Aku pernah hidup sebagai bocah yang ketika pulang sekolah, langsung kumpul teman-teman sebaya. Pergi ke sumber di hutan samping kampung. Mandi berjamaah.
Aku pernah hidup sebagai bocah yang kumpul bersama teman-teman sebaya sehabis ashr, main engklek, lompat tali, kasti.
Aku pernah hidup sebagai bocah. Yang ketika tetangga sedang membakar genteng. Aku bersama teman-teman sebaya memakai sarung dan main ninja-ninjaan.
Aku pernah hidup sebagai bocah yang ketika mengunjungi tempat pembuatan genteng. Aku dan teman-teman sebaya meminta tanah liat untuk dibentuk menjadi aneka bentuk binatang atau replika benda.
Aku pernah hidup sebagai bocah yang tak mengenal apa yang zaman sekarang disebut 'kecanggihan'. Mainanku, kuda-kudaan atau senapan dari dahan daun pisang. Kadangkala aku membuat penangkap capung dari rumah jaring laba-laba.
Aku dan teman-teman sebaya, pernah hidup sebagai bocah yang merasa asyik walau hanya menangkap belalang di kebun depan rumah.
Aku pernah hidup sebagai bocah yang berlarian main kejar-kejaran, bentengan, dolipan, saat azan isya selesai berkumandang.
Aku pernah menjadi bocah, yang lugu. Tak berpikir aneh walau main pengantin-pengantinan. Berkeliling sawah, sambil membawa ketapel. Memanjat pohon tetangga dan menghabiskan buahnya.
Ya, aku pernah menjadi bocah di zaman keemasan dan penuh kebahagiaan. Hidup di zaman kreatif bukan konsumtif.
AM. Hafs
Sgs, 121215
Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Senin, 14 Desember 2015
Aku Pernah Hidup Sebagai Bocah
Jumat, 11 Desember 2015
Rindu yang Mati Rasa
Rindu, agaknya aku sudah lupa bagaimana rasa rindu. Padahal dulu seringkali kulukis dalam sajak-sajak, dalam puisi-puisi.
Apakah ini faktor terlalu sering bercengkerama atau apa? Atau aku mulai jenuh dengan rutinitas cinta yang begitu-begitu saja? Entah.
Sepertinya aku lebih memilih menanti semua menjadi halal. Bukan mengulang kesalahan demi kesalahan yang sama. Keledai saja tidak masuk ke lubang yang sama dua kali, kan?
Namun, aku tahu pasti resiko dicintai. Yakni, takkan bisa ikut campur dalam mengelola perasaannya. Tak bisa memaksa kehendak harus begini harus begitu. Itulah kenapa, dicintai terasa lebih berat daripada mencintai. Lagu lama.
Seperti malam ini, barangkali kalau kami bertatap muka, ekspresi akan nampak lucu dan bloon sekali. Bagaimana tidak, ketika dia mengatakan rindu, aku malah bingung harus apa. Apalagi dalam kondisi mata yang tinggal beberapa watt.
Anehnya, setelah pamitan aku malah tak mampu terpejam. Mengesankan. Dan ketika kuhubungi kontaknya ... terlambat, sudah dimatikan.
Aku jadi berpikir kemungkinan apa yang sedang dia pikirkan. Apa dia berpikir aku jahat? Tak pengertian? Egois? Tak peka? Atau juga berpikir bahwa aku tak sungguh-sungguh mencintainya.
Mungkin ada baiknya, melalui tulisan ini kusampaikan permohonan maaf padanya. "Maaf ya, Donad?" Moga besok pagi udah baikan. Selain permintaan maaf, tak ada salahnya jika aku ucapkan terima kasih. Sebab, tanpa keresahan yang mengiringi hati, aku takkan menulis sebanyak ini. Dan membuat kantukku kembali lagi. Hehe.
AM. Hafs
Singosari, 10-12-15
Selasa, 24 November 2015
Paku, Penanda Sejarah Hidupku
Di sini, di subuh ini. Aku mulai menekuri perjalanan tahun kehidupan. Pada bulan shafar, dua puluh lima tahun yang lalu. Aku keluar dari rahim yang nyaman menuju dunia dengan langitnya yang tak selalu biru.
Aku tak pernah tahu wajah ibu, saat ia melahirkanku. Apakah tersenyum penuh suka cita atau sebaliknya? Yang kutahu hanya rasa sakit yang ia derita, kala tubuhku meminta untuk keluar dari mulut rahimnya. Meninggalkan zona nyaman. Apakah itu untuk zona nyaman yang lain? Entah.
