Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Kamis, 16 Juni 2016
Puisi Kucing, Rindu, Cemburu
Kucing Abu
Duduk malumalu
di depan pintu
Mengharap kehadiran sosokmu
Meow meow meow
Wajahnya memelas
Mengharap terbukanya pintu
Menyajikan senyum manismu
Dan mungkin
segelas susu
Seperti hari-hari lalu
Meow meow meow
Kenapa hanya sunyi
Sang kucing kian menggerutu
Apa karena pesta malam lalu?
Hingga semua penghuni rumah lelah
Termasuk kamu?
Meow meow meow
Untuk kesekian kali
Kucing abu
mengharap kemunculan sosokmu
wajahnya sendu
Dipenuhi rindu
Kucing abu melangkah maju
berhenti mengeong
memilih ke tumpukan baju
di tempat sepatu
tempat ia biasa membaringkan tubuh
Suara mobil menderu
di depan rumahmu
Si abu bangkit
ia tersenyum
melihat sosokmu
hendak lari menyongsong
sebelum bersitatap denganku
matanya menatapku dengan cemburu
Melihatmu di gendonganku
Dengan gaun pengantin putih
Dan
sesabit lengkung senyum haru.
AM. Hafs
Singosari, 16 Juni 2016
Indahnya Petikan Sitar
Setelah satu paragraf di atas tertulis, rasa takutku mulai terkikis. jangan tanya ketakutan seperti apa. Karena aku sendiri juga tak dapat memastikan. Untungnya, dini hari menjelang waktu sahur ini, rasa rindu merangkai kata lebih besar daripada ketakutanku.
Di paragraf ketiga ini, aku mulai bingung harus menulis apa. Karena itu, aku akan kembali ke sitar. Alat musik yang satu ini seperti seorang pemimpin yang mampu menggiring dan mengiring bawahannya menjadi satu perpaduan indah. Dia adalah pembuka dan penutup untuk rangkaian lagu. Jika kalian tanya siapa wakilnya, maka dalam musik gambus ini aku memilih biola. Gesekannya benar-benar cantik. Sedang gendang posisikan saja sebagai penjaga gawang. Mumpung lagi musim euro dan copa amrica. Kenapa penjaga gawang? Sebab ia seperti bagian penting yang harus ada. Pelengkap yang tak hanya sekadar pelengkap. Entah kalian sebut apa. Heheu.
Kursor berkedip, seperti bertanya, aku hendak menceritakan apalagi. Sedang dalam paragraf sebelumnya saja aku telah membuka identitas sebagai orang yang tak terlalu paham musik, terutama gambus dan dengan seenaknya memosisikan alat musiknya. Kalau kata orang jawa, "Kodo" pakai "o" seperti pada kata "boleh", yang artinya tidak sopan, Tapi aku masih ingin menulis, tentang apa saja kecuali cinta. Agaknya, aku belum sanggup. Terlalu rumit. heheu.
Baiklah, sudahi saja. Sitar dan biola saat ini sedang berpadu mengiringi sang vokalis. Musik memang universal, bisa dinikmati walau tak dimengerti. Ah iya, kucantumkan satu judul lagu marawis yang enak didengarkan Galbi Niram dari Nizar Ali. Selamat mencari.
AM. Hafs
Singosari, 16 Juni 2016
Selasa, 24 Mei 2016
Sebagai Kakak
Sebagai kakak, aku merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada adikku. Apalagi jika mengenang masa kecil dulu, di mana aku sering sekali menyakitinya. Bahkan pernah menendang sampai hidungnya berdarah. Barangkali, kalau saat itu ia ditanya, "Siapa orang yang kamu benci di dunia ini?" Ia akan menjawab, "Kakakku."
Semenjak lulus SMA, aku mulai menyadari, betapa masa lalu kami sungguh buruk. Karena itu, aku mulai mencoba menebusnya. Sedikit hadiah di kala ulang tahun, sedikit uang jajan ketika gajian. Ah semuanya serba sedikit. Satu hal yang besar, mungkin hanyalah impian untuk menguliahkannya. Namun, alih-alih mewujudkan mimpi, semenjak ia bekerja, malah aku yang diberinya uang saku. Menyesakkan kadang-kadang. Padahal, aku merasa belum tuntas membayar rasa bersalah. Di sisi lain, aku juga masih berkutat dalam misi pribadi membenahi hidup. Membuatku bingung, mana hal yang harus lebih dulu kuprioritaskan. Di hadapan semua itu, aku terus memupuk keyakinan, bahwa bersama kesulitan, pasti ada kemudahan. Bahkan dua lipat kemudahan.
-AM. Hafs