Minggu, 03 Juli 2016

Arti Sebuah Kelulusan

Pernahkah berpikir jika sebulan yang kita lalui, menentukan perjalanan setahun ke depan? Suatu kali aku merenung, mengamati pola kebiasaanku di bulan Ramadhan. Khususnya dalam hal ibadah, yang secara tiba-tiba membuat hati ini menarik benang merah. Bulan suci nan mulia ini tak ubahnya seperti waktu menata ulang proker atau prota kehidupan. Sehingga, saat sebulan ini kita isi dengan kebiasaan-kebiasaan positif, ia akan melekat dalam langkah setahun ke depan sebagai suatu misi yang terpogram, begitu pula sebaliknya.

Sebab itu, kurang lebih tiga hari menjelang masuk bulan Ramadhan aku menyusun target-target. Apa pentingnya? Ibarat sebuah game yang punya misi, maka target itu pun sama. Suatu bentuk ikhtiar untuk menempa diri secara terprogram demi memaksimalkan bulan suci, yang belum tentu bisa ditemui lagi tahun depan.

Kamis, 16 Juni 2016

Lima 'Viewer' Penyemangat

Lima 'viewer' yang juga 'reader', entah siapa mereka, yang pasti aku tersenyum melihat kesediaan mereka membaca corat-coretku. Terutama setelah berbulan-bulan penaku berhenti merangkai. Apalagi tulisan tentang sitar tadi belum kubagikan di lini masa twitter.

Menulis memang membuat hidup lebih hidup. Untuk masalah ketakutan dalam menulis, rumusnya tetap sama. Rasa takut hanya bisa disudahi dengan melawannya. Apa begitu juga yang seharusnya kulakukan dalam hal mencintainya?

Belum. Tunggu lulus, minimal. Seperti itu nurani menjawab. Sementara itu, aku berharap ia bersabar dan terus berpikir positif. Seperti yang sama-sama kami ketahui, cinta sebelum halal merupakan ujian. Aku hanya berharap, semua berakhir dengan turunnya ridho Allah. Sehingga apa yang kami niatkan diberi kelancaran, keberkahan, dan kelanggengan.

Sedikit cerita, setelah dulu pernah punya pengalaman cinta yang berakhir akibat tak direstui, aku sungguh bahagia ketika sekarang orang tuanya mendukung hubungan kami. Meskipun saat ini aku belum bisa memberi kepastian kapan akan menghalalkannya, atau minimal memperkenalkan dia ke orang tuaku. Meski aku tahu, ibuku pasti sudah mencium hubunganku dengannya. Karena, mengutip kata-kata si dia, "Wanita adalah detektif handal ketika berurusan dengan cinta." Semoga dia tidak marah karena aku menulis kisah kami di sini. Heheu.

Sejujurnya, sejauh pencarianku sebelum-sebelumnya, sebenarnya aku mendambakan sosok yang mau menunggu, lalu mencintai dalam diam. Tapi nampaknya cinta tak sesederhana itu. Ada tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi ketika dua anak adam telah memutuskan untuk saling mencintai. Mau tak mau, harus kami jalani. Yang bisa kulakukan saat ini hanya mengerem, ketika semuanya mulai lepas kendali. Meski tak selalu berhasil, setidaknya aku tak ingin menyerah.

AM. Hafs
Singosari, 16 Juni 2016

Puisi Kucing, Rindu, Cemburu

Meow meow meow ...
Kucing Abu
Duduk malumalu
di depan pintu
Mengharap kehadiran sosokmu

Meow meow meow
Wajahnya memelas
Mengharap terbukanya pintu
Menyajikan senyum manismu
Dan mungkin
segelas susu
Seperti hari-hari lalu

Meow meow meow
Kenapa hanya sunyi
Sang kucing kian menggerutu
Apa karena pesta malam lalu?
Hingga semua penghuni rumah lelah
Termasuk kamu?

Meow meow meow
Untuk kesekian kali
Kucing abu
mengharap kemunculan sosokmu
wajahnya sendu
Dipenuhi rindu

Kucing abu melangkah maju
berhenti mengeong
memilih ke tumpukan baju
di tempat sepatu
tempat ia biasa membaringkan tubuh

Suara mobil menderu
di depan rumahmu
Si abu bangkit
ia tersenyum
melihat sosokmu
hendak lari menyongsong
sebelum bersitatap denganku
matanya menatapku dengan cemburu
Melihatmu di gendonganku
Dengan gaun pengantin putih
Dan
sesabit lengkung senyum haru.

AM. Hafs
Singosari, 16 Juni 2016

Anda pengunjung ke

Statistikku