Senin, 06 Oktober 2014

Merayu Rembulan

Bulan, di ujung mana lelahmu bermuara? 
Sedang tatapku sedari tadi terpaku
Bahuku tegak menunggu
Bulan, di ujung mana senyummu berlabuh?
Sedang sedari tadi bibirku menyabit padamu.
Haruskah kutunjukkan?
Senyummu tlah terlukis
di hatiku
Agar kau siramkan dian itu ...
padaku?

~AM. Hafs
Malang, 1/10/'14

Lupa

Dinda, apa kabar? Bahagiakah dengan cinta barumu? Semoga saja iya. Agar kau tak jadi sepertiku, yang lupa cara mencintai.
Jujur, aku lupa jika cara mencintaiku adalah menjaga senyummu. Aku pun lupa kalau sebungkus coklat bisa kembangkan senyummu. Aku lupa jika kebodohan tingkahku mampu menggemakan tawamu. Aku lupa cara menuliskan surat cinta yang berkesan, seperti diikatkan dalam mawar plastik, dengan isi, "Cintaku akan terus ada hingga bunga ini layu." Sebuah trik yang kudapat dari buku cinta yang judulnya telah kulupa.
Dinda, sebagaimana cinta, aku juga lupa cara merindukanmu. Aku lupa pernah bicara pada bulan di kala rindu. Aku lupa cara menyapa angin malam di kala rindu. Dan aku juga lupa pernah memanjatkan dedoa agar Allah selalu menjagamu, di kala rindu.
~AM. Hafs
Singosari, 05 Oktober 2014

Secuil Rindu, Berderai Syukur

Dinda, langkah ketiga bulan Oktober. Tapi lakumu masih sendu. Ada apa gerangan? Apakah sedang merindu pada bebintang yang kesiangan, sama sepertiku? Jika iya, kenapa kita tak duduk berdua dan menantinya bersama, pagi ini? Kutunggu jawab senyummu di taman mimpi. Hadirlah sebelum bedug Jumat berbunyi.
Kanda, aku tak miliki rindu serupa rindumu, yang mendayu. Bukan pula menanti bintang kesiangan di ujung malam. Aku hanya tengah merenungi waktu. Betapa hitamku semakin pekat. Tidakkah Kanda tatap bulan separuh tadi malam? Seperti itulah kiranya dosaku dibanding amalku. Langit pekat berbanding bulan separuh. Bagaimana aku sempat merasakan rindu? Namun, jika memang rindu ... bisa jadi aku tengah merindu pada pengampunan. Agar segera langitku dijadikan-Nya fajar, lalu cerah membiru.
Kanda, mengenai pertemuan yang kau tawarkan. Aku tak sanggup penuhi. Karena tak mungkin rasanya bagiku untuk menjangkau mimpi indah, sedang hitamku masih belum berhenti menghantui. Baik di pejam atau sadarku.
Dinda, aku tak mampu berkata, lagi. Maaf, aku hanya mampu menerjemahkan kilat netramu. Tidak dengan isi kalbumu.
Dinda, aku tertunduk malu oleh semua renungmu. Hati ini terbutakan rindu, hingga tak mampu melihat sedemikian jauh. Hitamku pun pasti lebih luas dari hitammu. Namun ... aku yakin, pengampunan-Nya lebih luas dari langit dan seisinya.
Kanda, pengampunan-Nya memang luas, tapi tak lantas kita berleha, bukan? Jika tadi kau mengajakku ke taman mimpi, bagaimana jika kau temani saja sujudku pagi ini? Berdiri di sajadah yang tergelar di depanku. Menuntunku hingga salam dan bersama kita langitkan doa-doa, mengemis pengampunan-Nya?
Dinda, syukurku kepada-Nya atas hadirmu di hidupku. Linangan yang menganak sungai di pipi ini ... semoga menjadi saksi kelak kita di hari penentuan atas taubatku pada-Nya.
~AM. Hafs
Malang, 03 Oktober 2014

Anda pengunjung ke

Statistikku