Selasa, 24 November 2015

Pena yang Bangkit Dari Hibernasi

Pada akhirnya, sekeras apapun aku menahan laju pena, ia tetap mengusik pikiran. Barangkali, ia kesepian berada di balkon. Sehingga dengan susah payah mengirimkan sinyal kerinduan kepada jemari. Lalu malam ini, dengan terpaksa aku menjemput dan memeluknya.

"Selain jemari, kau pasti merindukan ini, bukan?" bisikku sembari mengambil buku bersampul hitam. Pena nampak semringah. Lantas mengirim sinyal ke otakku. Membuat jemariku menari bersamanya. Menulis apa saja yang terlintas.

"Tak ada guna penyesalan tanpa kesungguhan untuk berubah. Kau si pemalas, si plin-plan, tukang tidur, dan temperamen. Tidak cukupkah teguran-teguran dari nurani yang telah kau terima? Tengok pula kertas mimpi yang kau tulis dan telah terpajang bertahun lamanya. Sampai usang. Miris, hanya satu saja yang masih tercoret.

Pun seharusnya, tulisan-tulisan lampau sok bijak yang kaukhianati, menjadi teguran keras. Tapi tidak, kau seperti menikmati alur kelam yang sama. Taubat yang hanya taubat sambal. Pedas, membuat lidah dan rongga mulut kepanasan, kesakitan tapi tetap kau cicipi dngan alasan nikmat dan ketagihan.

Senin, 23 November 2015

Terpidana yang Memimpikan ‘Madinah’

Setahun semenjak perhelatan pilpres, aku menggeluti profesi sebagai pembuat berita. Bukan, aku bukan wartawan.

Berawal dari kesulitan mencari kerja di masa pilpres. Aku, pengangguran tiga tahun lulusan SMK jurusan Multimedia, diajak bekerja oleh seorang teman. Ia menjadi salah satu tim sukses parpol peserta pilpres. Lelaki itu menawarkan gaji yang cukup tinggi, satu juta per minggu.

Agak ragu saat pertama mendengarnya. “Em-el-em, bukan?” selidikku suatu kali. Ia menjawab, bukan. Dijelaskan kemudian, kerjaku nanti hanya duduk mengawasi 3 set komputer sekaligus. Pokoknya cocok dengan ilmu yang kupelajari.

Aku mencoba berhati-hati. “Tak ada uang pendaftaran atau semacamnya, kan? Dan berapa jam dalam sehari?” cecarku yang hanya dijawab dengan lembaran kontrak kerja. Aku disuruh membaca, dan sesekali ia menjelaskan poin-poin yang membuat ketamakanku berliur. Tunjangan kesehatan, jaminan keamanan, liburan akhir tahun.

Setelah beberapa waktu menelusuri, aku sampai pada poin ‘berpengetahuan tentang berbagai agama’. Ketika kutanyakan, apakah itu keharusan? Ia menjawab singkat, “Santai saja semuanya bisa dipelajari.”

Rabu, 07 Oktober 2015

Duo Kampret Lagi Debat

"Gun." Di tengah keheningan beranda kos, Raka memecah keheningan.
 
"Apa?" Gunadi menjawab singkat. Tatapannya jauh ke langit yang mulai memerah.
 
"Ngomong-ngomong soal undangan ini ...."

"Napa?" Lelaki berwajah tirus itu menghela napas.
Raka membetulkan kacamatanya, "Tulisan ini." Dia tunjukkan kalimat salam dalam huruf alfabet yang tercetak Assalamu'alaikum Wr. Wb. "Yang disingkat bacanya gimana?"

Anda pengunjung ke

Statistikku