Air mata langit bersekutu
Memenjarakan pandanganku pada dedaunan yang menari bersama lambaian angin
Coba pandangi lekat tangkapan retinamu
Bagaimana mereka menyampaikan bisikan-bisikan rindu
Rindu yang kembali merebak bersama napas bumi
Air mata langit saling bertaut
Menenggelamkanku pada awan bergelayut yang bercumbu dengan kabut
Coba tatap bagaimana mereka mendendangkan nyanyian hujan
Bersama balutan genderang dan kilatan petir yang bersautan
Membuat kenang kian berkelindan
Air mata langit mulai pudar
Awan pengangkut butiran es dan kabut berarak pulang
Membiarkanku mengeja memoar
Lalu kuabadikan di catatan seribu mimpi; sebelum hilang
Sebab surya kian terang berpendar
Air mata langit tak lagi berwujud
Wajah langit kembali membiru
Kutundukkan hati dan bersujud
Meresapi tiap makna di lembar baru
Menghamburkan syukur atas terbitnya pelangi sepeninggal kabut
AM. Hafs
Singsari, 29 April 2015
Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Rabu, 29 April 2015
Jumat, 17 April 2015
Ledakan Amarah Kak Awi di Surau Kami
Tak seperti biasanya. Kak Awi yang biasanya berwajah ceria, sejak langkah kanannya memasuki surau tatapannya tajam, tanpa senyum. Melihat kami yang sudah berkumpul di ruang salat, dengan suara tegas Kak Awi menyuruh kami berkumpul di ruang mengaji.
Beberapa teman kecil yang tak menyadari perubahan Kak Awi masih bertingkah seperti biasa. Mencandai dan mengajaknya bicara. Namun Kakak yang berumur 23 tahun itu hanya diam dengan sorot mata yang masih saja tajam.
Setelah aku dan selurih tema berkumpul, Kak Awi dengan nada tinggi memberi perintah, "Semuanya lekas duduk!"
Saat itulah, semuanya menyadari ada hal yang tidak beres. Seketika keadaan pun hening. Tak seperti biasanya yang santai.
Setelah uluk salam. Kak Awi mulai mengeluarkan kemarahannya,"Siapa yang nyuruh pulang pas Rabu kemarin?"
Kamis, 09 April 2015
Tip Bersepeda Menaklukan Bromo 100 Km
"Hai Bro!" Taro menyapa Edi yang tengah bersepeda santai. Edi menoleh diiringi bunyi decit ban yang direm. "Ciye yang rajin latihan, denger-denger lu mau ikut event Cycling Bromo 100 km ya?"
Edi turun dari sepeda, dan menghampiri karibnya tersebut. "Iya, kurang dua hari lagi nih. Lumayan buat ngisi waktu liburan. Tapi gue bingung apa yang mau disiapin. Eh, bukannya lu atlit kecamatan, lu gak ikutan juga?"
"Enggak, gue lagi persiapan event propinsi bulan depan."
"Oalah. Eh joinan ya?" Edi mengambil secangkir kopi Taro yang tersaji di meja. "Lu ada tips khusus gak buat gue?"
Langganan:
Postingan (Atom)