Oleh : AM. Hafs
Di antara riak-riak yang terpanah dan mati
Di antara gerik yang beralun dan terhenti
Ada sunyi ...
Di antara sunyi yang terlampau pedih
Di antara hitam yang terlampau pekat
Ada sesal menunggu bait terakhir pada tujuan yang kadang lenyap
Di antara sesal yang lenyap dan tak kembali
Di antara pekat yang berlari bersama angin musim semi
Ada harap penunggu nafas dan kaki yang melangkah
Di antara langkah yang berlalu
Di antara setapak yang bertalu
Ada riak yang terus menjadi misteri
Dan di sinilah kini ku berdiri
Pada bait tak berujung
Seperti roda kehidupan yang kan terus berputar
Suci bersama hujan
Atau membusuk bersama gugur dedaunan
Malang, 25/06/2014
AM. Hafs
Mencoba membaca tiap cermin jiwa yang hadir, dan merangkainya menjadi tutur indah nan menggugah.
Rabu, 25 Juni 2014
Bukan I Love You Tapi Qobiltu.
Ketika tengah menjelajah beranda facebook, aku menemukan sebuah quote yang tertulis, "Kalau Tuhan maunya kamu sama aku, pacarmu bisa apa?"
Supaya lebih islami, muncullah ide untu menggantinya menajdi, "Kalau Allah maunya kamu sama aku, dunia bisa apa?"
Diakui atau tidak, dipercaya atau tidak, tetap hanyalah Allah yang Maha Tahu terhadap segala sesuatu, termasuk jodoh. Karena itu, hanya pada-Nya pulalah seharusnya semua harap berlabuh. Sedang berharap pada makhluk itu sia-sia. Banyak di antaranya yang memiliki bibit kemunafikan. Perhatikan ketika berkata-kata. Pagi kedelai, siang tempe. Sebab itu, perlulah kiranya untuk menyelami dan merenungi kembali kejadian di sekitar. Tengok saja, berapa pasangan yang dengan berderai air mata mengatakan, "Aku mencintaimu selamanya." atau "Tak ingin kehilangan si dia." pada akhirnya, besok, lusa, seminggu, sebulan atau beberapa tahun lagi ternyata sudah ganti hati karena keseringan makan hati.
Maka dari itu, yang sekarang bilang, "Aku bersyukur telah menjadi pelengkap agamamu." itulah yang harus dijaga, sepenuh hati.
Jadi, bukan 'I love you' yang menjadi awal sebuah kisah, tapi 'Qobiltu'.
#Meracau
AM. Hafs
Hikmah Mencintai dan Menjadikannya Cinta pada Allah.
Kukabarkan pada para pecinta.
Pernahkah kalian merasa berbahagia kala mendapat sms dari si dia. Dan dengan segera mungkin ingin membalasnya?
Perhatikan, begitu pula lah seharusnya saat kita mendengar azan. Bersegera pula harusnya kita menghampiri.
Pernahkah kalian merasa takut membuat orang yang kalian cintai kecewa? Dan khawatir kalian akan dijauhi?
Langganan:
Postingan (Atom)
