Jumat, 07 Agustus 2020

Sejujurnya, Saya Ini Brengsek

Sudah lama sekali ingin menuliskan sebuah keresahan tentang betapa pengecutnya diriku, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Hingga akhirnya pagi ini sebuah status Whatsapp seorang kawan benar-benar membuatku tersindir. Ia anak muda yang kritis, tulisannya dimuat di mana-mana berbanding terbalik denganku yang tulisannya "mbulet" dan tidak ke mana-mana.

"Saya suka anak muda yang kritis, sekalipun kritikannya kurang berbobot bahkan nyaris salah daripada anak muda yang bijak tapi dia nggak kritis. Sudahlah yang muda nggak usah sok bijak, tugas anak muda sejatinya mendobrak pintu kejumudan. Bijak itu tugas orang tua."

Sebuah tulisan yang membuatku menyadari bahwa saya memang tidak kritis dan pengecut. 

Kamis, 16 Januari 2020

Aku Ingin Menulis Lagi dengan Riang Gembira

Dulu, aku bisa menulis apa saja dalam bentuk apa saja sesuka hatiku. Tapi beberapa waktu belakangan, semakin banyak aku membaca, semakin aku merasa tak punya apa-apa untuk ditulis. Mau menulis tentang Islam, sudah banyak yang lebih ahli bermunculan.

Beberapa waktu belakangan, aku juga mulai menjauhi dunia politik. Menjauhi hal-hal viral. Dan mencoba tak memikirkannya sama sekali. Namun, lingkungan seolah menarikku untuk membaca dan menghiraukan mereka.

Penulis di era digital harus selalu update isu terbaru. Berebut pembaca melalui kecepatan unggahan. Membuat tulisan-tulisan yang menarik. Sedangkan aku ... saat ini merasa lelah untuk itu.

Lalu benang takdir membawaku ke dalam pengasuhan seorang Tasaro GK. Melalui Klub Juru Cerita yang dibuatnya, aku dicekoki ilmu baru. Dasar jurnalistik. Aku mengenal hardnews, softnews, belajar lagi tentang 5W+1H. Lalu mengenal yang namanya news feature dan feature.

Ilmu baru itu membawaku pada sudut pandang kepenulisan yang baru. Membawaku pada metode penulisan yang baru. Aku menyebutnya sebuah metode tentang cara menulis suatu kejadian dengan pendekatan humanisme.

Walau begitu, lagi-lagi tanpa praktik, ilmu itu hanya akan menjadi pisau berkarat nan tumpul. Karenanya, aku berniat mengasah lagi dan lagi. Terlebih, aku iri ketika melihat teman-teman yang karir menulisnya seangkatan denganku telah berorbit ke lintasan berbagai media massa.

Yah, semua tahu bahwa masing-masing orang punya lini masanya sendiri. Namun, iri dalam hal kebaikan adalah hal yang dianjurkan. Apalagi di bawah pengasuhan seorang Tasaro aku mendapat secercah sudut pandang. Bahwa menulis tidak harus bertujuan untuk mengubah sudut pandang orang lain, namun kita bisa menulis untuk mewakili mereka yang sepemikiran tapi belum mampu mengungkapkan.

Menulis, sebuah jalan panjang yang terjal. Tanpa tekad dan niat, ia hanya akan menjadi imajinasi yang tak pernah mewujud. Pada titik ini, aku ingat bahwa aku punya mimpi untuk membumikan Al Qur`an. Mengubah kandungan satu ayatnya menjadi satu kisah hikmah. Maka, tak pernah ada kata terlambat untuk sebuah kebajikan. Yang ada hanya sesekali kita butuh mengatur napas, sedikit langkah mundur, untuk sebuah ancang-ancang dan melompat dengan gemilang.

AM. Hafs
Malang, 16 Januari 2020

Senin, 02 Desember 2019

Allah, Maaf Aku Hanya Ingat Engkau saat Susah

Allah, aku sedang tertawa. Menertawai nasib. Dan aku yakin Engkau tahu walau tanpa ku bercerita.
Allah, para alim berkata bahwa di surat At Tin Engkau berfirman bahwa Engkau menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Tapi aku malah sedang merasa menjadi satu produk gagal. Apa barangkali aku ini sebaik-baik produk gagal?
Allah, aku percaya dengan firman-Mu bahwa setiap orang diuji sesuai dengan kemampuannya. Tapi saat ini aku merasa sudah sangat lelah. Meski begitu, aku belum ingin pulang. Karenanya Ya Allah, berilah hamba kekuatan dan jalan keluar terbaik di setiap ujian yang Engkau berikan.
Allah ...

Anda pengunjung ke

Statistikku