Sabtu, 02 Mei 2015

Aku Menyebutnya, Kecenderungan

Terkadang ada hal-hal yang sebaiknya tak disampaikan. Karena hanya akan memperkeruh suasana. Bukan untuk dipendam, tapi menunggu saat yang tepat. Menunggu kepala dingin dan jernih, sehingga mampu memandang semuanya dengan lebih menyeluruh.

Terkadang ada hal-hal yang cukup diketahui orang terdekat saja. Karena biasanya mereka lebih mampu memberi masukan terlebih dahulu sebelum menjudge macam-macam. Bersyukur, aku dikaruniai sahabat-sahabat yang selalu melihat apa yang kukatakan dengan luas. Tak serta merta membelaku. Mereka tahu, terkadang ada hal-hal yang cukup didengar.

Terkadang aku malah heran dengan orang jauh, yang seolah tahu masalah menyeluruh. Tapi begitu memberi kesimpulan, mereka tenggelam dalam justifikasi dangkal. Dan lagi, orang-orang jauh itu ternyata cukup punya energi untuk mencampuri masalah. Bahkan tanpa diminta. Ketika melihat hal tersebut, cukup positif thinking saja, mungkin mereka terlalu bahagia atau tak punya masalah, sehingga repot-repot mengurusi masalah orang lain.

Terkadang, orang cenderung menghakimi sebelah mata. Ketika orang yang disukainya bermasalah, dibela mati-matian. Sedang ketika orang yang dibenci melakukan sedikit saja kesalahan, yang terlihat adalah nokta besar.

Pada akhirnya aku masih merasa, terkadang heran dengan sikap-sikap orang yang mengaku dewasa, tetapi kebingungan dan heboh ketika berhadapan dengan masalah. Padahal seharusnya mereka bercumbu dengan ketenangan dan kejernihan hati.

Ya, itulah, keterkadangan yang pada akhirnya kunamai kecenderungan.

AM. Hafs
Singosari, 02 Mei 2015

Rabu, 29 April 2015

Air Mata Langit

Air mata langit bersekutu
Memenjarakan pandanganku pada dedaunan yang menari bersama lambaian angin
Coba pandangi lekat tangkapan retinamu
Bagaimana mereka menyampaikan bisikan-bisikan rindu
Rindu yang kembali merebak bersama napas bumi

Air mata langit saling bertaut
Menenggelamkanku pada awan bergelayut yang bercumbu dengan kabut
Coba tatap bagaimana mereka mendendangkan nyanyian hujan
Bersama balutan genderang dan kilatan petir yang bersautan
Membuat kenang kian berkelindan

Air mata langit mulai pudar
Awan pengangkut butiran es dan kabut berarak pulang
Membiarkanku mengeja memoar
Lalu kuabadikan di catatan seribu mimpi; sebelum hilang
Sebab surya kian terang berpendar

Air mata langit tak lagi berwujud
Wajah langit kembali membiru
Kutundukkan hati dan bersujud
Meresapi tiap makna di lembar baru
Menghamburkan syukur atas terbitnya pelangi sepeninggal kabut

AM. Hafs
Singsari, 29 April 2015



Jumat, 17 April 2015

Ledakan Amarah Kak Awi di Surau Kami

Tak seperti biasanya. Kak Awi yang biasanya berwajah ceria, sejak langkah kanannya memasuki surau tatapannya tajam, tanpa senyum. Melihat kami yang sudah berkumpul di ruang salat, dengan suara tegas Kak Awi menyuruh kami berkumpul di ruang mengaji.

Beberapa teman kecil yang tak menyadari perubahan Kak Awi masih bertingkah seperti biasa. Mencandai dan mengajaknya bicara. Namun Kakak yang berumur 23 tahun itu hanya diam dengan sorot mata yang masih saja tajam.

Setelah aku dan selurih tema berkumpul, Kak Awi dengan nada tinggi memberi perintah, "Semuanya lekas duduk!"

Saat itulah, semuanya menyadari ada hal yang tidak beres. Seketika keadaan pun hening. Tak seperti biasanya yang santai.

Setelah uluk salam. Kak Awi mulai mengeluarkan kemarahannya,"Siapa yang nyuruh pulang pas Rabu kemarin?"

Anda pengunjung ke

Statistikku