Rabu, 20 Agustus 2014

Duhai Kupu Perawan

Oleh : AM. Hafs

Purnama menangis darah
Derik penjelajah malam menghujat bedebah
Tampak Kupu perawan terbang tertatih
Tercabik hari, terlelah
Batin retak merintih

Renungan Pagi Bersama Emak.

Shubuh, hari pertama kepulangan Arya dari pesantren. Emak masih tetap sama. Berjualan kue.

"Le, apa yang kau dapatkan hingga pagi ini?"
Di tengah kegiatan menyiapkan kue, Emak tetiba melontarkan pertanyaan pada sulungnya.

Embun Pengantin Baru

"Kakanda, embun pagi ini terlihat begitu ceria." Senyum yang terbungkus jilbab merah mudanya mengembang.

"Eh? Tahu dari mana?" tanyaku menyelidik.

Tak langsung menjawab, netranya masih terlihat lapar, melahap pesona bunga yang mekar di taman depan gubug sederhana kami.

Anda pengunjung ke

Statistikku