Aku lahir di tanah Jawa. Tepatnya di Singosari, tempat yang kata sejarah menjadi cikal bakal Nusantara. Aku lahir di negeri yang katanya, bertanah surga. Meski kelaparan tetap terjadi di mana-mana. Dan membuatku bertanya-tanya. Kenapa bisa kelaparan? Kurang usaha kah? Atau tetangganya yang terlalu durja? Entah.
Aku tak tahu, untuk apa aku hidup. Hingga ibu memaksaku menuntut ilmu. Pagi di Sekolah, dan sorenya di surau. Dan entah kapan dan dari siapa aku mendengarnya, aku mendapat jawaban bahwa tujuan hidup diciptakan untuk beribadah kepada Yang maha Kuasa.
Aku bersyukur, dilahirkan dalam keadaan muslim. Semoga matiku pun kelak tetap dalam keadaan muslim. aaamiin. Dan untuk dicap mati sebagai muslim, sangatlah sederhana. Cukup wafat dengan megucapkan kalimat syahadat sebelum nyawa sampai di tenggorokan. Chusnul Khotimah. Begitu orang akan menyebutnya. Tak peduli biar pun orang sedunia menganggap kafir. Jika dua kalimat tersebut terucap, maka gelar muslim itu telah menjadi keniscayaan.
Namun, apa benar semudah itu? Kata guru ngajiku, masing-masing akan diambil dalam keadaan yang ia biasakan. Jika ia trbiasa berdzikir, maka bisa dipastikan dengan prosentase 99% maka seseorang tersebut akan wafat dalam keadaan berdzikir.
Dari hal tersebut, bisa ditarik kesimpulan sederhana. Seberapa mudah untuk mati chusnul khotimah, ditentukan dari seberapa mudah dan seringnya seseorang berdzikir menyebut nama Allah SWT. Tak perlu berpikir yang tinggi-tinggi. Sebab ketika sudah merasa dekat, maka apapun yang diperintahkan pasti akan dijalani dengan sukarela. Dan apapun yang dilarang pun demikian.
Itu rumus sederhana yang kupelajari dari sekolah. Akan tetapi, kehidupan tak membiarkannya menjadi hal yang semudah itu.
Sampai pada usiaku yang sekarang. Aku masih belum menjadi apa-apa. Aku kerap mengulang-ulang kesalahan yang sama. Dzikir dan ibadah? Jangan ditanya, hanya sebatas rutinitas. Yang seringnya kukerjakan dengan malas.
Kadang aku bertanya, apakah masa lalu yang membuatku menjadi pribadi yang demikian? Entah. Yang kutahu sekarang ... diri ini hanyalah seorang pelari. Ya, aku sering lari dari kenyataan. Lari dan lari dari kesulitan. Mencari jalan yang mudah ... namun menjerumuskan. Nurani pun sering menegur, "tak ada yang mudah di dunia ini dengan berlari, Kawan. Yang ada hanyalah menjadi lebih kuat untuk menghadapi tiap ujian yang terus dan terus meningkat.
Entah, sampai pada umurku saat ini. Berapa orang yang telah kukecewakan. Banyak pastinya. Namun, aku masih saja jalan ditempat. Masih sebatas ingin berubah. Berdoa tapi tak diiringi usaha yang keras.
Aku diajari untuk tak mengeluh. Namun, pada pagi ini, aku ingin mengeluh pada dunia, pada pembaca bahwa aku lelah untuk mengeluh. Aku ingin menjadi pribadi yang leih baik. Berubah menjadi lebih kuat. Agar bisa melindungi orang-orang yang kukasihi. Berubah mejadi lebih bijak. Agar aku mampu menjadi penuntun. Tak muluk-muluk, minimal untuk keluargaku. Ya, minimal. Kalau bisa ditakdirkan lebih, semoga Allah memberi kekuatan lebih.
Di subuh ini. Aku menancapkan paku sejarah hidup. Merayakan tanggal lahir hijiriyah, 7 Shafar yang jatuh lima hari yang lalu. Sebulan dari sekarang, aku pastikan, hafal quran yang telah begitu telat akan selesai. Dengan izin dan pertolongan dari Allah. Aku ingin menjadi hamba yang lebih baik dari tahun ke tahun. Di akhir tulisan, aku mengemis kepada pembaca, untuk meluangkan waktu, mendoakan kelancaran dan keberkahan terhadap hafalan yang tengah kuperjuangkan. Semoga, doa yang baik dibalas ke sang pendoa dengan kebaikan yang berkali lipat Aamiin.
اللهم صل علي سيدنا محمد و علي ال سيدنا محمد
AM. Hafs
Singosari, 24 November 2015