Pada akhirnya, sekeras apapun aku menahan laju pena, ia
tetap mengusik pikiran. Barangkali, ia kesepian berada di balkon. Sehingga
dengan susah payah mengirimkan sinyal kerinduan kepada jemari. Lalu malam ini, dengan terpaksa aku menjemput dan
memeluknya.
"Selain jemari, kau pasti merindukan ini, bukan?"
bisikku sembari mengambil buku bersampul hitam. Pena nampak semringah. Lantas
mengirim sinyal ke otakku. Membuat jemariku menari bersamanya. Menulis apa saja
yang terlintas.
"Tak ada guna penyesalan tanpa kesungguhan untuk
berubah. Kau si pemalas, si plin-plan, tukang tidur, dan temperamen. Tidak
cukupkah teguran-teguran dari nurani yang telah kau terima? Tengok pula kertas
mimpi yang kau tulis dan telah terpajang bertahun lamanya. Sampai usang. Miris,
hanya satu saja yang masih tercoret.
Pun seharusnya, tulisan-tulisan lampau sok bijak yang
kaukhianati, menjadi teguran keras. Tapi tidak, kau seperti menikmati alur
kelam yang sama. Taubat yang hanya taubat sambal. Pedas, membuat lidah dan rongga mulut kepanasan, kesakitan tapi tetap kau cicipi dngan alasan nikmat dan ketagihan.