Karena itu, aku membuat nama pena agar mempunyai ciri khas. AM. Hafs (baca Hafes-red). Belum ada yang punya. Jadi ketika ada yang menyebut nama itu, otomatis yang disebut adalah … aku. Hehe. Ok, Next!

“Empat, untuk mengabadikan harapan.”

Di point empat, sekalian aku jelasin tentang AM. Hafs. AM adalah singkatan dari Agus Muhammad, masih mengambil dari nama asli. Lalu, Hafs? Siapa dia? Seorang Ulama besar yang bacaan Alqurannya Masyhur di seluruh dunia. Aku nge-fans banget sama beliau. Selain itu,  berharap dengan memakai nama beliau, Aku ketularan teladan dan kebaikannya. Sehingga, mimpi jadi penulis yang lebih hebat dari Habiburrahman El Shirazy bisa terwujud, aamiin, doain ya? Hehe Kalian pasti juga punya seseorang yang dikagumi bukan? Bisa tuh dijadikan nama pena.

Well! Itu tadi empat fungsi dan manfaat nama pena. Nah, tadi si Inkbird sudah tanya, hal-hal berkenaan dengan nama pena. Sekarang waktunya para pembaca budiman yang berpendapat dan bertanya. Silakan tulis di kolom komentar! ^^

Tetap Merah! Tetap Pedas (Penulis cerdas)! Salam Cabe Rawit! Wassalamu’alaikum

AM. Hafs
Malang, 11/01/15

Anda pengunjung ke

Statistikku