Terkadang, aku merindukan masa-masa itu. Masa di mana hanya menggenggam satu hati. Namun, aku tahu ... masa lalu tetaplah masa lalu. Hanya untuk dikenang dan diambil hikmahnya. Bukan lagi untuk diratapi atau disesali. Karena hanya akan menyakiti hati dan membuang waktu. Dan cara terbaik untuk mengatasi hal itu adalah dengan menjadikannya tulisan yang menginspirasi.
Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Kamis, 22 Januari 2015
Nikmatnya Kesetiaan
Suatu hal yang aneh bagiku adalah ketika kata setia jauh lebih mudah dijalani daripada memilih. Karena terkadang aku malah bertanya pada diri sendiri, "Pantaskah aku memilih?". Di masa ketika aku memiliki sebuah hati yang bisa kujaga, kesetiaan adalah sebuah nikmat yang luar biasa. Kesetiaan yang mampu membuat pandanganku menunduk, sikapku terjaga. Tidak seperti sekarang yang seringnya mata ini jelalatan. Meski hanya berupa tengokan sesaat, tetap saja ada rasa sesal yang timbul setelahnya.
Lagu untukmu, Kekasih
Mata ini sudah akan terpejam ketika bayangmu muncul di langit-langit kamar. Terutama senyum yang setia menghiasi binar di wajahmu. Hingga membuatku bangkit dan menyerah dari lelap. Kuambil gitar dan mulai mengalunkan musik renyah dari band favoritku, Sheila On 7, Percayakan Padaku. Pada lirik yang kunyanyikan, ada harap di mana suatu hari aku akan halal menjadi sandaran mimpimu. Menjadi seseorang yang kamu percayai 'tuk mengiringimu meraih mimpi.
Rabu, 21 Januari 2015
10 Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kesuksesan Raditya Dika
Gak sengaja pas mampir ke rumah temen tadi, aku nonton Bang Raditya Dika di salah satu acara TV swasta. Di sana dibahas mengenai perjalanan karir Bang Raditya Dika. Dari seorang penulis hingga berbagai profesi di ranah hiburan. Dengan tampang yang bisa dibilang 'biasa' dia mampu memiliki jutaan penggemar. Bisa dilihat dari 'followers'nya yang sampai tulisan ini terbit, sudah ada sembilan jutaan.
Ketika tengah menonton tadi, aku terus berpikir. Apa yang menjadi kunci sukses Bang Radit. Dengan sedikit merenung dan banyak melamun, akhirnya aku menemukan beberapa hal, di antaranya :
1. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya. Sehingga dia mampu mengangkat hal yang sebenarnya sepele dan tak terhiraukan, menjadi terpaksa dipikirkan dan bikin kita terhibur sewaktu memikirkannya. Semisal iklan tori-tori atau rambutnya Andika Kangen Band di awal-awal boomingnya Stand-up Comedy.
2. Dia mampu mengubah kekurangan dan kelemahannya menjadi kelebihan. Coba tengok tweetnya yang sempat tayang di acara tadi, "@radityadika: Kenapa tiap kali gue niruin Syahrini maju mundur cantik jadinya malah maju mundur cebol?" kekurangannya malah terpakai untuk menghibur orang lain. Bahkan kisah sialnya saat mengetahui kalau buku "Kambing Jantan"nya ternyata habis diborong mamanya sendiri pun bisa jadi materi yang menghibur. Walau di sisi lain, kukira itu juga termasuk keberuntunganya. Karena aku menduga, setelah dibagi secara gratis ke beberapa orang, akhirnya banyak orang yang tertarik dengan tulisannya. Proses promosi dari mulut ke mulut pun terjadi. Dugaan itu muncul dari kisah sukses Pocari Sweat, yang dibagikan secara gratis.
3. Dia mampu mengangkat kisah hidupnya menjadi hal yang unik. Seperti kisah seorang lugu yang jatuh cinta, Jika di film-film lain kebanyakan hanya menjadi pelengkap cerita, Bang Raditya malah menjadikannya sentral cerita. Misal di film "Ada Apa Dengan Cinta", salah satu karakter culun hanya menjadi selingan. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak cowok-cowok remaja yang "berkelakuan" culun daripada yang "sok keren". Culun dalam artian, kalau ketemu cewek yang disukai, gugup - gugup gak jelas atau sok jaim. Contohnya aku. Eh.
4. "Just be yourself!" Itulah quote yang pas menurutku bisa kita cuplik dari kehidupan Bang Radit. Gak perlu sok keren yang jatuhnya malah norak. Semisal rambut dicat, tubuh ditatto, pakai tindik, ikut Geng Motor, sok minum-minuman keras, merokok atau hal-hal negatif lain yang biasanya "dianggep" sebagai hal keren oleh remaja, terutama pelajar. Kata Alamarhum Om Bob, "Bergayalah sesuai isi dompet."
5. Menjadi penulis itu keren. Bang Radit bisa munutupi tampangnya yang pas-pasan dengan kreatifitas segunung. Melalui tulisan-tulisannya, dia mampu menyihir berjuta pasang mata untuk mengidolakannya.
Langganan:
Postingan (Atom)


