Setelah beberapa hari ini jemariku lincah berkhotbah di beranda facebook dan komunitas kepenulisan. Beberapa waktu setelahnya aku merenung. Menghisab cacat diri juga hati. Di samping untuk sebuah asa akan perbaikan, juga agar aku tak punya waktu menghitung cacat orang lain. Dari renungan itu, kuhasilkan beberapa patah-dua patah kalimat berikut.
Betapa bahagianya orang-orang yang bisa tuli dari pujian. Tak sepertiku, yang buncah ketika sebiji jempol menempel di karyaku. Padahal simbol jempol itu bisu dan absurd. Sebab suka tak berarti bagus.
Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Senin, 13 Juli 2015
Jauh dan Harap, Rindu
Jauh di wajah rembulan, aku menari-nari. Berharap di suatu malam kau memandangiku dan terhibur.
Jauh di lubuk hati, kumainkan gitar. Berharap antara nadiku dan nadimu saling berbisik lalu mengirimkan denting demi denting petikanku.
Kini, di pagi yang mulai membuka mata, aku berdansa dengan angin. Disaksikan telaga warna dan hamparan pasir putih. Berharap getar derap langkahku disampaikan bumi. Lalu menggelitik hatimu untuk turut berdansa di balik jarak dan waktu.
Ah aku ingat. pernah suatu malam aku nekat meloncati mimpi. Mengendap-endap memasuki mimpimu. Bersembunyi di balik pohon yang teduh di sana. Mengintipmu yang tengah bermimpi meniup dandellion, lalu mengamatinya hingga terbang jauh dan menghilang. Seolah kau tengah menitipkan pesan pada seseorang padanya.
Sebelum mentari terbit dan matamu terbuka. Aku kembali berjingkat-jingkat keluar dari mimpimu. Dan tatkala aku telah sampai di 'rumah', kudapati puluhan dandelion merebah di meja mimpi bertuliskan "Rindu".
Sekuat tenaga kutiup melalui jendela. Berharap mereka sampai sebelum senyum mentari sambangi pandanganmu. Setelah sebelumnya kuajari mereka tentang sebentuk kata, "Terima kasih."
AM. Hafs
Singosari, 13-07-15
Sabtu, 02 Mei 2015
Aku Menyebutnya, Kecenderungan
Terkadang ada hal-hal yang sebaiknya tak disampaikan. Karena hanya akan memperkeruh suasana. Bukan untuk dipendam, tapi menunggu saat yang tepat. Menunggu kepala dingin dan jernih, sehingga mampu memandang semuanya dengan lebih menyeluruh.
Terkadang ada hal-hal yang cukup diketahui orang terdekat saja. Karena biasanya mereka lebih mampu memberi masukan terlebih dahulu sebelum menjudge macam-macam. Bersyukur, aku dikaruniai sahabat-sahabat yang selalu melihat apa yang kukatakan dengan luas. Tak serta merta membelaku. Mereka tahu, terkadang ada hal-hal yang cukup didengar.
Terkadang aku malah heran dengan orang jauh, yang seolah tahu masalah menyeluruh. Tapi begitu memberi kesimpulan, mereka tenggelam dalam justifikasi dangkal. Dan lagi, orang-orang jauh itu ternyata cukup punya energi untuk mencampuri masalah. Bahkan tanpa diminta. Ketika melihat hal tersebut, cukup positif thinking saja, mungkin mereka terlalu bahagia atau tak punya masalah, sehingga repot-repot mengurusi masalah orang lain.
Terkadang, orang cenderung menghakimi sebelah mata. Ketika orang yang disukainya bermasalah, dibela mati-matian. Sedang ketika orang yang dibenci melakukan sedikit saja kesalahan, yang terlihat adalah nokta besar.
Pada akhirnya aku masih merasa, terkadang heran dengan sikap-sikap orang yang mengaku dewasa, tetapi kebingungan dan heboh ketika berhadapan dengan masalah. Padahal seharusnya mereka bercumbu dengan ketenangan dan kejernihan hati.
Ya, itulah, keterkadangan yang pada akhirnya kunamai kecenderungan.
AM. Hafs
Singosari, 02 Mei 2015
Terkadang ada hal-hal yang cukup diketahui orang terdekat saja. Karena biasanya mereka lebih mampu memberi masukan terlebih dahulu sebelum menjudge macam-macam. Bersyukur, aku dikaruniai sahabat-sahabat yang selalu melihat apa yang kukatakan dengan luas. Tak serta merta membelaku. Mereka tahu, terkadang ada hal-hal yang cukup didengar.
Terkadang aku malah heran dengan orang jauh, yang seolah tahu masalah menyeluruh. Tapi begitu memberi kesimpulan, mereka tenggelam dalam justifikasi dangkal. Dan lagi, orang-orang jauh itu ternyata cukup punya energi untuk mencampuri masalah. Bahkan tanpa diminta. Ketika melihat hal tersebut, cukup positif thinking saja, mungkin mereka terlalu bahagia atau tak punya masalah, sehingga repot-repot mengurusi masalah orang lain.
Terkadang, orang cenderung menghakimi sebelah mata. Ketika orang yang disukainya bermasalah, dibela mati-matian. Sedang ketika orang yang dibenci melakukan sedikit saja kesalahan, yang terlihat adalah nokta besar.
Pada akhirnya aku masih merasa, terkadang heran dengan sikap-sikap orang yang mengaku dewasa, tetapi kebingungan dan heboh ketika berhadapan dengan masalah. Padahal seharusnya mereka bercumbu dengan ketenangan dan kejernihan hati.
Ya, itulah, keterkadangan yang pada akhirnya kunamai kecenderungan.
AM. Hafs
Singosari, 02 Mei 2015
Langganan:
Postingan (Atom)